Berkah Hari Besar untuk Abdi Dalem Kraton

Wajah Nyi Lurah Muginah (67) terlihat sumringah (gembira). Uang sebesar Rp 178.400 itu digenggamnya erat-erat. Tangan kirinya menjinjing sebuah tas plastik berisi beras 2,5 kilogram, gula pasir, minyak goreng, biskuit,dan beberapa bungkus mi instan. Setengah sempoyongan ia membawa tubuhnya yang renta keluar dari kerumunan.

Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta antre menerima pembayaran gaji di Pendapa Untara Sana.
Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta antre menerima pembayaran gaji di Pendapa Untara Sana.
Abdi dalem meninggalkan Pendapa Untara Sana Kraton Surakarta setelah menerima gaji dan bingkisan lebaran.
Abdi dalem meninggalkan Pendapa Untara Sana Kraton Surakarta setelah menerima gaji dan bingkisan lebaran.
Selain gaji, para abdi dalem juga menerima bingkisan lebaran...
Selain gaji, para abdi dalem juga menerima bingkisan lebaran…
Bingkisan lain selain gaji antara lain beras 2,5 kilogram, gula pasir, minyak goreng, mi instan, dan biskuit.
Bingkisan lain selain gaji antara lain beras 2,5 kilogram, gula pasir, minyak goreng, mi instan, dan biskuit.
Abdi dalem meninggalkan Pendapa Untara Sana Kraton Surakarta setelah menerima gaji dan bingkisan lebaran.
Abdi dalem meninggalkan Pendapa Untara Sana Kraton Surakarta setelah menerima gaji dan bingkisan lebaran.
Begitu selesai menerima gaji, abdi dalem ini melanjutkan bekerja...
Begitu selesai menerima gaji, abdi dalem ini melanjutkan bekerja…
Abdi dalem menuju tempat kerja seusai menerima gaji.
Abdi dalem menuju tempat kerja seusai menerima gaji.

Di bawah pohon, abdi dalem berpangkat Lurah itu berhenti sejenak untuk  memasukkan uang dalam genggamamnnya ke balik kemben. Ia menyempatkan diri  mengusap  keringat di dahinya, sebelum  kembali berjalan menjauh dari pendapa Untara Sana Kraton Kasunanan Surakarta.

Nyi Lurah Muginah adalah satu di antara ratusan abdi dalem Kraton Surakarta yang tiap hari besar agaram, khususnya Lebaran, menerima gaji dan bingkisan dari kraton. Uang sebesar Rp 178.400 yang diterima Lurah Muginah itu merupakan gajinya sebagai abdi dalem selama dua bulan.

“Tidak banyak memang. Tapi lumayan pada lebaran kali ini saya bisa memberikan  fitrah kepada cucu,” katanya sambil tersenyum.

Terlambat 10 bulan

Abdi dalem yang sehari-hari bertugas menyiapkan sesaji di kraton ini sangat bersyukur gajinya bisa diterima menjelang lebaran setelah terlambat selama 10 bulan. Ia memang sudah lama menunggu-nunggu pembayaran gajinya itu.

“Dibayar dua bulan dulu, sisanya yang delapan bulan menunggu kalau kraton sudah punya uang,”  tambah Nyi Lurah Muginah.

Perempuan bercucu delapan ini sudah mengabdi di Kraton Surakarta selama lebih dari 25 tahun. Sebagai abdi dalem, ia menerima gaji sebesar Rp 89.200 per bulan. Di luar kraton, ia bekerja sebagai tukang pijat bayi.

“Kalau hanya dari gaji, untuk mencukup kebutuhan hidup sehari-hari ya pasti kurang. Tapi saya bekerja semata-mata untuk mengabdi ke kraton agar bisa ngalap berkah (mendapatkan berkah) kraton,” ujar dia.

Tidak hanya Nyi Lurah Muginah, kegembiraan juga tampak pada wajah Nyi Lurah  Sartinah (70) yang bertugas di Keputren.  Lebaran ini, ia menerima gaji dua bulannya sebesar Rp 168 ribu. Sejak beberapa bulan lalu ia  sudah menginginkan   gajinya turun. Ia nyaris hilang harapan karena hampir setahun gajinya tak kunjung dibayarkan.

“Anak ragil (bungsu) saya empat bulan lalu melahirkan. Uang ini akan saya belikan baju bayi untuk cucu saya itu. Alhamdulillah bisa gajian meski tidak utuh,” ujar perempuan bertubuh kurus itu.

Di luar profesinya sebagai abdi dalem kraton, Nyi Lurah Sartinah memang tidak mempunyai pekerjaan lain. Tubuhnya yang renta tidak memungkinkan lagi dirinya untuk bekerja.

“Kalau pas tidak tugas di kraton, sehari-hari ya hanya momong cucu  di rumah. Ada tiga cucu saya yang masih balita. Mereka lucu-lucu, membuat saya panjang umur,” katanya sambil terkekeh.

13 Juta untuk 72 Abdi Dalem

Mas Ngabehi Yono Hastono (51) memiliki cerita lain. Selain mengambil gajinya sendiri, abdi dalem yang bertugas sebagai juru kunci makam Kajoran, Klaten, ini jauh-jauh datang ke Solo juga mewakili abdi dalem lain yang bertugas di Kajoran.

“Kalau semuanya datang ke Solo biayanya mahal. Akhirnya diwakilkan saya. Meski jumlahnya tidak banyak, namun uang ini sangat berarti bagi kami,” ujar dia.

