Langit Kresna Hariadi: Antara Fiksi dan Fakta Sejarah

Langit Kresna Hariadi - penulis
Langit Kresna Hariadi

Tahun 2002, Langit Kresna Hariadi melahirkan Gajah Mada, sebuah novel sejarah yang menceritakan sepak terjang Patih Majapahit semasa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Tak diduga novel ini laku keras. 

Gajah Mada seakan menjadi magnet baru bagi para penggemar cerita fiksi sejarah. Dalam rentang kurang dari dua tahun Gajah Mada muncul lima seri. Disusul Candi Murca (empat jilid), Perang Paregrek (dua jilid), Majapahit (Sandyakala Rajasawangsa), dan kemudian Menak Jinggo (Sekar Kedaton) yang semuanya laris manis.

Setelah masa gemilang SH Mintardja (Api di Bukit Menoreh), Kho Ping Ho (Badai Laut Selatan), Widi Widayat (Cinta dan Tipu Muslihat), dan Herman Pratikno (Bende Mataram), dunia fiksi sejarah dengan bumbu silat seakan tenggelam.

Masa sesudah mereka dunia penulisan fiksi sejarah bisa dibilang mati karena tak memunculkan penulis-penulis baru dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun. Sela-sela kekosongan itu hanya memunculkan dua penulis, yaitu Arswendo Atmowiloto lewat Senopati Pamungkas (1986), dan Seno Gumira Adjidarma dengan Naga Bumi (1990-an). Periode berikutnya adalah masa keemasan bagi dunia fiksi remaja serta novel-novel pop.

Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari 1959, Langit menuturkan dirinya memasuki dunia penulisan fiksi sejarah karena kecelakaan. Novel Gajah Mada, kata dia, awalnya merupakan naskah drama radio berjudul Dhuaja Bayangkara yang ia tulis untuk Sanggar Prativi Jakarta tahun 1993.

Namun naskah itu tak pernah di siarkan. Maraknya stasiun televisi di awal tahun 1990 mengakibatkan drama radio ditinggalkan para pendenggemarnya. Iseng, Langit mengubah naskah dramanya ke dalam bentuk novel.

“Naskah novel itu saya tawarkan ke beberapa penerbit, tapi ditolak. Sampai akhirnya penerbit Tiga Serangkai (Solo) tertarik, namun tidak yakin akan laku. Saya mengerti, segmen novel sejarah sangat terbatas. Saya juga heran ketika akhirnya Gajah Mada laku keras,” ujar Langit di rumahnya, Perum Darmais, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Tradisi Membaca

Sejak kecil, suami dari Rina Riantini ini memiliki tradisi membaca dan menulis yang kuat. Ketika masih duduk di bangku Sekolah dasar, ia sudah sangat akrab dengan cerita-cerita silat semacam Nagasasra Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh (SH Mintardja), dan Bende Mataram (Herman Pratikno).

“Setelah selesai membaca, saya kemudian menceritakan kembali isi buku itu kepada teman-teman,” kenang dia.

Selama SMP, ia sudah membaca habis semua karya SH Mintardja yang jumlahnya ratusan buku. Setiap kali selesai membaca, ia mencoba menuliskan kembali ceritanya dalam gaya yang berbeda. Tak heran ketika di SMA Langit beberapa kali menjuarai lomba menulis. .

“Ketika kelas VI SD, saya pernah membaca seri Nagasasra Sabuk Inten selama tiga hari sampai badan saya demam,” ujar dia.

Selepas SMA, ia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di IKIP Surabaya (sekarang Universitas negeri Surabaya) jurusan Fisika. Namun ketertarikannya pada dunia seni dan sastra membuatnya tak betah kuliah, dan akhirnya drop out.

“Saya minggat ke Solo, menggelandang sampai berminggu-minggu. Sampai akhirnya bekerja sebagai penyiar di Radio PTPN,” tutur bapak dua anak ini.

Di radio inilah Langit mendapat peluang menjadi penulis profesional. Pemimpin radio yang melihat bakatnya dalam menulis memberikan tugas tambahan sebagai penulis naskah drama radio.

Ia sempat menulis beberapa naskah drama di Radio PTPN sebelum akhirnya pindah ke Sanggar Sakuntala di Radio Roiska. Dua tahun kemudian ia bergabung di Sanggar Prativi Jakarta khusus sebagai penulis naskah drama. Ia juga sempat menulis beberapa skenario film berlatar belakang sejarah untuk PT Kanta Indah Film, namun hingga kini skenarionya tidak pernah difilmkan.

