Keahlian menangkap peluang

Menelaah bagaimana para pemain basket menyikapi “umpan” bola yang potensial menambah “point”, Jhon C Maxwell menyimpulkan tipe pemain menjadi tiga (dalam: The Law of teamwork: 2001). Tipe pertama, pemain yang tidak mau menangkap bola sebagai peluang untuk dimasukkan ke keranjang lawan. Tipe kedua, pemain yang mau menangkap umpan tetapi tidak melakukan usaha untuk meraihnya atau pemain yang lebih banyak mengandaikan. Tipe ketiga, pemain yang menginginkan bola, menyambut umpan dan segera bertindak untuk memasukkan bola ke keranjang. Tipe ketiga inilah yang pantas disebut pemain yang sukses menangkap peluang.
Kesimpulan tersebut sebenarnya bisa mencerminkan diri kita menghadapi peluang kemajuan di bidang apapun dan dalam skala apapun. Anda bisa menggambarkan peluang seperti bola di lapangan di mana satu bola direbut oleh sekian banyak pemain.

Tidak Mau
Ada bagian dari diri kita yang tidak mau menangkap tawaran peluang kemajuan meskipun tidak memerlukan biaya alias gratis. Bagi karyawan di kantor rasanya tidak masuk akal kalau tidak bisa menggunakan mesin ketik atau komputer sesuai kebutuhan kecil-kecilan atau bentuk job skill lain yang tidak butuh gelar atau biaya training. Sebab, selain gratis juga terbuka kesempatan belajar dengan kawan atau rekan asalkan mau menciptakan peluang belajar.
Kenyataan hidup lebih sering mengajarkan, bukan peluang yang menciptakan kemauan tetapi kemauanlah yang menciptakan peluang. Bahkan, bukan bakat yang menciptakan kemauan tetapi kemauan yang akan menunjukkan bakat (baca: keunggulan-diri).  Kalau ini kita balik, maka peluang itu seperti dikatakan pepatah: “Bagaikan hari raya yang hanya terjadi sekali atau dua kali dalam satu tahun”.

Tidak Melakukan
Tipe kedua ini sudah mau menginginkan sesuatu tetapi sayangnya tidak melakukan (bertindak). Meskipun untuk mendapatkan sesuatu tidak akan cukup hanya dengan menginginkan (mau) tetapi secara strata alamiah tipe ini sudah berada di tangga yang lebih atas ketimbang tipe pertama. Di tangga ini, eksplorasi pengetahuan sudah bisa berbicara mengenai tindakan atau terapi yang bisa diberikan ketika orang sudah menginginkan tetapi belum melakukan.
Menurut temuan pengetahuan, ketika orang sudah mau tetapi belum/tidak bertindak, maka dipastikan ada yang salah dengan teori hidup yang mengontrolnya. Kenapa dialamatkan kepada teori? Bukankah teori tidak menghasilkan apa-apa dan pantas dilecehkan? Teori hidup yang dimaksudkan di sini adalah konsep, ide, gagasan atau muatan program mindset yang beragam namanya.

Disadari atau tidak, sebagian besar dari tindakan yang kita lakukan atau kalimat yang kita ucapkan ternyata bukan milik kita murni melainkan milik seseorang yang membawa pikiran, perasaan dan keyakinan kita. Kita menjalankan apa yang sudah diteorikan tradisi, hukum, prosedur, sistem, pengetahuan, dll.
Sayangnya, kita sudah salah-kaprah dengan kata teori. Hasil diognasis yang sudah ditemukan oleh pengetahuan adalah ketidakjelasan/ketidaktahuan tentang apa yang benar-benar diinginkan. Ketidakjelasan inilah yang sering membuat orang malas.

Rasa malas terjadi karena tombol will power yang belum diaktifkan oleh pikiran (mind). Pikiran tidak akan mau bekerja kalau perintahnya tidak jelas. Oleh karena itu pengetahuan menyarankan agar Anda merumuskan tujuan dengan jelas. Contoh riil adalah orang yang sudah merasakan hasil pekerjaannya. Mereka tidak membutuhkan energi tetapi energilah yang mengundangnya. Seorang pengusaha yang sudah merasakan untung usahanya bisa masuk kantor lebih pagi dari karyawannya dan pulang lebih sore.
Pendek kata, ketika Anda sudah menginginkan peluang kemajuan tetapi kok masih belum mau melakukan dengan mengambil START, cobalah membongkar teori apa yang masih belum bekerja di dalam diri Anda. “Jika Anda tahu apa yang harus Anda lakukan maka Anda akan mau/mampu melakukan apa yang Anda tahu,” kata Maxwell.