Ia menerima uang sebesar Rp 13.401.000 yang akan dibagikan kepada  72 abdi dalem, termasuk dirinya. Seusai menerima gaji, Mas Yoso Hastono dibantu rekannya sesama abdi dalem, Ki Lurah Sudiro, terlihat sibuk memindahkan tas-tas plastik berisi bingkisan lebaran ke atas mobil pikap. Tentang pikap ini, menurut dia, disewa dengan harga Rp 100 ribu yang dibayar secara patungan oleh para abdi dalem.

“Kalau tidak membawa pikap ya saya kerepotan mengangkut tas-tas ini,” ujar dia.

Menurut Pengageng Sasana Sewaka Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Moertiyah atau Gusti Moeng, kraton menghabiskan dana sekitar 200 juta untuk membayar dua bulan gaji  sebanyak 514 abdi dalem. Dana tersebut diperoleh kraton secara swadaya  dari  berbagai pemasukan, seperti  tiket masuk museum dan paket wisata kraton.

“Sejak tahun 2010 kraton hidup mandiri karena Pemkot Surakarta dan Provinsi  (Jawa Tengah) menghentikan dana hibahnya. Kalau gaji untuk abdi dalem terlambat ya jangan salahkan kraton, tapi salahkan pemerintah,” kata putri Raja Surakarta Paku Buwono (PB) XII ini.

Gusti Moeng tak membantah pembayaran gaji abdi dalem  merupakan kewajiban kraton. Namun sebagai pemangku wilayah, Pemkot Surakarta dan Pemprov juga berkewajiban membantu dana operasional kraton.

“Anggaran dari pemerintah sebenarnya ada, tapi sampai sekarang mandek.  Ya sudah, tidak diberikan ya tidak apa-apa. Kraton tidak mau ngemis (meminta-minta),” kata Gusti Moeng dengan nada tinggi.

Besarnya gaji abdi dalem beragam tergantung pangkat dan masa kerja. Untuk golongan pangkat rendah, yaitu mulai Lurah sampai Kanjeng Raden Aryo Tumenunggug (KRAT), menerima ganji antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per bulan.

Sedangkan untuk pangkat Kanjeng Raden Aryo (KRA) sampai pangkat tertinggi, yaitu Kanjeng Gusti (KG) yang biasa disebut sentono (keluarga dan kerabat keraton), besaran gaji mulai Rp 100 ribu sampai Rp 600 ribu per bulan sesuai masa pengabdian.

Sebelum kemelut perebutan kekuasaan di kraton memuncak, seluruh biaya operasional kraton termasuk  gaji  abdi dalem berasal dari APBD Kota Surakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Setiap tahun kraton mendapatkan bantuan Rp 1,2 milliar.

Dari jumlah ini, sekitar Rp 900 juta untuk membayar gaji sekitar 500 abdi dalem, kemudian sisanya untuk membiayai sembilan upacara adat keraton. Namun sejak tahun 2011 Pemkot Surakarta dan Pemprov Jawa Tengah menghentikan bantuan dengan alasan kondisi kraton yang tidak memungkinkan mengelola dana. Rekonsiliasi yang diharapkan bisa menyatukan kubu-kubu yang berseteru; Paku Buwono XIII Hangabehi, Panembahan Tedjowulan, dan kubu Guti Moeng- ternyata gagal total.

Sejak itu kondisi keuangan kraton selalu defisit. Pembayaan gaji abdi dalem bahkan terlambat sampai 10 bulan, dan Agustus tahun ini baru mampu membayar 2 bulan. Delapan bulan sisanya entah akan dibayar kapan. Namun, pihak kraton tetap percaya berkah kraton akan menyelesaikan semuanya.

Para abdi dalem sendiri tampaknya tidak pernah bertanya mengapa gaji mereka terlmbat dibayarkan. Namun tidak pernah menanyakan bukan berarti tidak menginginkan gaji itu.

“Saya hanya mbatin (bertanya dalam hati), kok hampir setahun gaji belum dibayarkan. Meski butuh, saya tidak berani bertanya apalagi berburuk sangka pada kraton. Bisa kualat,” kata  Raden Tumenggung (RT) Pujo Diyanto Dipuro (57), abdi dalem bagian ritual kraton.

Semata mengabdi

Umumnya abdi dalem mengabdi pada keraton secara turun-temurun. Selama ini, merekalah yang berperan besar dalam upaya pelestarian budaya kraton melalui keterlibatan mereka dalam upacara adat dan budaya kraton, seperti sekaten, gerebek Mulud, gerebeg Besar, Gerebeg Syawal, ritual Mahesa Lawung, dan kirab malam 1 Syuro.

Mereka semata-mata mengabdikan diri pada kraton tanpa  memikirkan besar-kecilnya imbalan. Para abdi dalem tahu kraton tidak akan pernah membuat mereka kaya, namun mereka sangat percaya kraton akan menghidupi.

“Mau digaji atau tidak itu tidak penting. Saya bangga menjadi abdi dalem. Pokoknya madhep manteb ngawula  (pasrah dan mantab mengabdi) kraton. Semua abdi dalem ya seperti itu,”kata Raden Tumenggung (RT) Suwitodipuro (85), abdi dalem bagian pecaosan (pelayanan).

Namun sepanjang hari itu, mislanya yang terjadi padaawal Agustus 2013, teras Untarasana Kraton Surakarta menyajikan pemandangan lain. Ratusan abdi dalem terus mengantre untuk menerima pembayaran gaji. Setengah tidak sabar mereka menyimak namanya dipanggil. Para abdi dalem  menunggu dari pagi sampai lewat tengah hari, di seberang sisi utara Bangsal Sasana Sewaka. (Ganug Nugroho Adi)