Kota Bengawan berbenah menuju Solo International Performing Arts

SIPAMENGAPA Solo dikenal sebagai Kota Budaya? Menjawab pertanyaan tersebut tentu haruslah menarik pula kompleksitas yang ada dalam dinamika kehidupan masyarakat pendukungnya. Sebab dari sanalah semuanya berawal dan dari sana pulalah sebutan itu kemudian terjaga.

Salah satu bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki kekuatan lebih dalam mendukung sebutan Kota Budaya adalah dinamika seni pertunjukannya (performing art). Kedahsyatan kekuatan itu bisa ditelusuri dari intensitas pergelaran yang menurut sejarah memang sudah sedemikian dinamis sejak masa lampau.
Menyebut seni pertunjukan, di Kota Solo tak sekadar ada. Namun dari kuantitasnya yang cukup beragam dengan mencakup berbagai wilayah kesenian, seni pertunjukan bahkan telah menjadi daya hidup dari masyarakatnya. Bisa dikatakan sudah sedemikian mengakar dalam kehidupan kota.

Bukti betapa dunia seni pertunjukan telah mengakar dalam kehidupan kota diantaranya tertengarai pada kehidupan kantong-kantong seni yang ada. Tidak hanya yang dikelola oleh lembaga pemerintah atau pun swasta, namun bahkan juga telah merambah dalam wilayah masyarakat yang mandiri.

Kondisi yang demikian tentu menjadi aset yang tak ternilai bagi Kota Solo terkait dengan sebutan Kota Budaya. Dan untuk lebih memaksimalkan energi-energi itu maka dibutuhkan semacam ‘’terminal’’ untuk menyatukan semangat yang sama. Termasuk dengan mencoba merelasikan dengan seni pertunjukan dari luar daerah bahkan dari mancanegara.

Solo International Porforming Art (SIPA) 2009, adalah jawaban dari penyatuan semangat antar seni pertunjukan tersebut. Sebuah event berskala internasional yang di antaranya akan menyatukan semangat masyarakat pendukung seni pertunjukan untuk kemudian bersama membumikan Kota Solo sebagai Kota Budaya. (aengaeng.com/pasarsolo.com)