Batik Keris, salah satu ikon fenomenal batik tradisional Solo

Peragawati papan atas Indonesia, Dominique, tampil menutup peragaan busana Puspa Nusa memperingati 93 tahun Batik Keris
Peragawati papan atas Indonesia, Dominique, tampil menutup peragaan busana Puspa Nusa memperingati 93 tahun Batik Keris

Pernah mendengar nama Batik Keris? Ya, itulah salah satu ikon batik Solo. Jika ingin menyimak sejauh mana perjalanan dan hasil karya dari Batik Keris, mau tak mau kita perlu menengok  kilas balik perusahaan yang pada 2013 ini berusia 93 tahun, sebagaimana tercermin dari pergelaran desain busananya yang bertajuk Puspa Nusa.

Pergelaran deretan sejumlah masterpiece Batik Keris itu pernah digelar pada bulan kelima tahun ini di Diamond Convention Center, Hotel Dimanond, Solo, Jawa Tengah. Peragaan busana ini memang digelar untuk menandai 93 tahun usia perusahaan batik tradisional terbesar di Indonesia tersebut.


Menampilkan desain-desian simpel dan modern, saat itu para peraga mempertontonkan garis desain minimalis, tanpa banyak memainkan detail potongan serta tambahan aksesoris yang ekstrim. Dikemas dalam tema Puspa Nusa, fashion show menampilkan lima kategori busana, yaitu  profesional, collection, family, teenager, dan kids.

Catwalk panjang dibuka dengan Solo batik Carnival yang semarak. Delapan penari memasuki panggung dengan busana batik carnival yang warna-warni, besar, berumbai, dan menjulang hingga di atas kepala. Busana motif bunga memenuhi panjang cat walk, berlenggok dan menari dengan iringan musik yang rancak.

Kehadiran Solo Batik Carnival ini sekaligus menegaskan bahwa Puspa Nusa bukan sekadar peragaan busana, tetapi juga pergelaran seni dan budaya, terutama tari. Unsur-unsur budaya Jawa, Betawi, Bali, Papua, Eropa, dan Peranakan membalut rangkaian  busana yang ditampilkan tanpa meninggalkan ciri khas Batik Keris, yaitu penggunaan warna-warna alam dan warna-warna sogan khas batik Solo.

“Kami mencoba menyajikan seusatu yang berbeda. Lewat Puspa Nusa kami menampilkan  seni batik dan seni tari sebagai simbol bunga nusa dan bangsa,” kata Lina Tjokrosaputro, Komisaris Utama Batik Keris sebelum pergelaran.

Selepas Solo Batik Carnival, tampil busana batik klasik sogan dalam balutan tari kreasi baru yang dibawakan empat penari pria dan seorang penari wanita dengan kostum hitam-hitam. Para penari pria mengenakan ikat kepala, dibalut baju lengan panjang tempo dulu, celana beludru  sebatas lutut, dengan kain batik sogan yang menjuntai dari batas pinggang. Aksesoris berupa manik-manik, batu-batuan dan kristal lokal.

Wiru melambai

Sementara penari wanita memamerkan baju beludru tanpa lengan, dan kain dodot panjang penuh wiru (lipatan). Kain dodot adalah kain batik utuh tanpa potongan. Keindahan kain wiru ini akan semakin terlihat ketika pemakainya berjalan. Wiru akan melambai layaknya burung merak yang memamerkan keindahannya bulu-bulunya.

Nah, kemegahan kain batik terlihat dalam gerak dan tari yang mereka bawakan. Batik-batik sogan ini dipadukan dengan kain warna kuning dan orange yang menjadi ilustrasi tarian. Keindahan batik semakin terlihat dalam beberapa tarian.

Batavia Dancer mempertontonkan  tarian kontemporer Ilir-ilir lewat seorang penari wanita yang membawa kain sepanjang 6 meter dan dua penari pria yang membawa kain sepanjang 8 meter. Lalu iringan musik berubah rancak.  Belasan penari muncul membawakan tarian Puspa Warni Indonesia.

Tarian tradisional Minang, Jawa, Bali, dan Papua berkolaborasi menyajikan suguhan tari yang elok. Batik dipadukan dengan songket Minang, Dayak, dan Papua.  Dalam tarian-tarian yang dipentaskan ini betapa batik mengalami eksplorasi dan bahkan evolusi yang luar biasa. Batik bukan lagi sekadar busana tradisional Jawa.

“Kami harus terus menerus melakukan pembaruan, menerima unsur dari berbagai daerah dan menajdikannya sebuah desain.  Filosofi Batik Keris adalah melestarikan budaya Nusantara, budaya Indonersia  secara keseluruhan,” tambah Lina.

Selanjutnya kategori Profesional menampilkan koleksi busana batik formal untuk ke kantor atau acara-acara resmi. Dalam kategori ini, busana yang ditampilkan terlihat simpel, baik desain, warna, maupun potongan. Beberapa yang ditampilkan antara lain mini dress berpotongan lurus, setelan blouse dan rok, dress aksen tumpuk dengan warna-warna hijau, cokelat, merah tanah bergradasi. Ada juga aksesoris sederhana seperti tas dan bando  untuk mempercantik penampilan.

Dalam dalam kategori ini muncul permainan warna dan motif yang tidak biasa. Misalnya   warna merah yang ditabrakkan dengan warna biru, atau atasan batik yang dipadukan dengan dalaman atau bawahan polos. Ada juga motif-motif besar seperti ceplokan yang disandingkan dengan motif kecil-kecil semacam truntum.

