Lebih Jauh tentang Format CV

Format curriculum vitae (CV) sangat penting untuk diketahui karena ini menjadi dasar/kerangka penulisan CV dan surat lamaran kerja yang efektif. Pada intinya ada 2 format CV, yakni CV kronologis dan CV fungsional. Ada pula penulisan CV yang menggunakan kombinasi dari CV kronologis dan CV fungsional. Format CV lainnya adalah CV Alternatif yang biasanya digunakan oleh mereka yang bergelut di bidang seni.

Masing-masing format memiliki kelebihan dan kekurangan. Pilihan format CV yang akan digunakan sangat tergantung pada pengalaman kerja, prestasi, pekerjaan yang diingini, dan beberapa faktor lainnya.

CV kronologis menekankan pada urutan masa bekerja. Penulisan riwayat kerja menggunakan susunan kronologi terbalik, yakni diawali dengan pekerjaan yang paling terakhir dijalani, kemudian mundur ke pengalaman kerja sebelumnya. Judul posisi/jabatan, nama perusahaan/kantor dan tahun bekerja dicantumkan sebagai sub-judul. Kemudian di bawahnya, diberi keterangan mengenai tugas-tugas yang dijalankan di perusahaan/kantor tersebut.

Pengembangan dari CV kronologis adalah CV performa, yakni yang dalam susunannya mencantumkan prestasi-prestasi yang pernah dicapai. CV kronologis dan performa sebaiknya digunakan oleh mereka yang ingin menekuni sektor pekerjaan yang sama, dan memiliki riwayat kerja yang konstan atau tidak banyak jeda/waktu kosong antar masa kerja.

Kedua format CV ini banyak digunakan karena format ini memuat informasi yang dikehendaki pihak pemberi kerja, seperti masa kerja. Selain itu, format ini lebih banyak dikenal orang karena pembuatannya yang mudah dan tidak terlalu membutuhkan strategi dan kreativitas sebagaimana format CV lainnya.

Karena di dalam CV kronologis dan performa dicantumkan tahun bekerja, hal ini bisa menonjolkan pengalaman bekerja di sebuah sektor pekerjaan. Hasilnya dapat menciptakan citra diri yang positif jika menunjukkan adanya peningkatan dari satu posisi ke posisi lainnya. Sebaliknya, CV kronologis dan performa bisa merugikan, terutama bagi mereka yang memiliki banyak jeda antar masa kerja yang mungkin disebabkan karena mengganggur, PHK, wirausaha, sakit, melahirkan dan membesarkan anak, dan lain-lain. Sebab dalam beberapa detik saja petugas penyeleksi/HRD langsung bisa melihat masa kerja yang pendek dalam CV, dan hal ini kerap membuat orang gagal seleksi dan tidak mendapat panggilan interview.

Format CV kronologis dan performa juga kurang menguntungkan mereka yang tidak memiliki banyak prestasi atau prestasi yang diraih tidak berhubungan dengan sektor pekerjaan yang ingin dilakukan, serta bagi mereka yang mempunyai judul posisi/jabatan yang sama terus-menerus meski sudah pindah ke berbagai perusahaan/kantor. Hal ini memberi kesan tidak adanya peningkatan kapasitas atau pengalaman kerja yang sangat sempit dan terbatas.

CV fungsional menekankan pada fungsi, kemampuan atau prestasi yang dimiliki seseorang sepanjang masa karirnya. Penulisan riwayat kerja yang mencantumkan posisi/jabatan, nama perusahaan dan masa kerja tidak diutamakan, bahkan seringkali dihilangkan. Sebagai gantinya, penulisannya menggunakan sub-judul sesuai keahlian atau prestasi yang dimiliki, kemudian di bawahnya diberi keterangan mengenai kemampuannya. Contohnya, untuk seorang yang bekerja sebagai Receptionist, bisa menggunakan sub-judul Front Office Management karena pada kenyataannya seorang resepsionis memang mengelola hal-hal yang berurusan dengan front-office (kantor depan).

Penggantian sub-judul posisi/jabatan dengan sub-judul keahlian mampu menonjolkan keahlian seseorang dan membuat judul posisi yang kurang menguntungkan tidak terlalu diperhatikan. Coba bandingkan kesan yang didapat dari penggunaan sub-judul Receptionist dengan Front Office Management. Karena itu, format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki judul posisi/jabatan yang kurang mengesankan namun memiliki keahlian.

CV fungsional juga memungkinkan seseorang untuk menonjolkan kemampuan kerja di masa lalu tanpa menyoroti tahun kerja. Dengan demikian format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki keahlian namun tidak didukung oleh masa kerja yang panjang di sebuah perusahaan/kantor karena sering berpindah-pindah tempat kerja, atau banyak jeda antar masa kerja yang mungkin disebabkan karena mengganggur, terkena PHK, wirausaha, sakit, melahirkan dan membesarkan anak, dan lain-lain. Selain itu, CV fungsional juga cocok bagi mereka yang ingin mengubah arah karir, serta bagi mereka yang memiliki pengalaman kerja yang bersifat sukarela atau tanpa bayaran.

Kekurangan dari format CV ini yaitu bila perusahaan/kantor terdahulu memiliki reputasi baik, maka hal itu tidak lekas terlihat di dalam CV. Untuk mengatasinya, hal itu dapat diungkapkan dalam surat lamaran kerja/surat pengantar. Format CV ini juga kurang cocok bagi mereka yang memiliki keahlian atau prestasi kerja yang terbatas. Sebenarnya kekurangan yang ada pada CV fungsional tidak terlalu berarti. Pada kenyataannya format CV ini cocok untuk digunakan sebagian besar pelamar kerja.

Kadangkala CV yang tampilan isinya mendekati garis tepi kertas terlihat sesak. Mungkin saja isinya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Di restoran yang berkualitas tinggi, makanan ditata agar tampilannya mencerminkan kelezatan rasanya. CV pun harus diatur dengan prinsip yang sama – tampilannya harus semenarik mungkin.

Kelihatannya memang tidak masuk akal bila seorang perekrut menilai Anda dari tampilan CV Anda dan bukan isinya. Isi CV tetap merupakan aspek terpenting, tapi aspek lainnya juga harus dicermati. Misalnya, ketika perekrut dihadapkan dengan enam atau tujuh ratus CV, dan setelah sekitar satu jam ia mendapatkan CV yang kacau-balau dan tampilannya tidak menarik, pastilah godaan untuk menyingkirkan CV tersebut sangat besar. Untuk apa menghabiskan waktu membaca CV yang semacam itu bila CV berikutnya jauh lebih menarik? Jangan biarkan jerih payah menyusun isi CV Anda menjadi sia-sia hanya karena tampilannya tidak menarik.

Ingat, jika CV Anda memberi kesan bahwa Anda menulisnya dengan sungguh-sungguh, CV Anda akan diluluskan ke tahap selanjutnya. Anda tentunya pernah mengalami hal serupa. Bila Anda melewati sebuah toko yang menampilkan barang yang tidak menarik di etalasenya, Anda mungkin tidak menyadari keberadaan toko tersebut. CV Anda adalah etalase yang menampilkan karir Anda. Jangan biarkan perekrut melewatinya begitu saja.

CV Anda adalah brosur yang berisi tentang profil Anda, bukan autobiografi Anda. Pernahkah Anda membaca brosur sebuah produk yang mencantumkan kelebihan dan kekurangan produk tersebut? Nah, sama halnya dengan brosur produk, CV Anda harus menunjukkan Anda patut diperhatikan. Tidak lebih, tidak kurang.

Tidak ada aturan pasti mengenai jumlah halaman. Tetapi biasanya minimal satu halaman bila Anda seorang Senior Executive, dua halaman bila bukan. Sebaiknya CV Anda tidak lebih dari empat halaman.

CV sering digunakan sebagai panduan wawancara. Fungsi ini sering tidak dihiraukan atau diremehkan oleh pelamar. Apabila CV menunjukkan kegagalan studi Anda, itulah yang dibicarakan saat wawancara. Karena itu, sebaiknya Anda hanya mencantumkan informasi positif, bukan negatif.

Andalah yang memegang kendali atas isi CV Anda. Jadi Anda Bebas menghilangkan beberapa informasi. Yang mana yang Anda hilangkan? Yang pasti hilangkan informasi negatif. Informasi negatif hanya cocok disebutkan saat wawancara ketika Anda mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan.

Misalnya, Anda dipecat lima tahun yang lalu karena Anda tidak setuju dengan atasan Anda, tetapi Anda memiliki karir yang sukses setelah itu, maka Anda tidak harus mencantumkan riwayat pemutusan kerja tersebut dalam CV Anda.

Saat ini masih ada orang yang berpikiran bahwa yang normal adalah bekerja di satu tempat sampai pensiun tiba. Mungkin pola pikir ini peninggalan beberapa dekade lalu, ketika sekali seseorang dipekerjakan sebuah perusahaan, berarti ia bisa bekerja di sana selamanya. Pada masa itu, berganti-ganti pekerjaan seperti yang sering dilakukan sekarang, dianggap tidak baik karena menandakan ketidakstabilan.

Karena ada orang yang berpandangan semacam ini, sebaiknya jika Anda sering berganti-ganti pekerjaan, surat lamaran kerja dan CV Anda tidak perlu mencantumkan alasan meninggalkan pekerjaan yang terdahulu. Ingat, Andalah yang memegang kendali, bukan calon atasan Anda. Lagipula, sebenarnya hanya ada empat alasan dasar mengapa seseorang ingin berganti kerja: prospek yang lebih baik, gaji yang lebih tinggi, pemindahan, atau pemecatan. Yang manapun alasan Anda, Anda tetap akan terlihat sebagai pekerja yang berisiko bagi perusahaan. Karenanya, lebih baik Anda menerangkan hal semacam ini saat wawancara kerja, itupun jika ditanya.

Surat lamaran kerja Anda sebaiknya ditujukan bagi orang yang akan membaca surat Anda. Karena itu nama orang itu harus dicantumkan. Cara seperti ini akan membuat surat Anda berbeda dengan tumpukan surat lainnya, sehingga ada kemungkinan mendapat perhatian khusus.

Selain itu, dengan mencatumkan nama orang yang Anda tuju pada surat lamaran, Anda menunjukkan kepada pembuat keputusan bahwa Anda punya inisiatif dan motivasi yang kuat untuk bekerja di perusahaan tersebut. Mengapa demikian? Karena untuk mendapatkan nama tersebut, Anda mungkin harus berusaha misalnya mencari melalui internet, menelepon perusahaan tersebut, datang ke perusahaan untuk melihat di laporan tahunannya atau usaha-usaha kreatif lainnya.

Karena itu, sebisa mungkin hindari “Dear Sir or Madam” atau “Yth. HRD” dan hal semacam ini. Kata-kata ini kesannya biasa, sementara untuk bersaing dengan ratusan pelamar, surat lamaran Anda harus luar biasa agar menonjol dari yang lain.