Danang Pamungkas: Dari Tari Klasik ke Kontemporer

-

Danang Pamungkas lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga yang jauh dari dunia kesenian. Orang tuanya, Darso Suwito dan Ngadimen, adalah petani tulen di Banyuanyar,  pinggiran Kota Solo yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Jauh dari keramaian pusat kota, otomatis lingkungan masa kecil Danang hanya seputar sawah, sungai, dan  ladang tebu. Tidak ada hiburan, apa lagi pentas kesenian.

“Sesekali ada layar tancep dan pasar malam di desa, tapi itu pun belum tentu ada setahun sekali. Lebih sering kami membuat hiburan sendiri. Bermain jamuran,  gobak sodor, dan petak umpet  (jenis permainan tradisional).

Perkenalan Danang dengan dunia tari berawal ketika suatu hari desanya kedatangan seorang mahasiswa seni tari bernama Suwondo melakukan penelitian untuk menyusun skripsi. Di sela-sela penelitian, Suwondo yang juga seorang pegawai RRI ini menawarkan latihan menari gratis bagi anak-anak Banyuanyar.

“Karena anak-anak yang lain banyak yang mendaftar, saya pun ikut. Sebulan  latihan, saya mulai bosan. Tapi bapak melarang saya berhenti. Setahun ikut latihan, saya sudah bisa membawakan Tari Kuda-kuda, Gatotkaca,  dan Tari Kuda Lumping,” kata koreografer yang tanggal 20-24 September lalu pentas di Festival Indonesia, Roppongi Hils Minato-ku, Tokyo, Jepang, bersama penyanyi keroncong Endah Laras dan maestro seruling, Sunardi.

Namun ketika ia mulai bisa menikmati tari, Suwondo justru berhenti melatih dan meninggalkan Banyuanyar.  Danang mengaku betapa ketika itu dirinya benar-benar merasa kehilangan. Sosok Suwondo diam-diam telah menginspirasi cita-citanya menjadi penari.

“Tiga tahun setelah menghilang, Pak Wondo datang lagi. Saya begitu bersemangat ketika dia melatih kami untuk pentas tujuhbelasan (perayaan HUT RI 17  Agustus) di Balai Desa,” kenang dia.

Selepas SMP, bungsu dari enam bersaudara ini melanjutkan ke Sekolah Menengah Kerawitan (sekarang SMK Negeri 8) Surakarta. Di sekolah inilah Danang mulai mendalami tari klasik Jawa gaya Surakarta dan Yogyakarta, mulai tari putri (Srimpi, Gambyong, Bedahaya), serta tari-tari putra alusan dan gagahan.

“Setahun pertama di SMKI saya benar-benar belajar. Memasuki tahun kedua saya mulai mengamen di hajatan perkawinan untuk membiayai sekolah. Ha ha ha…” kata suami Dewi Galuh Shita Sari, seorang penari Mangkunegaran.

Tahun ketiga di SMKI, Danang dipercaya beberapa penari senior seperti Suprapto Suryodharmo, Nungki Nurcahyani, Eko Supriyanto, dan Djarot B Darsomo untuk membantu pentas mereka. Pergaulannya dengan para seniman lintas ilmu semakin kuat dan luas ketika ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (ISI Surakarta) tahun 1999.

Tahun pertama kuliah, ia menciptakan reportoar  Gulung disusul karya-karya baru setiap tahunnya, antara lain Gliyong (2000), Trance (2001), Dograg (2002), Gaung (2003), Panyot Pun Padam (2004), dan Diujung Pintu (2005). Lewat Gliyong, Danang meraih juara II dalam Festival Koreografi di Yogyakarta. Sedangkan Panyot Pun Padam mengantarkannya sebagai juara I dalam Lomba Koreografi Nasional yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta.

“Saya semakin mantap ingin menjadi penari professional ketika tahun 2003 dipilih Mas Don (maestro tari Sardono W Kusumo) untuk terlibat dalam salah satu karya besarnya, No Body’s Body,” ujar Danang yang April lalu mendukung pementasani Opera Jawa Selendang Merah karya Garin Nugroho.

Belajar ke Taiwan

Sejak tahun 2005, Danang menggelar pentas ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Tidak hanya pentas, ia juga banyak menggelar workshop, dan mengikuti lokakarta di bawah arahan koreografer dunia,  antara lain Yukio Waguri  (Jepang), dan Stephanie Thierch (Jerman).

Ia juga terlibat dalam berbagai pertunjukan tari dengan dalang wayang suket,   Slamet Gundono, melakukan kolaborasi bersama English National Opera (Inggris), dan Shubert Theater (Amerika Serikat).

Karirnya sebagai penari professional semakin terbuka ketika tahun 2007 ia menjadi bagian dari 10 koreografer muda Indonesia yang terpilih mengikuti lokakarya koreografi arahan koreaografer ternama asal Taiwan, Lin Hwai-min.

Setahun setelah lokakarya, Danang mendapat kontrak selama tiga tahun sebagai penari di Cloud Gate Dance Theatre, sebuah kelompok tari terkemuka di Taipei.

Masa-masa berat ia jalani ketika di Taiwan. Sebab meski sudah dikontrak sebagai penari tidak otomatis dirinya bisa langsung pentas. Ia masih harus menjalani training selama 6 bulan, antara lain belajar teknik balet klasik, beberapa tari tradisional, seperti martial art (silat), taichi, dan teknik tari modern gaya Martha Graham  (pelopor tari modern asal Pittsburgh, Amerika Serikat, yang menjadi tokoh yang paling berpengaruh dalam bidang seni tari modern selama lebih dari 50 tahun).

“Saya mulai dari nol. Padahal dari Indonesia saya merasa sudah siap untuk pentas. Tapi kemampuan teknik para penari di Cloud Gate Dance Theatre memang luar biasa, terutama kelenturan tubuh. Mereka genius.  Tiga tahun di Taiwan saya mendapat banyak ilmu. Tapi saya menolak perpanjangan kontrak karena ingin berkarya di negeri sendiri,” ujar penari yang tahun 2005 lalu berkolaborasi dengan koreografer asal Korea Selatan, Sen Hea Ha di Uijeongbu Music Festival dan Modafe Art Festival Seoul, Korea Selatan, serta Singapore Art Mart, Singapura.

Sepulang dari Taiwan, Danang menerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola yang kemudian melahirkan Beat, dan dipentaskan di Indonesian Dance Festival (2012). Dalam Beat, ia menggabungkan teknik body release modern, seperti rolling down, rolling up, slide on the floor, spiral, dan initiation movement dengan spirit tari klasik Jawa gaya Mangkunegaran.

“Untuk Beat, saya melakukan riset sekitar tiga bulan. Saya meniru para koreografer besar yang selalu melakukan riset sebelum mereka menciptakan gerak. Bagi saya sulit menciptakan karya secara spontan,” kata penari yang pada Juni hingga Agustus lalu mengikuti Resident and Workshop Program di Impulstan Festival, Austria.

Menurut Danang, seorang koreaografer tidak hanya dituntut menguasai teknik tari, tapi juga harus memiliki kemampuan untuk merumuskan ide, keleluasaan berseksplorasi, dan harus bisa bekerja sama dengan seniman dengan latar belakang yang berbeda, terutama musisi dan fotografer.

“Peran musisi penting karena mereka sangat membantu menghidupkan gerak. Saya juga sering konsultasi dengan  fotografer untuk masalah komposisi karena mereka berada di luar panggung sehingga  lebih cermat melihat bidang,” kata Danang yang tahun 2009 mementaskan Song of Body di Salihara, Jakarta.

“Saya sangat mengidolakan Pina Bosch (maestro penari kontemporer dari Jerman). Saya akui, selain tari klasik Jawa, karya-karya saya banyak terinspirasi oleh Pino,” kata pria kelahiran Solo, 30 Desember 1979 ini.

Kini, sepulang dari Festival Indonesia di Roppongi Hils Minato-ku, Tokyo, Jepang, Danang kembali mempersiapkan pentas kolaborasi bersama beberapa koreografer Maya Dance Company Singapura yang akan digelar pada pertengahan Oktober.

“Saya belajar tari modern dari tari tradisional. Bagi saya, orang harus memiliki akar tradisi yang kuat sebelum akhirnya belajar tentang hal-hal yang baru. Tari klasik adalah pintu masuk untuk mengenal tari-tari modern dan kontemporer,” ujar dia.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *