I Wayan Sadra: Musik Kita Didikte Industri!

Di dunia musik Indonesia, I Wayan Sadra dikenal sebagai musisi yang karya-karya musiknya sangat beragam dari yang  ingar bingar,  dinamis, hingga dalam bentuk ensemble musik meditative biasa disebut kontemporer.  Musiknya jauh melampaui batas-batas bermusik biasa, bahkan menembus sekat-sekat yang dibangun oleh sebuah instrumen. Tapi terlepas dari bentuknya, Sadra tetap berangkat dari khasanah rmusik lokal. Intensitasnya dalam menekuni wilayah eksperimen, terutama eksplorasi terhadap gamelan, telah membawa musisi kelahiran Banjar Kaliungu, Kaja, Denpasar, Bali, pada 1 Agustus 1953 itu memperoleh posisi terhormat dalam jajaran musisi Indonesia.

Sadra mengenal gamelan sejak masih anak-anak, karena hampir seluruh tetangganya adalah penabuh gamelan. Boleh dikata, setiap malam selalu terdengar suara gamelan di kampungnya. Persentuhan dengan suara gamelan yang terus menerus itulah yang membentuk kepekaan dirinya dalam bermusik.

“Ketika SMP, saya melatih orang-orang tua cara bermain gamelan di  desa tetangga di Kendran, Ubdud,” kenang Sadra di Wisma Seni, Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo, Jawa tengah.

Selepas SMP, Sadra belajar musik secara formal di Kokar (Konservatori Karawitan) Bali.  Ia membawakan karya musiknya pertama kali lewat ilustrasi musik untuk drama-tari “Dongeng dari Dirah”, karya koreografer Sardono W Kusumo, tahun 1974.  Pada tahun yang sama, bersama Sardono dan koreografer Hajar Satoto, ia pentas keliling Eropa selama empat bulan.

“Mas Don (Sardono W Kusumo) adalah orang yang membebaskan saya dari kungkungan kaca mata kuda. Sebelumnya saya selalu berpikir musik tardisional Bali itu yang paling sempurna. Mas Don membuka pikiran saya,” ujar dia.

Tak hanya Sardono, bakatnya juga mencengangkan  kritikus musik Suka Hardjana. Ia pun memberi Sadra kesempatan tampil pada Pekan Komponis Muda II 1980 di TIM Jakarta.  Lagi-lagi, Sdara yang kini dosen Instius Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu membuat penonton terbelalak. Saat itu, ia mengusung komposisi dari bunyi pecahan telur busuk yang dijatuhkan pada sebuah batu.

”Para kritikus musik bilang, musik saya tergolong musik ekstrim yang menentang arus musik modern,” tutur Sadra yang pernah menjadi kurator ajang Solo Internasional Ethnic Music (SIEM) trahun 2007.

Seusai pementasan, seorang pelopor seni di Solo, sekaligus Ketua Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) Solo, SD Humardani alias Gendon Humadani, menyebut musik Sadra tergolong art instalasi yang ketika itu sedang berkembang di Amerika.

“Pak Gendon kemudian meminta saya mengjar di ASKI. Saya penuhi permintaan itu dua tahun kemudian,” kata Sadra yang pernah tiga semester belajar seni rupa di LPKJ (Lembaga pendidikan Kesenian Jakarta, sekarang IKJ) tahun 1975.

Sejak tahun 1978 Sadra telah membuat karya musik untuk tari, teater, musikalisasi puisi, film kartun, instalasi senirupa serta konser tunggal yang telah dipentaskan di dalam dan luar negeri. Di Indonesia beberapa karyanya juga telah diterbitkan, di antaranya “Gender” atas dukungan  The Japan Foundation Jakarta, kemudian “Suita 42 Hari”, dan “Autis 4 J”. Dua judul  terakhir merupakan album yang digarap bersama Sonoseni Ensemble, sebuah kelompok musik yang dibentuknya tahun 1979.

Bagi sebagian besar orang komposisi musik Sadra mungkin aneh. Selain musik telur pecahnya itu misalnya, ia pernah membawa sapi ke atas panggung (”Borderless”, Komunitas Salihara Jakarta 2009). Sadra pernah pula memainkan bakiak atau teklek sebagai media bermusiknya dalam komposisi berjudul “Mulutmu Tong Sampah” (1995). Lewat penrtunjukanya yang “aneh” itu, Sadra ingin menegaskan bahwa bermusik dan menyusun komposisi bisa dilakukan dengan alat-alat yang umum dikenal.

“Mereka menyebutnya bukan musik yang populer.  Musik yang tidak banyak bisa dipahami,” ujar peraih penghargaan New Horizon Award tahun 1991 dari International Society for Arts, Sciences and Techonology, Berkeley, California, Amerika Serikat. Sadra adalah orang Asia pertama yang menerima penghargaan bergengsi di bidang musik itu. Ia dianggap sebagai miles stone, tonggak pencapaian musik kontemporer dunia.

Di tengah jalur bermusik yang populer sekarang ini, Sadra memang seperti tak peduli. Namun bukan berarti ia anti pop. Sonoseni Ensemble yang dipimpinnya misalnya, terdiri dari para musisi dengan latar belakang musikal beragam.   Ada pemain band, pengrawit (Jawa, Bali, Sunda), pesinden, keroncong, pemusik pop daerah Madura, Bugis, dan ada pula  mantan rocker.

