Extravaganza Seni Pertunjukan

Panggung gelap. Tokoh Ratu Sima –diperankan oleh Rachel Georghea Sentani- yang menjadi ikon Solo International Performing Art (SIPA) tahun ini baru saja mengakhiri pementasan bersama puluhan penari dari Sanggar Semarak Candra Kirana. Lalu lampu panggung menyala pelan-pelan.

Tujuh penari dengan kostum merah, kuning, dan orange yang cerah memasuki panggung dengan gemulai.   Ribuan penonton yang memadati kawasan Benteng Vanterburg Surakarta  pun menatap ke panggung. Menunggu.


Para perempuan delegasi dari China itu pun mulai menari. Membawakan tari Cantonese Girl Charm,  mereka yang tergabung dalam sebuah sanggar tari tradisional China, Zhuhai Hanseng Art,  itu mengawali pentas dengan gerak-gerak gemulai.

Namun memasuki babak tengah, gerakan-gerakan mereka berubah dari lembut menuju tempo sedang sampai akhirnya memunculkan gerakan-gerakan cepat. Satu dua penari berlarian ke tengah dan pinggir panggung memisahkan dari penari lain.

Kipas berselendang di tangan mereka terus bergerak. Setiap gerakan membuat kain warna merah, kuning, dan orange menyala itu berseliweran mirip kebatan selendang. Tari kedua, yaitu Vine, Branch and Leaf,  dibawakan oleh dua perempuan. Tarian ini terkesan tenang degan dasar balet yang kuat.

Fragmen Adaninggar-Kelaswara

Pada tarian ketiga, Zhu Zhi Poem, mereka kembali menari dalam tempo sedang. Tampil dengan kostum warna-warni yang mencolok, tarian ini menggambarkan suasana alam yang berubah. Alkiran sungai, cahaya matari di timur, dan cuaca yang berubah-ubah menjadi inspirasi tarian puitis ini.

Tak kalah memesona adalah fragmen tari Adaninggar-Kelaswara yang ditampilkan oleh Sanggar Tari Padnecwara, Jakarta. Fragmen tari yang diambil dari kisah-kisah dalam Cerita Panji ini biasanya dibawakan dalam tari klasik Jawa, terutama di Mangkunegaran.

Namun ditangan maestro tari Retno Marutoi sebagai koreografer,  Adaninggar-Kelaswara muncul dalam bentuk yang berbeda.Dalam versi Mangkunegaran, Yogyakarta, maupun versi Jawa Timuran, tarian ini biasanya menampilkan dua penari. Namun kali ini Adaninggar-Kelaswara dibawakan oleh delapan penari.

Retno Maruti juga meniadakan kontum yang gemerlap, dan menggantinya dengan kostum sederhana berupa baju putih lengan panjang tanpa krah dengan bawahan kain merah.

Alhasil, tarian dengan ritme pelan ini pun terasa dinamis dan enak dilihat. Di ujung tarian, kejutan kembali muncul. Adegan peperangan tak ditampilkan secara vulgar dengan menggunakan keris atau pun anak panah, melainkan dengan kipas.  Tarian putra alus ini pun dibawakan oleh para penari dengan amat indah.

Sebelumnya, sebanyak 20 penari dari Sanggar Seni Tanadoang, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, mendapat sambutan meriah penonton. Mereka tampil memukau lewat The Legend Of Nekara atau Legenda Sawerigading, sebuah kolaborasi tari kontemporer dengan iringan musik tradisional Makassar. Legenda Sawerigading merupakan salah satu legenda yang cukup terkenal di  Tanadoang. Hingga kini, cerita tentang Sawerigading tetap hidup.

Delegasi Korea Selatan menyajikan ansemble tradisional kwaenggwari, jing, janggu, dan buk yang semuanya merupakan alat musik tabuh. Di sela-sela tetabuhan, mereka meniup trap yang merupakan alat musik tiup dengan bunyi yang melengking yang magis.

Para musisi memainkan musik dengan cara berjalan mengitari panggung. Mereka mengenakan topi tradisional Sangmo, yaitu topi dengan pita panjang. Setiap kali kepala mereka bergerak mengikuti irama musik; mengangguk atau pun berputar, maka pita panjang akan ikut begerak membentuk pola lingkaran .

Delegasi dari Jepang, Dance Theater Ludens, menyajikan balet akrobatik  yang menawan lewat The Rite of Spring. Warna balet sangat kental dalam tarian yang dibawakan oleh tujuh penari. Mereka mengelaborasikan balet, senam indah, dan akrobatik yang mempesona. Tak jarang para penari melompat, terbang, dan  kemudian menggelindingkan tubuh  ke lantai tanpa  kesulitan.

