Mengenal Joko Narimo Sang Filmmaker, Pencipta Ruang Belajar

joko narimo

SOLO – Disebuah pelataran bekas gedung Solo Theatre komplek Taman Sriwedari, suasana tampak begitu sepi. Siang itu, digedung yang sekarang digunakan sebagai Gedung Kesenian Solo, Joko Narimo duduk disalah satu sudut sambil menghisap sebatang rokok. Dengan pakaianya putih dan celana jeans belel, ia pun berdiri dan menyapa Solografi.

“Hai, apa kabar? Sudah saya tunggu, monggo silahkan duduk,” katanya ramah. Joko Narimo adalah salah satu pendiri Gedung Kesenian Solo. Ia yang juga seorang praktisi film ini adalah salah satu sosok yang berjasa dalam menghidupkan dunia kesenian orang muda di kota Solo. Kiprahnya di dunia seni bermula ketika ia bersekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Negeri Solo. Sejak saat itu, Joko yang akrab disapa Jack ini mulai menggeluti seni rupa.

Lulus dari SMSR,  Joko meneruskan studinya di FKIP Seni Rupa UNS. Namun sayang di sana, ia hanya mampu bertahan selama dua semester. Selanjutnya, ia masuk di FSSR Desain Komunikasi Visual UNS, lagi-lagi di sana ia hanya mampu bertahan selama enam semester. Usaha Joko untuk meneruskan pendidikannya masih belum pudar, berbekal semangat dan tekad ia kembali mencoba masuk di DKV Universitas Sahid, sayang hanya tiga semester ia bertahan sebelum kemudian memutuskan berhenti berkuliah.

“Selama masa pendidikan di bangku kuliah, saya mengalami sebuah masa-masa yang sulit. Kalau saya harus kuliah, saya susah bertahan hidup karena waktu itu keadaan ekonomi sedang tidak baik. Lalu saya kemudian saya bekerja sambil berkuliah. Namun sayang, justru ketika saya bekerja, saya tidak lagi bisa berkuliah karena tidak punya waktu,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Joko Narimo tidak menyerah. Gagal meneruskan bangku kuliah bukan berarti kiamat baginya. Berbekal semangat belajar, ia mencoba mempelajari dunia Desain Komunikasi Visual secara otodidak. Akhirnya kemudian ia berhasil menguasai dan menjadi seorang sineas film indie. “Film pertama saya adalah,Surat Dari Jalan (2004). Itu dibuat bersama komunitas Selamata. Lalu kemudian saya membuat film dokumenter, Selendang Pasar Legi (2006) ini dibuat bersama kelompok Matton yang saya rintis,” ujarnya.

Film Selendang Pasar Legi sempat melambungkan nama Joko Narimo.  Bagaimana tidak, Joko yang hanya mempelajari teknik audio visual secara otodidak ini berhasil menorehkan prestasi dengan dipilihnya film tersebut disebuah ajang kompetisi film indie di Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, film besutannya berhasil menjadi nominasi dalam ajang tersebut. “Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi saya. Ini prestasi luar biasa yang bisa saya torehkan,” katanya.

Sukses dengan film tersebut, Joko kembali membuat gebrakan dengan membuat video experimental Kawon. Film dengan yang dibuat low budget ini kembali masuk nominasi di ajang kompetisi film di Jerman. “Waktu itu saya dihubungi, lalu kemudian film saya yang berjudul Kawon diminta ikut di sana,” ujarnya.

Pada akhir tahun 2006, bersama teman-teman yang mempunyai kesamaan hobi di bidang film-video, Joko Narimo  membentuk komunitas film di Solo dengan nama Matakaca. Komunitas tersebut didirikan dengan harapan bisa menjadi titik simpul untuk berkumpul, berdiskusi dan belajar bersama tentang film dan karya audio visual lainnya.

Pendiri Gedung Kesenian Solo

Berbekal pengalaman didunia perfilman, Joko bersama pemilik Gapura Seni, Yoyok Aryoseno mendirikan Gedung Kesenian Solo. Waktu itu, mereka memanfaatkan bekas gedung Solo Theater salah satu gedung bioskop yang mangkrak. “Waktu ini gedung sungguh tidak layak. Lalu saya benahi sendiri sehingga kemudian bisa digunakan untuk pemutaran film. Waktu itu even pertama yang dibuat di tempat ini adalah Jifest. Kala itu tempatnya masih seadanya, tapi nyatanya banyak yang hadir,” ujarnya.

Dari situ Joko mulai membangun jaringan kesenian muda. Lalu muncul berbagai program bentukannya mulai pemutaran film indie, bedah film, pameran karya, bedah karya seni, diskusi gagasan seni hingga pentas musik band-band indie. “Di sana saya merintis sebuah wadah dimana kesenian yang dianggap kelas dua bisa diterima dengan mudah disini. Seperti musik punk, musik metal, juga pameran lukisan dari karya mahasiswa,” ujarnya.

Puncak dari kegiatan di Gedung Kesenian Solo adalah terselenggaranya Festival Film Solo tahun 2010 lalu. Joko yang kala itu duduk sebagai penggagas acara sekaligus sebagai programmer tidak menyangka festival tersebut akan begitu sukses. “Festival itu tidak ada duitnya, karena tidak ada donatur atau sponsor yang besar. Bahkan kami pun menanggung hutang, tapi yang tidak kami duga animo masyarakat perfilman cukup luar biasa. Ini menjadi prestasi tersendiri,” ujarnya.

Joko menceritakan dalam membiayai GKS, ia kerapkali mengeluarkan koceknya sendiri.  “Air, kebersihan dan pengeluaran gedung ini ditanggung oleh para penggiat GKS, termasuk saya. Ini adalah wujud nyata kecintaan dan kerelaan saya untuk ikut mengembangkan seni di kota Solo”, paparnya.

Menurut Joko hal tersebut dilakukannya demi menumbuhkan kembangkan geliat seni orang muda yang sering kali dikelasduakan.

Merintis Ruang Belajar di Desa

Setelah kurang lebih dua tahun menghidupi Gedung Kesenian Solo, Joko Narimo akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di desa Karang Rt.16/04 Pentur Simo Boyolali. Di sana, Joko kembali membuat gebrakan dengan membuka perpustakaan yang ia berin ama Tumpi Readhouse.

“Tepat tanggal 16 Juli 2012, Tumpi Readhouse diresmikan. Saya berharap perpustakaan dan ruang kreatif yang dirintis di Desa pentur ini mampu menjadi sumber ilmu dan ruang sirkulasi masyarakat, serta menjadi tempat pemberdayaan dan pengembangan anak muda di desan ini,” pungkasnya. (Damianus Bram)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *