Mengukur Potensi Diri

LEMBARAN kertas itu sama putihnya dengan kertas-kertas lainnya, namun yang satu ini kerap kali dikeluhkan oleh para pencari kerja sebagai batu sandungan yang berat. Lembaran kertas tersebut berisi beragam soal yang menguji seluruh kemampuan pencari kerja, biasa disebut dengan psikotes.

Tidaklah heran kalau selesai mengikutinya akan terdengar berbagai macam komentar, ada yang menanggapi biasa saja dan optimis. Tetapi tidak sedikit yang megeluhkan pusing melihat banyaknya angka-angka, gambar dan kata-kata yang membingungkan.

Setelah menyeleksi surat lamaran kerja, maka rata-rata perusahaan besar melakukan pemilihan calon pegawainya dengan melakukan satu tes khusus. Tes ini merupakan sarana yang penting bagi perusahaan untuk memilih orang terbaik dari sekian banyak calon, sesuai dengan kriteria jabatan maupun tugas yang harus dilakukan bila diterima nanti.

Psikotes merupakan acuan dasar untuk pengembangan karier ke depan, apakah calon pegawai tadi bisa menunjang perkembangan perusahaan atau tidak. Hasilnya akan memberikan perusahaan satu bundel data yang lengkap tentang siapa calon pelamar tersebut. Tidak hanya karakter yang tampak dan kecerdasan, tetapi juga kepribadian, motivasi, sikap, dan cara bekerja.

Tidak seperti ujian di sekolah yang menilai kelulusan berdasarkan benar dan salah, maka pada psikotes faktor tersebut hanya merupakan satu bagian saja dari keseluruhan evaluasi. Peserta yang lolos biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan peta pengembangan sumber daya manusia perusahaan tersebut. Hal ini tampak jelas dari materi yang diujikan yaitu tingkat kecerdasan atau tes potensi akademik, perilaku, dan motivasi.

Jim Barrett dan Geoff Williams dalam bukunya Test Your Own Aptitude menyebutkan bahwa psikotes dilakukan untuk mengetahui potensi diri yang ada pada calon pekerja tersebut. Tes pertama adalah uji kemampuan, yang ditujukan untuk mengidentifikasikan pola pikir pelamar kerja dalam memahami dan memecahkan satu permasalahan dalam jangka waktu tertentu.

Setelah selesai tes kemampuan, ujian dilanjutkan dengan tes kepribadian atau perilaku. Bagi perusahaan tes ini berguna untuk mengetahui karakter, sehingga pertanyaan yang diajukan biasanya adalah tentang pemikiran pribadi, perasaan, dan cara bersikap.

Pada tes motivasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaan adalah data tentang cara pelamar kerja untuk membina dirinya bila menghadapi satu masalah yang pelik. Keteguhan dan tetap konstan dari waktu ke waktu dalam bertindak biasanya merupakan parameter yang dicari.

Oleh karena itu, trik mengerjakan soal-soal tes tersebut tidaklah sama dengan menjawab soal ujian di sekolah. Yang harus dikuasai ketika mengerjakan masalah kemampuan adalah cara berpikir cepat, tepat, teliti, dan benar. Sedangkan yang diperlukan saat menjawab masalah kepribadian dan motivasi adalah kejujuran. Apa yang dikemukakan itulah karakter Anda sebenarnya.

Hampir sama dengan menghadapi ujian sekolah, maka untuk psikotes perlu persiapan khusus.

Pertama, calon pekerja harus yakin bahwa posisi yang akan dimasuki sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Ini perlu karena membuat Andalebih percaya diri dan yakin.

Kedua adalah dengan beristirahat yang cukup, karena kerapkali kurang tidur membuat pikiran menjadi stres dan cepat cape. Otak yang tidak segar membuat hasil tes menjadi jelek, sehingga beristirahatlah satu atau dua hari agar kondisi fisik menjadi prima.

Ketiga, penting untuk diingat jangan menyontek jawaban. Isilah sesuai pilihan dan kemampuan Anda. Ada tes, seperti penjumlahan angka ke bawah yang tidak hanya mencari kebenaran jawaban, tetapi justru mementingkan konsistensi pengerjaan.

Keempat, banyak belajar mengenai cara berpikir dengan memakai logika yang praktis. Kemudian terakhir, baca petunjuk pengerjaan secara hati-hati dan pahami apa yang diperintahkan. Salah mengisi akan mempermudah perusahaan menyoret Anda dari daftar pelamar.