Berebut Ayam Prabu Boko di Mondosio

RATUSAN Warga Pancot, Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu,Karanganyar, terlibat saling memperebutkan seekor ayam. tentu bukan ayam biasa. Sebab ayam tersebut dipercayai bisa mendatangkan berkah bagi Kehidupan. Dalam rebutan ini, tak jarang mereka sampai saling pukul. Inilah Mondosio, ritual Unik yang telah menjadi tradisi turun-menurun sejak ratusan tahun lalu. Mondosio ini juga diyakini sebagai di mana sukertaning jagad, atau musibah dunia, bisa dihilangkan.

mondosioMeski demikian, dalam ritual bersih desa ini selalu terlihat kegotong-royongan yang dilandasi rasa suka cita seluruh warga. Lihatlah antusiasme warga pancot dalam mempersiapkanpesta bersih desa yang digelar  setiap tujuh lapan sekali yang jatuh pada hari Selasa kliwonwuku Mondhosio.Tiga hari sebelum acara dimulai warga desa sudah mempersiapkan segalauborampe perlengkapan pesta.Dari persiapan hiburan pesta bersih desa hingga  menu makanan yang akan disajikan guna mendukung kemerihan Pesta Bersih desa Mondhosio.

Dalam ritual ini, ratusan Warga saling berebut ayam yang dilepaskan di atap pasar. Wargamenggunakan berbagai cara seperti memakai galah naik ke atap dan menggedor-gedor atap agar ayam lekas turun. Tak Jarang Warga terlibat baku hantam antar sesama kawan, saat ayamyang dikejar jatuh dari atap.

Mondosio aendiri Merupakan sebuah tradisi untuk memperingati hari lahir Desa Pancot, atauyang lebih dikenal dengan acara bersih desa. Ritual Mondoshio muncul dari cerita legenda yang hidup di desasetempat , yang mengisahkan bahwa Desa Pancot dikuasai oleh raksasa jahat  bernama Prabu Boko. Raksasa ini konon suka memangsa anak manusia. Hingga suatu hari datang seorang pangeran bernama Putut Tetuko. Sang pangeran inilah yang kemudian berhasil mengalahkan PrabuBoko, dalam sebuah pertempuran sengit. Putut Tetuko menghempaskan kepala si raksasa padasebuah batu hingga tewas. Batu ini kemudian dikenal sebagai Batu Gilang, dan hingga kinikeramatkan warga desa.

Air Tape

Perayaan Mondosio ini diawali dengan kirab reog dari gerbang desa, menuju situs Prabu Boko.Ribuan warga berjubal memenuhi sepanjang jalan desa, Untuk menyaksikan atraksi reog disepanjang jalan yang dilalui. Setelah kenong ditabuh juru kunci situs, para sesepuh desa punmenghentikan atraksi, untuk kemudian melakukan siraman air badek, atau tape, ke Batu Gilang yang berada di kompleks situs.

Air tape ini disiramkan ke sekitar situs, agar Prabu Boko tidak pernah mengamuk lagi. Lalukenong ditabuh Untuk kedua kali, menandai sebaran ayam. Begitu ayam dilepaskan, maka warga pun berebut untuk menangkapnya. Warga percaya, ayam mondosio akan mendatangkan berkah bagi siapa yang berhasil menangkap.

Menurut Kepala Dusun Pancot, Sulardiyanto, ayam ini sebagai bentuk syukur Warga. Merekapercaya jika meminta Sesuatu di depan Batu Gilang, maka permohonannya akan dikabulkan. Danjika permintaan dikabulkan, maka warga wajib melepaskan ayam ke atas atap Pasar Desa Pancot.(bre/aengaeng.com)

1 KOMENTAR

Comments are closed.