Wisata Mahal Sepur Kluthuk Jaladara

SEPUR kluthuk Jaladara namanya. Inilah media wisata baru yang ditawarkan Pemerintah Kota Solo. Diresmikan Menteri Perhubungan (waktu itu) Jusman Syafi’i Djamal tanggal 27 September lalu, kereta uap dengan loko buatan Maschinenbau Chemnitz (Richard Hartmann) Jerman tahun 1896 ini didatangkan dari Museum Palagan Ambarawa.
Pada plat yang menempel di lokomotif tertulis Hohenzollern A.G fur Lokomotiv BAU Dusseldorf tahun 1927, ini tampaknya tak sesuai dengan klasifikasi dan tahun pembuatan lokomotif yang sebenarnya. Beberapa peminat kereta api tua yang bergabung dalam komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyebutkan, berdasarkan buku JJG Oegema, De Stroomtractie op Java en Sumatra, tipe dan tahun pembuatan lok C12 berasal dari seri SS418 bikinan tahun 1896.
Sementara itu dua gerbong wisata yaitu tipe CR 16 dan CC 44 mampu menampung sekitar 80 orang. Gerbong buatan tahun 1906 itu terdiri atas CR 16 dengan kursi memanjang di kedua sisi dan di tengah serta CR 44 dengan kursi yang berhadapan. Kayu jati menjadi bahan paling dominan yang digunakan dalam gerbong ini.
Sepur kluthuk rencananya akan beroperasi 2 kali semingu, setiap hari sabtu dan minggu dengan rute Stasiun Puwosari–Stasiun Kota Sangkrah yang berjarak kurang lebih 5 kilometer. Rute ini melewati Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo, dan kita akan singgah beberapa saat di beberapa tempat perhentian dalam satu trip pulang pergi, diantaranya adalah Kampung Laweyan, Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, Keraton, dan Gladak. Jika memungkinkan, kereta uap ini juga bisa dijalankan di luar jadwal tetap.

Sayang, harga harga tiket kereta kuno ini masih lumayan mahal, yaitu Rp.100.000 untuk sekali jalan. Bagi mereka yang mempunyai KTP Solo, harga memang lebih murah, yaitu Rp 30 ribu per orang. Tapi bagaimana untuk anak-anak yang nota bene belum mempunyai KTP?
Memang, biaya operasional kereta ini cukup tinggi. Untuk sekali jalan pulang pergi misalnya, membutuhkan sekitar tiga kubik kayu jati yang harganya mencapai Rp 3,2 juta. Padahal kapasitas dua gerbong yang disediakan hanya 80 penumpang. Dengan harga tiket setinggi itu, tentu kereta ini menjadi ekslusif karena hanya kalangan tertentu yang bisa menikmatinya.
Padahal, wisata kereta uap ini sekaligus untuk memperkenalkan Kota Surakarta. Perjalanan akan membelah kota budaya dan wisata Surakarta diatas jalur rel yang pertama kali dibuat oleh NIS (Nederlandsch Indië Spoor Maatschappig) tahun 1920, dengan jarak tempuh total 11,2 km dan diperkirakan memakan waktu sekitar 3 jam. Berbeda dengan wisata pemandangan alam yang ditawarkan Sondokoro atau pun Ambarawa, dari atas gerbong Jaladara ini wisatawan akan menyaksikan deretan toko, rumah-rumah, pasar swalayan, dan barangkali kemacetan lalu-lintas. (gna/aengaeng.com)

KERETA WISATA

1 Comment

  1. sepur kluthuk sekali jalan menggunakan tiga kubik kayu jati..
    hhmmmm berarti penebangan pohon massal dong kalau setiap hari dioperasikan..

Comments are closed.