The Rite of Spring sendiri bercerita tentang masa pertumbuhan seorang gadis muda menjadi wanita dewasa.  Gerak yang ditampilkan sesekali lembut dan liar. Ekspresi dan bahasa tubuh juga dengan cepat berubah, dari gerak laki-laki yang gagah berani menjadi gerak perempuan yang pemalu, lembut, dan penurut.

“Tarian ini merupakan realita bagi sebagian besar wanita muda Jepang. Seringkali mereka gagap dan panic menghadapi perubahan periode dari remaja menuju dunia dewasa,” ujar Ketua Dance Theater Ludens, Takiko Iwabuchi.

Menutup hari kedua tampil Pring Sarentet, kelompok tari dari Banyumas. Menyuguhkan tari tradisional Ronggeng Manis, kelompok tari pimpinan Cahwati ini menghentak panggung SIPA.

Tari Bidadari Genit

Gerakan-gerakan terlihat rancak, memadukan gerak ronggeng dan lengger dalam iringan gambang serta rebab yang seperti tiiada henti. Dalam garapan Cahwati, Ronggeng menjadi tarian yang elegan dan eksotis. Jauh dari kesan erotis dan seronok.

Hari terakhir SIPA dibuka dengan tarian tunggal oleh Kiran Rajagopalan dari India,  Bharatanatyam. Tari ini merupakan tari klasik yang mengisahkan sejarah lahirnya India. Di sela-sela tarian yang lembut, Kiran menyanmpaikan narasi mengenai gerak-gerak tari yang ia bawakan.

Selepas Kiran adalah Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna yang tampil bersama sebelas penari cantik membawakan tari Bidadari Genit.  Tarian dibuka oleh sebelas perempuan yang muncul dari belakang panggung.

Beberapa saat kemudian muncul pria telanjang dada dan bertopeng yang diperankan oleh Paundrakarna. Gerakkan tarian khas Suara Mahardika milik Guruh Soekarno Putra yang tak lain merupakan paman Paundra.

Lewat Bidadari Genit, putra Mangkunegara IX ini menyampaikan gagasan mengenai  Indonesia yang besar dan berwibawa, Indonesia yang bebas korupsi, dan menjadikan hokum sebagai panglima.

Dalam tari ini, para bidadari turun ke bumi (Indonesia) untuk mengingatkan para pejabat yang korupsi, main suap, dan menjadi makelar proyek. Sambil menari, mereka juga juga meneriakkan kampanye anti korupsi lewat lagu.

Tak hanya menari itu apa itu, e kembang melati

yang ku puja-puji, janganlah korupsi

karena kalau korupsi negaranya rugi

Penampilan menawan dibawakan oleh koreografer Laura Kriefman dari Inggris lewat The Rolling Stone. Ia meletakkan empat bola berbagai ukuran di atas papan panjang. Ia berdiri di atas papan dan memulainya dengan mengetuk-ngetukkan hak sepatu di kakinya ke papan sehingga menciptakan bunyi-bunyi teratur.

Selanjutnya  Laura mengeksplorasi tubuhnya dan melakukan interaksi dengan bola-bola. Tarian juga mengekplorasi efek suara dari bola-bola yang saling bertabrakan, diketuk, digoyang-goyangkan, bahkan suara hak sepatunyanya sendiri   sehingga menimbulkan suara yang beragam. Laura merespon suara-suara ini dengan gerak tubuh.

SIPA berakhir dengan pentas Wayang Ajen dari Jawa Barat, kemudian delegasi dari University Sabah Malaysia (USM), Sanggar Tarara Madura, dan Dinas Kebudayaan Jakarta Utara.

Tidak semua pertunjukan yang ditampilkan merupakan legenda dan berkelas dunia. Jika Untuk menjadi ajang pentas berkelas, SIPA tampaknya masih jauh dari harapan. Apalagi tidak ada kuratorial terhadap seni pertunjukkan yang akan ditampilkan.

Di luar itu, manajemen pertunjukkan –termasuk manajemen penonton- belum digarap dengan baik. Problem klasik pertunjukkan, sepertti lighting yang salah arah, sound system macet, penonton yang mondar-mandir masih sering terjadi. Apa mau dikata, SIPA masih sekadar sebagai hiburan gratis bagi masyarakat tanpa embel-embel internasional. Tak ada bedanya dengan festival-festival lain di Surakarta.(Ganug Nugroho Adi)