Fragmen Luka Spirit of Dance Solo

Tari bertajuk Fugas karya koreografer Cayetano Soto membuka gelaran Spirit of Dance yang dibawakan  Introdans, kelompok balet modern asal Arnhem, Belanda, di Teater Besar Institus Indonesia (ISI), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (8/5). Sebelum tampil  di Solo, kelompok ini menggelar pentas di Erasmus Huis dan dan Gedung Kesenian Jakarta (2-4/5).

Begitu layar besar dibuka, empat ballet danseur (penari ballet pria) muncul dengan gerakan lentur beriringan masuk panggung. Nomor ini menyajikan gerakan lembut dan atraktif dengan kelenturan yang elok. Seorang penari perempuan masuk.  Meliuk-liuk lentur khas tari balet. Lewat gerak dinamis dengan ilustrasi musik lembut, sang perempuan menampilkan  tarian duet yang indah dengan penari pria.

Nomor Fugaz, menurut koreografernya, merupakan reportoar yang tenang. Nomor ini lahir sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang ayahnya. Tak heran jika nuansa pertunjukan terkesan lengang dengan gerakan-gerakan lembut yang lambat. Delapan penari, Mirjana Doric, Yulanne de Groot, Verine Bouwman, Mara Hulspas, Filippo Pelacchi, dan Ruben Ventoso, membuka pergelaran ini dengan indah.

“Karya ini memang terinspirasi oleh rasa kehilangan dan rasa sakit,. Namun di luar itu Fugas sebenarnya ingin menyampaikan rasa bahagia,lega, dan syukur. Ini bukan karya hitam-putih. Penonton bisa menafsirkan apa saja tergantung pengalaman pribadi masing-masing,” ujar Soto seusai pertunjukan.

Itulah Fugas, salah satu reportoar yang diusung  Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, bersama ISI Surakarta.  Spirit of Dance sendiri menampilkan tujuh repertoar. Selain Fugas, nomor-nomor lain adalah adalah Het Debat XL, Cor Perdut Palimpsest, La Morte del Cigno, , Passage, Messias, dan Scheidslijn. Berbeda dengan penampilan Introdans di tempat yang sama tahun 2012 lalu, kali ini kostum penari didominasi warna hitam dengan pencahayaan yang minim.

“Kami melakukan persiapan selama dua bulan untuk tampil di Indonesia (Jakarta dan Solo). Melakukan survey tempat dan lainnya, sehingga begitu sampai kami siap untuk tampil,” kata Direktur Artistik Introdans, Roel Voorintholt.

Tampil solo

Selepas Fugos tampil reportoar Palimpsest karya koreografer Ton Wiggers  yang menyuguhkan kepiawaian teknik dan kelenturan tubuh dan gerak penarinya. Betapa tidak, karena pada bagian reportoar ini masing-masing penari tampil solo.

Kelenturan memang menjadi sajian yang mendominasi nomor ini. Pada bagian lain dari nomor ini, sepasang penari menyuguhkan gerakan yang lebih atraktif-romantik yang merupakan gerakan klasik balet. Balerina (penari balet perempuan)  berlari memutar dengan lengan tergandeng penari pria. Sesekali sang penari melakukan lompatan dengan langkah lebar. Penampilan indah ini diakhiri dengan penari pria yang mengangkat tubuh penari perempuan sambil berputar-putar. Romantis, eksotois, dan mendebarkan.

Palimpsest diciptakan lebih dari 10 tahun lalu, dan tetap menggunakan komposisi  yang sama sebagai ulustrasi musiknya. Ton Wiggers sendiri merupakan  salah satu pendiri dan direktur Introdans.

Sementara itu pada nomor La Morte del Cigno (Mauro di Candia) yang dibawakan Ruben Ventoso Sanroman, menyajikan  gerakan-gerakan lincah, namun tetap lembut. Pencahayaan yang temaram seperti semakin mengukuhkan eksplorasi dan kelenturan gerak. Nomor solo ini benar-benar menawan. Dengan penguasaan teknik balet yang mumpuni, Ruben mampu mengundang decak kagum penonton.

Reportoar berikutnya adalah Cor Perdut karya Nacho Duato. Dibawakan oleh dua pasang penari, tarian ini menggambarkan kegairahan cinta dan sensualitas. Berbeda dengan reportoar sebelumnya, nomor ini menyajikan serangkaian gerak dinamis dan kegembiraan yang meluap.

Setiap bagian dari reportoar yang disajikan memang memiliki karakter tersendiri. Serangkaian kisah sedih, gembira, dan kecewa diungkapkan lewat bahasa tubuh dan gerak yang elok.