Mau & Bertindak
Menurut Maxwell, seseorang bisa masuk ke dalam tahapan ini jika ia memiliki sembilan karakteristik sebagai berikut:
1. Memiliki ketajaman intuisi karena sering melihat ke dalam dirinya (lookin within).
2. Memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan orang lain untuk memperluas jaringan kerja.
3. Memiliki daya dorong dari dalam ke luar (self-motivated).
4. Cakap menggunakan bakat yang dimiliki.
5. Kaya prakarsa untuk maju (inisiatif).
6. Bisa mengolah apa yang lama menjadi baru atau menemukan sesuatu yang baru.
7. Punya kebiasaan maju tanpa menunggu orang lain atau karena ditunggu orang lain, tetapi murni tanggung jawab.
8. Memiliki mentalitas memberi (giving).
9. Tidak cukup hanya memiliki gagasan kemajuan sebatas human talk tetapi melakukan dengan komitmen sehingga punya vibrasi bukan hanya kepada dirinya tetapi juga orang lain.

Watak Peluang
Mengamati kebiasaan hidup yang bekerja, di mana ada sebagian orang yang bisa  meraih peluang dan ada yang belum meraih peluang, maka di antara watak yang bisa kita pelajari dari apa yang dinamakan sebagai peluang adalah:

1. Tersembunyi
Watak ini sudah sesuai dengan Hukum Esensi & Simbol. Semua esensi disembunyikan oleh simbol fisik yang tampak di permukan. Semua orang bisa dengan mudah menyentuh simbol fisik permukaan tetapi hanya sedikit yang dapat menembus esensi karena tersembunyi. Ibarat buah, tanpa ada usaha mengupas kulit, maka esensi tidak kita dapatkan. Dengan analogi ini maka klop jika intuisi merupakan alat menemukan peluang paling pertama.
Mengingat watak peluang yang tersembunyi inilah maka orang menyebutnya dengan istlah “the moment of AHA” yang tertutup oleh dedaunan “the moment of ADUUUUH”. Seberapa banyak orang bisa menemukan intisari yang tersembunyi di dalam dirinya, sejumlah itulah peluang yang akan di dapat. Ikut-ikutan meskipun terkadang mendapatkan peluang tetapi tidak pernah menjadikan orang sebagai pemilik peluang.

2. Terbiasa
Peluang didapatkan bukan dari sesuatu yang luar biasa tetapi dari hal-hal biasa. Apa yang sering kelihatan dari jauh luar biasa adalah manifestasinya. Peluang bukan sebuah tanggapan atas proposal luar biasa yang Anda khayalkan ketika sedang nganggur tetapi ketika Anda sudah melakukan dan menulis proposal lalu mendapatkan tanggapan.
Watak ini sudah klop dengan Hukum Akumulasi. Tidak ada orang gagal hanya karena satu sebab melainkan karena akumulasi sekian pengabaian yang dilakukan lama dan sekian kali. Ketika kegagalan besar terjadi maka sebenarnya hanyalah manifestasi pengabaian. Pepatah menganjurkan jangan bertanya kepada orang yang gagal dengan pertanyaan mengapa dirinya gagal. Tetapi bertanyalah kepada orang sukses mengapa dirinya sukses. Apa rahasianya? Kesuksesan bagi orang sukses bukanlah sesuatu yang luar biasa tetapi hal yang biasa.
Demikian juga dengan peluang hidup. Selain menang lotre atau kuis, maka Anda harus menaati hukum akumulasi ini. Kesuksesan berinovasi (baca: peluang) adalah hasil dari evolusi terutama dari apa yang sudah biasa dilakukan dan diketahui (Incremental addition to already exist). Sayangnya watak kita seringkali adalah: “making great jump to extra-ordinary”.

3. Terdekat
Peluang umumnya muncul dari jarak yang paling dekat dengan diri Anda. Jarak yang maksudkan adalah sebab riil dalam bentuk kreasi mental atau kreasi fisik.
Peluang dengan kata lain adalah lanjutan dari apa yang pernah Anda rasakan, pikirkan, yakini dan lakukan. Watak ini sudah sesuai dengan hukum sebab-akibat (cause and effect).

