Ketika Trafic Jazz Festival men-jazzy Solo

AENGAENG.COM - Pesinden asal Solo, Sruti Respati, ketika membawakan lagu Cublak-Cublak Suweng.
Pesinden asal Solo, Sruti Respati, ketika membawakan lagu Cublak-Cublak Suweng.

Lagu Bengawan Solo itu mengalun dalam irama yang berbeda, terdengar nyaman meski asing. Begitulah alunan lagu karya Gesang itu ketika dibawakan Sierra Soetedjo. Tembang keroncong yang semula berirama mendayu dalam tempo lambat itu berubah jazzy dengan ketukan cepat.

Jejak irama keroncong sama sekali lenyap. Sebagai gantinya adalah vokal bening Sierra yang menyeruak di tengah ketukan cepat dan improvisasi bas, melodi gitar, kibord, dan drum.


Dalam kepungan istrumen dari Sandy Winarta Quartet, penyanyi cantik yang pernah belajar olah vokal di Western Australia Academy of Performing Arts ini membawakan Bengawan Solo dengan ringan segar.

Bengawan Solo yang selalu terkesan keramat dalam versi keroncong, malam itu berubah sangat bersahabat. Sierra terlihat sering berpindah dari satu ujung panggung ke ujung lainnya untuk berkomunikasi dengan penonton sehingga tembang legendaris ini terasa lebih komunikatif. Berulang kali Sierra mengajak penonton untuk bernyanyi bersama dan berjoget mengikuti gebukan drum Sandy Winarta.

Selain Bengawan Solo, Sierra juga membawakan At Last  dan The Only One. Lagu The Only One yang kalem ia bawakan sangat sempurna, dengan sentuhan pop jazzy dan improvisasi yang tak terduga.

Lagu yang diciptakan oleh Adi Bing Slamet ini pernah dipopulerkan oleh Paramitha Russady untuk soundtrack film Merpati Tak Pernah Ingkar Janji (1986). Dalam olah vokal Sierra, The Only One menjadi sangat berbeda dari versi aslinya.

“Saya adalah penggemar lagu-lagu lama. The Only One ini merupakan lagu favorit saya dari zaman SD, SMP, SMA sampai sekarang. Tunes-nya simple dan sangat catchy untuk didengarkan,” kata Sierra seusai pentas dalam gelaran Traffic Jazz Festival di Sumaryono Grand Ballroom The Sunan Hotel, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (2/11) malam.

Traffic Jazz Festival

Penampilan Kuwartet Sandy dan Sierra ini membuka sesi kedua gelaran Traffic Jazz Festival malam itu. Sesi pertama yang digelar pada sore sebelumnya menampilkan band-band komunitas jazz Kota Solo.

Selepas Sandy Winarta Quartet, penonton harus berpindah ke panggung lain yang berhadapan dengan panggung sebelumnya. Multy stage selama ini memang menjadi cii khas dari perhelatan Jazz Tarffic.

Indro Hardjodikoro bersama The Fingers membuka panggung dengan memamerkan kepiawaian Indro membetot bass. Bersama beberapa musisi muda, seperti Yesaya Echa Soemantri (drum), Andy Gomez Setiawan (kibord), dan Fajar Adi Nugroho (bass), The Fingers mengusung irama jazz-funk .

Selanjutnya mereka secara berturut-turut membawakan beberapa nomor yang diambil dari album pertama, Travelling. Mengusung jazz-funk, jass aliran ini menampilkan nuansa rhytem yang pendek dan tajam. Di sela jeda rhytem, muncul betotan bas berseling dengan gebukan drum. Indro bahkan menghadirkan kendang Jawa untuk memberi sentuhan warna etnik.

Kolaborasi The Fingers dengan pesinden asal Solo, Sriti Respati, lumayan memberikan warna berbeda dalam lagu And I Love Her (Beatles). Indro memberikan intro yang menawan lewat cabikan bas-nya yang berdentum-dentum, sebelum akhirnya vokal Sruti yang jernih masuk.

Di jeda vokal, giliran Fajar Adi Nugroho, dan Echa yang mengeksplorasi habis-habisan bass dan drum. Vokal Sruti sesekali melengking meniti nada-nada tinggi. Pada lagu kedua, Cublak-Cublak Suweng, The Fingers berinteraksi dengan penonton. Mereka mengajak penonton berjoget. Lagu dolanan bocah ini ditampilkan dengan sangat ekspresif dan riang.

Masuknya instrumen kendang Jawa semakin menjadikan lagu ini meriah. Pembawaan Sruti yang selama ini cenderung kalem, dalam lagu ini terlihat lebih berkeringat. Ia begitu energik, berjoget mengikuti ketukan demi ketukan. Di depan panggung, penonton terus bergoyang. Sruti menutup penampilannya dengan lagu Ondel-Ondel.

Kali pertama di Solo

Di Solo, perhelatan Jazz Traffic Festival ini merupakan yang pertama kali. Sebelumnya, festival jazz tahunan berskala internasional ini digelar di Surabaya dan Semarang.

“Kami berani menggelar festival ini di Solo karena dari bebebrapa event jazz yang digelar di kota ini, penggemar jazz sangat antusias. Kami sangat terkesan. Dari target awal 700 penonton, ternyata kami harus mencetak tiket hingga lebih dari 1.000 lembar,” ujar promoter Jazz Traffic, Rita Noya.

Dibandingkan Solo City Jazz yang beberapa waktu di gelar di Benteng Vastenberg, Jazz Traffic memang lebih mentereng. Bukan semata-mata karena digelar di hotel berbintang, tapi lebih karena para penampil yang nota bene telah mempunyai pengalaman pentas kelas internasional.

Perhelatan di Solo tahun ini menampilkan musisi dan band jazz papan atas, seperti Tompi bersama The Doctor and The Professor, LLW feat Eva Celia, The Fingers feat Sruti Respati, Barry Lukumahuwa Project (BLP), dan Sandy Winarta Project yang menggandeng Sierra Soetedjo.

LLW (Lesmana, Likumahua, dan Winarta) menjadi salah satu penampil yang paling ditunggu. Membawakan beberapa lagu dari album pertamanya, Love, Life, Wisdom LLW mencoba bereksperimen dengan member warna rap dan DJ pada nomor Stretch N Pause.

Dalam penampilannya kali ini, Indra berkolaborasi dengan Barry Likumahuwa  (bass), Kyriz Boogieman yang memainkan ritme rap, dan Ibnu Rafi pada drum. Jazz yang selama ini dianggap sebagai musik berat menjadi musik yang berjiwa muda dengan sentuhan musik techno dan rap.

LLW semakin berwarna dengan tampilnya Eva Celia, putrid Indra Lesmana. Eva membuka penampilannya lewat lagu Morning Spirit dalam balutan fusion jazz yang kental dengan unsur rock dan funk. Indra selama ini memang dikenal dengan eksperimen Musical Instrument Digital Interface (MIDI) –salah satu unsur yang menonjol dalam fussion jazz.

Tak heran jika hampir semua lagu yang dibawakan LLW mengalir dalam tempo cepat dan energik, tanpa meninggalkan kebebasan berimprovisasi. Penonton terkesima. Terlebih ketika Indra, Barry, dan Rafi bergantian melakukan improviisasi pada setiap jeda vokal Eva. Mereka terus bergoyang mengikuti dentuman drum, cabikan bas, atau pun kibord liar.

LLW memang menjadi salah satu penampil yang paling ditunggu penonton Jazz Traffic. Nama besar Indra Lesmana sebagai musisi jazz kawakan menjadi magnet tersendiri bagi penggemar jazz di Kota Solo.

Penampilan Barry Likumahua Project (BLP) yang mewakili generasi muda seolah-olah menjadikan Jazz Traffic sebagai perhelatan anak muda. Barry meminta seluruh penonton berdiri dan bergoyang.

“Siapa bilang menikmati music jazz harus dengan duduk? Ayo semuanya berdiri. Kita nikmati pesta malam ini dengan bergoyang,” teriaknya daroi atas panggung.

Band bentukan putra dedengkot jazz Indonesia, Benny Likumahua, ini menggabungkan komposisi jazz dan funk, sehingga menghasilkan ritme-ritme yang mudah dicerna dan dinikmati.

Ratusan penikmat jazz yang mendekat ke panggung pun tak henti-hentinya bertepuk tangan ketika para pemain bergantian melakukan solo session, mulai gitar, saksopon, dan drum. Barry yang sempat ber-jam session dengan ayahnya juga menjadi hiburan tersendiri bagi penikmat jazz.

Tompi yang juga menjadi salah satu ikon jazz Indonesia menutup perhelatan. Di depan ratusan penonton yang memadati ballroom, Tompi yang tampil bersama The Doctor and The Profesor mengawali dengan Selalu Denganmu.

Tepuk tangan penonton pun langsung terdengar ketika lagu romantis ini mulai mengalir. Serempak mereka ikut bernyanyi. Di tengah lagu, Tompi melukan improvisasi dengan menirukan bunyi instrumen dengan mulut, dan kemudian meminta penonton untuk menirukannya.

Penampilan The Doctor and The Pofesor semakin seru ketika Tompi dan Tjut Nyak Deviana Daudsjah (piano) melakukan jam session. Tompi menyuarakan nada-nada dari mulutnya lewat teknik sketch, yang kemudian diterjemahkan Deviana lewat tuts pianonya.

The Doctor and Yhe Profesor masih membawakan beberapa nomor lagu, seperti Menghujam Jantungku, Sedari Dulu, dan You’re The One sebelum akhirnya gelaran musik jazz selama 8 jam mulai pukul 16.00 ini rampung. (Ganug Nugroho Adi)