“Setiap hari saya harus menulis 40 halaman karena kejar tayang. Bekerja dengan cara seperti itu selama bertahun-tahun membuat saya terlatih menulis cepat. Saya bisa mengetik dengan mata terpejam karena sudah hapal letak tuts-tuts komputer,” kata dia.

Langit sempat kehilangan mata pencarian ketika bisnis radio ambruk dengan maraknya stasiun televisi. Beberapa bulan ia hidup dari sokongan dana kakaknya. Hingga akhirnya novel Gajah Mada terbit.

“Sebelum Gajah Mada, sebenarnya novel pertama saya sudah diterbitkan oleh Balai Pustaka, judulnya Balada Kimpul (1998). Hanya dicetak sebanyak 1.000 eksemplar dan tidak laku. Ha ha ha… Padahal itu saya anggap sebagai novel terbaik saya,”kata dia serius.

Riset

Langit mengungkapkan meski laku keras, namun Gajah Mada jilid 1 mendapat banyak kritikan, terutama soal kevalidan sejarah dan logika peristiwa. Pria ramah ini merasa tertampar, namun segera berbenah.

“Gajah Mada jilid 1 itu kecelakaan karena saya tulis hanya berdasarkan ingatan. Saya kemudian melengkapi dengan riset, dan membaca buku-buku penelitian profesor sejarah untuk novel-novel berikutnya. Saya bahkan kost di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, selama dua minggu untuk melanjutkan seri Gajah Mada,” ujar Langit.

Ketika menulis Candi Murca yang mengisahkan pemberontakan Ken Arok, Langit bahkan mendirikan kantor sebagai home base di kota Singasari -sekitar 20 kilometer arah utara Kota Malang, Jawa Timur.

Menurut dia, riset langsung ke lapangan penting agar penulis tidak keliru mendeskripsikan lokasi. Dia mencontohkan tipografi Trowulan yang datar, sehingga lucu jika dirinya menggambarkan Trowulan berbukit-bukit.

Sebagai penulis fiksi sejarah, Langit merasa harus patuh dengan artefak dan hasil penelitian sejarah. Fakta sejarah, menurut dia, justru harus bisa memancing imajinasi penulis. Namun dia mengingatkan bahwa sehebat apa pun penulis roman sejarah, mereka tetaplah seorang penulis, bukan ahli sejarah.

“Bagi saya penulis fiksi sejarah itu tetaplah penulis, bukan sejarawan dan peneliti. Penulis roman sejarah yang baik harus tetap menghormati hasil penelitian. Saya tidak mau mengulang kesalahan seperti pada Gajah Mada jilid 1,” kata dia.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Langit termasuk penulis produktif. Untuk setiap novelnya yang rata-rata setebal 300 sampai 500 halaman, ia memerlukan waktu sekitar tiga bulan.

“Menulis itu masalah disiplin. Kalau bisa disiplin, menulis itu pekerjaan yang gampang. Sehari menulis 10 halaman, sebulan bisa 300 halaman. Dalam dua bulan, novel sudah siap diterbitkan,” kata dia enteng.

Di ruang kerjanya yang sederhana, setiap hari ia menulis 10 halaman dalam tiga waktu; pagi, siang, dan malam. Selain melakukan riset sendiri, ia juga banyak dibantu oleh Yayasan Peduli Majapahit untuk mendapatkan akses data.

“Meski sumbernya sama, yaitu Negarakretagama dan Pararaton, namun seringkali balungan (pokok cerita) berbeda. Saya biasanya mengambil yang paling masuk akal. Kalau bertentangan sekali saya buat catatan kaki. Yang penting tidak ngawur,” jelas dia.

Kini Langit tengah merampungkan serial Majapahit yang rencananya terdiri dari tujuh jilid, karena novel ini sudah terikat kontrak ekslusif dengan sebuah penerbit di Yogyakarta. Setelah Majapahit, ia akan melanjutkan serial Menak Jinggo.

“Saya ingin generasi muda menyukai sejarah. Mereka tidak menyukai buku-buku penelitian sejarah mungkin karena bahasanya kaku. Buku fiksi sejarah mencoba membuat fakta sejarah menjadi lebih dinamis dan mudah-mudahan lebih enak dibaca,” kata Langit. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *