Tosa no Onagadori

Gold_Onagadori

Ayam ini diberi nama Onagadori. Pada jaman dahulu ayam ini disebut Nagaodori, namun kemudian nama yang berkembang hingga saat ini adalah Onagadori.

Onagadori berasal dari 3 kata yaitu o yang artinya ekor, naga yang artinya panjang, dan dori yang artinya unggas. Jadi Onagadori berarti unggas ekor panjang. Klasfikasi lengkap dalam standar Jepang disebut Tosa no Onagadori atau Long-tailed Fowl dari Tosa.

Onagadori adalah jenis ayam yang dikembangkan di Jepang selama masa feodal di wilayah Prefektur Tosa yang terisolasi di negara Jepang. Daerah subtropis ini sekarang lebih dikenal dengan nama Prefektur Kochi. Namun, gen yang memunculkan jenis ayam yang unik ini dipercaya jauh lebih tua serta terletak di luar daerah Jepang.

Pada sebuah penelitian di tahun 1990an yang di lakukan di sebuah universitas di Amerika menemukan bahwa mayoritas ayam yang asli di Jepang mengandung gen dari ayam hutan hijau dengan nama ilmiah Gallus varius.

Hal ini mengalahkan teori sebelumnya yang meyakini bahwa ayam domestik di Jepang merupakan keturunan ayam hutan merah dengan nama latin Gallus gallus.

Ayam bekisar keturunan hibrida hasil kawin silang dari ayam hutan hijau jantan dengan ayam hutan merah betina yang ada di Jawa, masih memegang kode gen untuk memproduksi ayam yang berekor panjang.

Betina hasil kawin silang cenderung steril, namun beberapa pejantan terkasuk subur. Ayam jantan yang subur dapat di silangkan lagi dengan ayam hutan merah untuk menghasilkan keturunan F2 yang subur serta masih membawa kode gen yang langka serta unik ini.

Onagadori

Perdagangan kuno di Jepang memasuki wilayah Cina dan Jawa. Ayam-ayam ini dijadikan pertukaran untuk berbagai rempah-rempah dan tekstil.

Diperkirakan selama abad ke 7 hingga ke 9 , para sarjana dan pedagang melakukan perjalanan ke Cina untuk mempelajari budaya. Di sana mereka mempelajari ayam ekor panjang dari Cina lalu membawanya ke Jepang dan di kembang biakkan di Jepang.

Ayam itulah yang akhirnya menjadi nenek moyang Shokoku. Nama Shokoku sendiri di ambil sebagai penghormatan tempat ayam-ayam itu berada di daratan Cina.

Kemudian mereka menyilangkan Shokoku dengan ayam Totenko yang sama-sama memegang kode gen ayam hutan hijau. Dan kemudian muncullah ayam yang di sebut Onagadori.

Ayam ini suka sekali menjelajahi area persawahan memakan katak, serangga, larva, serta beras. Makanannya tidak jauh berbeda dengan ayam hutan hijau. Kawin silang dengan ayam hutan merah dimaksudkan agar ayam-ayam itu nantinya memiliki kemampuan yang baik untuk mencerna biji-bijian. Sebab, hingga saat ini Onagadori yang murni masih belum dapat mentoleransi biji-bijian tertentu.

Leluhur pertama Onagadori tidak memiliki ekor yang panjang hingga mencapai beberapa meter panjangnya. Suasana feodal yang memicu untuk pertumbuhan ekor yang lebih panjang lagi.

onagadori

Bulu-bulu panjang yang indah itu diterima oleh para Daimyo atau tuan tanah sebagai bentuk pajak dari para penduduk desa di prefektur Tosa.

Bulu-bulu itu nantinya digunakan untuk menghias helm serta tombak maupun senjata para Daimyo yang menguasai daerah prefektur Tosa. Hal ini dimaksudkan agar Daimyo-Daimyo yang lain dapat lebih mudah mengenali perwakilan prefektur Tosa. Beberapa artefak tentang ini masih tersimpan dengan baik di museum Kochi.

Onagadori tidak dipelihara secara sembarangan seperti ayam-ayam yang lain. Terkadang Onagadori di keluarkan untuk sekedar berjemur kemudian malamnya di masukkan lagi ke dalam rumah.

Di dalam rumah dibuatkan kandang yang khusus untuk menjaga ekornya yang panjang. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga bulu-bulunya yang indahs erta menjaga ekornya agar tidak sampai tercabut.

Onagadori sendiri tidak terlalu terbiasa hidup di atas tanah seperti ayam-ayam kebanyakan. Mereka secara alami akan menghabiskan bertengger di tempat yang agak tinggi.

 

 

1 Comment

Comments are closed.