Fragmen luka terlihat dalam nomor Scheidslijn yang dibawakan dengan apik tujuh penari. Diawali aksi balerina Mirjana Doric yang memasuki panggung  dengan gerakan  putaran khas khas balet. Ekspresi kegelisahan, rindu dendam, juga kecemasan ia tampilkan berulang-ulang. Ia memulai dengan gerakan lambat, namun kemudian gerakannya bertambah cepat.

Nomor ini terdiri dari beberapa fargmen. Untuk menandai fragmen baru, Mirjana selalu memulai tariannya dengan berjinjit seimbang di atas satu kaki, sementara kaki yang lain terangkat ke belakang, dan tangan ke atas. Ini sebenarnya merupakan gerakan dasar balet (en pointe) yang membutuhkan konsentrasi tinggi karena kunci dari gerakan ini adalah keseimbangan  antara titik tumpu dan berat tubuh. Jika meleset, maka gaya gravitasi akan mengakibatkan penari terpelanting.

Pada bagian berikutnya, balerina ini menyuguhkan gerakan memutar berulang-ulang pada satu kaki (pirouette). Di ujung fragmen ini, Mirjana mempertontonkan gerakan melompat-lompat. Begitu ringan, lincah, dan indah.

Penampilan Mirjana semakin lengkap dengan enam ballet danseur yang masuk dengan gerakan melompat beriiringan. Mereka mengitari sang perempuan, meliuk, dan melompat bersamaan. Puncak dari nomor ini adalah ketika  Si perempuan membuat gerakan menjatuhkan tubuhnya namun kemudian keenam penari menopangnya secara bergantian.

Fragmen ini seperti menghadirkan kegelisahan seorang perempuan dalam pusaran asmara. Pencahayaan yang temaran, ilustrasi musik yang mendayu seperti menggiring penonton untuk ikut merasakan sebuah kegelisahan.

Grand Jet

Seusai rehat sesi pertama selama 20 menit, pertunjukan dibuka dengan reportoar Messiah karya koreografer Ed Wubbe. Ini merupakan satu-satunya balet klasik yang tampil dalam Siprit of Dance. Messias sendiri terinspirasi sebuah himne (lagu pujian).

Selama sekitar 30 menit, Messiah menyuguhkan sebagian besar teknik dalam balet klasik, seperti fouttes en tournant, swaying, plie, grand jet, dan turn-out.

Fouttes en tournant adalah gerakan yang memiliki 32 putaran fouettes.  Dalam teknik ini, penari berdiri dengan satu kaki, di mana  satu kaki lainnya  didorong lurus ke samping sehingga mengakibatkan tubuh berputar.

Sedangkan prinsip dari gerakan plie adalah menekukkan lutut ke arah samping dengan posisi badan, leher, dan kepala tetap tegak. Salah satu gerakan balet yang memesona dan biasanya ditunggu-tunggu oleh penonton adalah grand jet. Pada gerakan ini, penari berlari sambil melompat dengan posisi kedua tangan dan kaki terentang lurus sejajar lantai.

Reportoar Passage dan Het Debat XL karya Ton Wiggers menjadi penutup gelaran Spirit of Dance. Passage adalah reportoar yang lembut, sementara reportoar Het Debat XL yang dibawakan oleh 14 penari merupakan tarian kolosal.

Nomor ini diawali dengan para penari pria yang menampilkan gerakan-gerakan solo. Mereka mengekspolrasi kelenturan tubuh, menyuguhkan gerak-gerak dasar balet dengan improvisasi yang menawan. Lalu mereka menjauh, meninggalkan panggung. Sebagai gantinya muncul para balerina yang begitu sempurna memadukan gerak dengan ilustrasi musik yang riang. Mereka mengawali dengan gerakan berjinjit dan tangan melingkar ke atas kepala.

Selanjutnya para balerina ini mengembangkan kedua tangan, Pada ketukan tertentu, mereka menyebar mengitari panggung untuk kemudian bergabung kembali membentuk elip (lingkaran). Penonton kembali dibuat terpana dengan gerakan melompat dan terbang khas balet.

Malam itu, Introdans benar-benar menyuguhkan improvisasi balet yang menawan. Tak hanya penguasaan teknik, mereka juga menari dengan hati.  Penampilan mereka selama sekitar 90 menit sungguh menjadi tontonan langka di Solo.

“Solo adalah kota tari dengan penonton yang antusias dan penuh apresiasi.  Kami belum merasa lengkap datang ke Indonesia jika tidak pentas di sini (Solo),” kata Roel Voorintholt dalam pidato sebelum pementasan. (Ganug Nugroho Adi)