Peluang & Teknologi
Sulit dipungkiri kalau dikatakan bahwa sebagian besar perubahan dunia eksternal diciptakan oleh temuan teknologi. Temuan tersebut telah banyak menolong orang dalam bentuk mempermudah, mempercepat penyelesaian pekerjaan dan menambah jumlah tawaran memilih. Tak heran kalau dikatakan, munculnya internet sebagai era berlimpahnya peluang gratis (the abundance of free). Banyak penyedia layanan gratis di internet seperti Yahoo, Hotmail, dan lain-lain.
Tetapi jangan lupa, kemajuan teknologi hanyalah menawarkan sesuatu dan oranglah yang akan menentukan. Perubahan teknologi dunia eksternal tanpa dibarengi dengan perubahan teknologi dunia internal (baca: perangkat yang ada di dalam diri kita sendiri) justru bisa menjadi faktor penghambat. Pengalaman emphiris sebagian besar CEO yang berhasil membuat transformasi perusahaan dari GOOD ke GREAT tidak ada yang menjadikan teknologi sebagai lima faktor teratas dari keberhasilannya (Jim Collin: 2001).

Mereka punya penyikapan tertentu yang bisa kita tiru terhadap teknologi. Pertama, mereka menggunakan teknologi secara selektif sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan who dan what they are. Bukan keinginan untuk bergaya atau ikut-ikutan. Kedua, mereka menguasai secara mendalam penggunaan teknologi yang sudah diseleksi tersebut.

Pembelajaran
Mengacu pada sembilan karakteristik orang yang menginginkan peluang dan mau merebutnya dan watak peluang yang dominan dalam kehidupan riil kita, maka pembelajaran yang diperlukan adalah memperkuat akar hidup pada nilai-nilai yang kita anut.

Tiga langkah berikut mungkin bisa Anda jadikan ajang pembelajaran hidup.

1. Akarkan aktivitas Anda pada kebutuhan
Lakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan riil/primer. Agar kebutuhan Anda bisa menjadi peluang maka letakkan kebutuhan sebagai tanggung jawab. Ada penyikapan terhadap kebutuhan yang kurang mendidik untuk menemukan peluang. Artinya kebutuhan dianggap sebagai beban yang menyiksa. Anak, istri/suami adalah beban yang harus ditanggung. Penyikapan seperti ini selain tidak mendidik, bisa membahayakan pola pikir apabila usaha kita tidak bisa memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu pilihlah penyikapan mental di mana kebutuhan adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk menciptakan cara dan substansi pemenuhan yang lebih berkualitas.  Untuk memilih pemahaman demikian pastilah tidak butuh gerakan fisik apalagi biaya.
2. Akarkan aktivitas Anda untuk mempersiapkan peluang
Hal ini tidak bisa dilakukan kalau Anda memilih postur diri sebagai pihak yang diintimidasi kebutuhan. Mempersiapkan peluang yang lebih baik bisa ditempuh dengan menciptakan cadangan untuk melakukan aktivitas yang menjadi bagian dari realisasi keinginan. Denga kata lain sisakan “ruang” di tengah kesibukan Anda memenuhi kebutuhan. Cara yang bisa Anda tempuh adalah memutar radio mindset hanya “tune ini” pada gelombang keinginan (the importants) lalu besarkan volumenya supaya tidak terganggu oleh suara-suara lain yang mengacaukan pikiran (the distraction).
3. Akarkan hidup Anda pada kelancaran aktivitas
Merealisasikan kebutuhan riil dan perjuangan meraih keinginan yang belum tercapai seringkali tidak bisa bebas tantangan. Bahkan kalau Anda lengah, tantangan itu bisa berubah menjadi penyimpangan (the problem). Kalau Anda masih lengah juga, penyimpangan itu akan membesar menjadi krisis (the crisis), seperti yang dialami oleh negara kita. Kalau sudah krisis tidak ada teori yang bisa menyelesaikan dengan benar kecuali hanya sebagiannya.
Kalau bisnis Anda hanya gagal, kegagalan itu adalah konsekuensi. Kalau sudah rugi, maka kerugian itu lampu kuning. Tidak ada masalah serius kalau kerugian itu bisa ditutup dengan resource yang Anda miliki atau pun dimiliki oleh teman Anda. Ketika kerugian besar menimpa sementara tidak ada resource apapun yang Anda miliki atau dimiliki orang lain yang Anda kenal untuk menutupi kerugian tersebut, sementara jatuh tempo tidak bisa ditawar lagi, maka siapa pun tidak ada yang berani mengatakan mudah.
Analogi demikian bisa dijadikan gambaran bahwa menciptakan peluang selain harus menuntut keberanian juga menuntut kehati-hatian dalam arti jangan sampai fokus dan konsentrasi kita menciptakan peluang diganggu oleh talang-diri yang bocor akibat pengabaian. Semoga bisa dijadikan acuan mengasah peluang.