Busana pada kategori ini memang bermotif klasik, seperti Sekar Jagad, Alas-alasan, Kembang Tanjung, Kawung Kecik dan sebagainya. Namun berbeda dengan batik klasik sogan yang menggunakan latar putih dan latar ireng (hitam), warna-warna  pada sesi Profesi cenderung lebih gelap seperti hijau, ungu, dan biru tua. Batik pada kain-kain yang dipamerkan ini menggunakan dengan teknik cap dan kombinasi tulis-cap.

Produksi terbatas

Pada kategori Collection ditampilkan koleksi busana berbahan sutera kualitas premium yang diproduksi secara terbatas. Untuk membuat produk handmade  ini dibutuhkan waktu antara satu sampai dua bulan per potong. Blouse mullet motif truntum, dress asimetris, atau pun rok pas badan bahan sutra yang ditampilkan ini terllihat lebih mewah dengan aksesoris payet.

Warna dan desain koleksi untuk busana terlihat lebih variatif. Beberapa di antaranya adalah gaun terusan warna coklat tua motif truntum yang dipercantik dengan aksen warna biru di bagian leher. Ada juga baju terusan sifon yang diperlakukan sebagai luaran dengan aksesoris ikat pinggang serut sebagai pengikat yang dipadu dengan baju dalaman warna lebih tua. Koleksi juga menampilkan  gaun warna kuning kunyit berlengan belah dengan tambahan aksen pada bagian leher dan pinggang. Kombinasi warna coklat, biru, dan kuning memberi kesan keanggunan yang sederhana.

Menurut Lina, harga koleksi batik sutra ini ditawarkan antara Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Sedangkan harga untuk batik katun mulai  Rp200 ribu.

“Di luar peragaan busana ini, kami masih punya koleksi batik sutra secara utuh, tanpa dipotong, drapery dari bahan sutra dengan tarikan Jawa, Peranakan dan Eropa. Busana yang di catwalk ini sekadar contoh,” tambah Lina.

Batik casual terlihat pada sesi Teenager. Permainan warna cerah permainan kontras mendominasi sesi ini. Inilah batik gaya anak muda. Blus dengan potongan sederhana dan motif batik modern bisa sangat serasi dipadukan dengan jeans maupun hot pants. Warna-warna cerah seperti pink, turquoise, oranye, kuning, dan merah menyala banyak terlihat pada kategori ini. Munculnya para peraga yang membawa sepeda onthel di lantai catwalk seperti ingin menegaskan kesan busana batik yang santai dan simpel untuk anak muda.

Desain Familiy diperuntukkan khusus untuk keluarga; ayah, ibu, dan anak. Warna-warna tanah dan motif floral mendominasi koleksi ini. Menariknya, pada kategori ini busana yang ditampilkan tidak harus sarimbit (seragam). Motif batik yang yang dikenakan si ayah tidak harus  sama dengan yang dikenakan ibu dan anak-anaknya. Warna juga berbeda, meski tak terlalu berjauhan. Misalnya kuning kunyit dengan orange, atau coklat muda dengan orange pastel.

Pada bagian Kids, anak-anak berusia lima sampai enam tahun tampil memadukan motif batik warna cerah dengan gambar sejumlah tokoh Disney, dan floral. Tahun 2012 lalu, motif-motif ini mendapat penghargaan dari The Asian Licensing Award sebagai Best License se-Asia. Motif Disneyland  merupakan kolaborasi Batik Keris dengan Disney International.

Pergelaran tidak berhenti setelah semua kategori muncul. Selepas anak–anak mempergakan busana mereka, muncul seorang penari perempuan yang mengenakan pakaian Bali bersama empat pria dengan busana atasan songket. Bawahan busana mereka celana biru polos, dengan tambahan kain ikat di pinggang. Kain tambahan memamerkan batik Minang.

Sementara penari perempuan mengenakan kebaya ketat lengan panjang dengan bawahan kain merah model klok batik emas dengan tambahan rumbai-rumbai panjang warna putih gelap.   Seperti kain merah tadi, rumbai-rumbai juga berbatik warna emas. Pada babakl berikutnya muncul tujuh wanita dengan busana serupa, namun dengan warna kain yang variatif; hijau lumut, kuning, dan warna emas.

Gerak mereka yang rancak membuat kain dan rumbai-rumbai berkelebatan, mempertontonkan corak batik yang menawan. Kipas batik emas yang menjadi aksesoris tarian semakin menambah indahnya mahakarya yang mereka sajikan.

Menjelang puncak pergelaran tampil koleksi busana glamour dengan banyak aplikasi berupa manik-manik, batu-batuan, kristal, serta hiasan kepala yang megah. Sekali lagi, batik memeperlihatkan keelokannya. Detil hiasan kepala berupa adalah taburan batu-batuan dan manik-manik  membentuk motif batik, songket, dan tenun benar-benar menjadi mahakarya.  Aksen bulu yang menjulang di atas kepala serta sutra batik warna merah, kuning, hijau membuat penampilan peragawati  semakin flamboyan.

Puncak acara ditandai dengan diusungnya bunga teratai besar di bagian belakang catwalk. Pelan-perlan kelopak teratai merekah. Beberapa saat kemudian muncul model cantik papan atas Indonesia, Dominique, yang mengenakan gaun malam mewah warna biru bermotif kembang rinonce. Galmour dan agung.

Pergelaran mahakarya Batik Keris Puspa Nusa di Solo merupakan pergelaran ketiga. Sebelumnya, acara untuk memperingati 93 tahun Batik keris digelar di Jakarta dan Surabaya.

“Bagi sebuah perusahaan, sembilan dekade itu sesuatu yang luar biasa. Pergelaran ini sebagai bentuk terima kasih kami kepada Indonesia. Karya-karya batik keris adalah hasil perpaduan dari berbagai seni dan budaya Nusantara,” kata Lina. (Ganug Nugroho Adi)