Indonesia, menurut dia,  sesungguhnya memiliki tradisi yang lebih kaya dibanding negara lain. Namun musiknya menjadi miskin, karena hanya sedikit musisi yang berani menyajikan musik tradisi. Sadra mencontohkan kelompok musik The Coors dari Irlandia, yang membawakan lagu-lagu tradisional yang bernuansa Celtik. Musik The Coors ditunjang oleh klub malam, kafe atau tempat hiburan lainnya.

“Kalau kita mau menjadi bagian dari musik dunia, sesunguhnya gamelan itu salah satu modal kita. Tapi banyak musisi kita  yang malah meniru gaya bermusik orang lain. Jadi jangan heran kalau nusik pop Indonesia itu tidak ada bedanya dengan musik pop Barat, kecuali bahasanya,” kata musisi yang sedang menempuh program doktoral bidang musik di ISI Yogyakarta itu.

Sadra bisa memaklumi kecenderungan seperti itu, karena  sebagian besar pemusik sekarang ini  membuat musik semata-mata aspek komersial. Penyanyi dan grup band baru  datang pergi silih berganti. Mereka membawakan satu atau dua single untuk ring back tone ponsel, setelah itu hilang tergantikan pendatang baru lainnya.

“Konsep bermusik mereka itu fastfood, instant, karena pasar sangat memungkinkan untuk melakukan itu. Musik kita didikte industri untuk memenuhi selera pasar. Penyanyi atau band boleh berbeda, tapi yang terjadi musik yang dihasilkan seragam,” kata Sadra yang Oktober  mendatang menggelar konser di New Zeland bersama kelompoknya, Sonoseni Ensemble.

Padagal, menurut Sadra, tidak benar kalau musik yang ia mainkan sulit diterima masyarakat. Dalam beberapa pentasnya bersama Sonoseni Ensemble di kampung-kampung, penonton tetap bisa menikmati musiknya. Industri, lanjut dia, telah membuat stempel bahwa musik kontemporer sulit diterima penonton, karena “berat” sehingga  harus didengar dengan kening berkerut. Propaganda seperti itulah yang membuat musik Indonesia seragam.

Komposisi musik yang dibuat Sadra memang bukan sesuatu yang easy listening, meski kalau dinikmati benar bias sangat mengasyikkan. Namun, kata Sadra, politik  industri  memberikan persepsi yang salah. Mainstream industri  tidak pernah memberi pilihan dan melakukan eksperimen terhadap pasar.

“Seolah-olah pasar hanya mau dengan musik pop. Kalau kita meniru musik Barat, kita tidak akan pernah bisa melampaui mereka,” ujar Sadra yang ringgal di Perumahan Subur Makmur, Ngringo Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Penyeragaman oleh industri itulah, menurut Sadra, yang harus diimbangi dengan musik-musik alternatif. Di jalur alternative itulah Sonoseni tak kenal lelah bereksperimen.

“Kami tidak hanya mau pentas pada festival-festival dengan penonton eksklusif, tapi juga bermain musik dalam acara-acara resepsi pernikahan dengan kualitas permainan yang sama hebatnya,” ujar musisi yang pada Agustus mendatang menjadi kurator gelaran Solo City Jazz 2010.

Bersama Sonoseni Ensemble, Sadra sudah beberapa kali tampil dan berkolaborasi dengan musisi-musisi  Asia, Eropa, dan Amerika. Pada Juli-Agustus 1999, mereka tampil di Pacific Music Festival (Sapporo-Jepang) dan Weimar Kultur Stad Euro (Jerman), sedangkan  pada tahun 2000 di Compostella Millennium Festival (Spanyol). Pada Festival Internasional Art Summit Indonesia ke-4 tahun 2004, Sadra bersanding dengan Dieter Mack,  Ensamble SurPlus (Jerman) serta Tuhonohono, Gillian Whitehead dari Selandia Baru. Jam session para kampiun tersebut mengetengahkan drumer Afrika, Mor Thiam (Senegal) yang terkenal sebagai empu  kendang Afrika, jembe. Perkusionis India, Vikku Vinayakram yang piawai menepuk ghatam  ikut mengambil posisi bersama Choi Jong Sil  (Korea) yang menggunakan alat musik pukul logam kwenggati, Jin Hi Kim menepuk changgo sedangkan I Wayan Sadra  mengandalkan kendang Bali.

Sadra kembali tampil  bersama para master pada Festival Perkusi Sacred Rhythm: The Millennial Percussion for Unison yang berlangsung di di pelataran(wantilan) Pura Samuan Tiga, Ubud, Bali. Pada even tersebut Sadra melakukan jam session bersama  komposer asal Korea, Jin Hi Kim, dalam  kolaborasi apik bertajuk “Golden Dragon Bond Rite”. Sebelum kolaborasi,    Sadra  menampilkan komposisi yang disajikan lewat 10 gong dalam beragam ukuran, biola, seruling dan serompet Ponorogo yang difungsikan sebagai aksentuasi. Dengung gong yang dipukul dengan cara yang bervariasi menggunakan tangan terkepal maupun telapak tangan kiranya mampu menebar suasana magis. (Ganug Nugroho Adi)

One thought on “I Wayan Sadra: Musik Kita Didikte Industri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *