Menikmati Selat Segar Mbak Lies

Bicara soal Selat Segar Solo, Warung Selat Mbak Lies rasanya sudah tidak asing lagi. Ya, warung yang terletak di Serengan Gang II/42, Serengan, Solo ini memang menjadi incaran, khususnya bagi para penggemar makanan Selat  Segar Solo. Hampir setiap hari, warung yang didesain dengan sentuhan gaya Eropa dan Jawa ini, selalu ramai dikunjungi pecinta selat. Apa rahasianya, berikut liputannya.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB, tampak sejumlah pegawai Warung Selat Mbak Lies sibuk merapikan meja dan membersihkan ruangan serta menyiapkan sajian sayuran yang menjadi bahan racikan selat disebuah etalase. Begitu pula dengan Mbak Lies, meski dia adalah pemilik dari warung kondang tersebut namun ia tetap berada di warung, menemani para pegawainya melayani para pengunjung.

Tak lama berselang, sekeluarga datang untuk menikmati sajian selat segar khas Solo tersebut. Dengan respon cepat, pegawai yang mengenakan seragam kostum pakaian khas Belanda ini langsung menyambut keluarga tersebut. Setelah mempersilahkan keluarga tersebut duduk di meja berkode IND, pegawai tersebut segera mencatat menu yang dipesan keluarga tersebut. Selanjutnya kurang dari 10 menit seluruh sajian sudah tersedia di meja tersebut.

Sunarto, 41, salah seorang anggota keluarga itu kepada soloraya mengatakan, setiap mengunjungi Solo, ia bersama dengan keluarga pasti menyempatkan diri untuk menikmati selat bestik yang menjadi menu andalan dari Warung Selat Mbak Lies. “Selatnya memang benar-benar segar. Jadi kalau ada acara keluarga di Solo pasti menyempatkan waktu makan disini,” ujar warga, Yogyakarta ini.

Ia melanjutkan, kehebatan dari warung makan ini, bukan hanya pada kesegaran sajian selat saja, namun menurutnya juga terletak pada kelezatan setiap irisan sayuran dan daging yang menjadi sajian dari menu tersebut. “Rasanya lidahnya sudah cocok disini. Sayurannya segar, dagingnya empuk dan enak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rika, 17, gadis SMA N 3 Solo ini mengaku sering menikmati sajian selat di Warung Selat Mbak Lies bersama rekan-rekannya. Baginya selat segar Mbak Lies enak dan segar. “Kalau pulang sekolah sering mampir kesini dengan teman-teman. Soalnya selain selatnya enak dan segar, tempatnya juga menyenangkan,” tuturnya.

Mbak Lies, menceritakan, awal mula berdirinya Warung Selat Mbak Lies berawal dari tahun 1986. “Saya ini sejak kecil sudah mencintai selat. Jadi setelah saya lulus SMA, teman-teman saya baik yang lulus ataupun yang tidak lulus saya ajak ke rumah dan saya buatkan selat. Beberapa waktu kemudian saya mulai buka warung, dengan hanya dua meja,” katanya.

selat-mbak-lies
Selat Mbak Lies/aengaeng.com

Pada saat itu, warung tersebut tidak hanya jualan selat, melainkan beragam masakan lainnya, seperti Ledre, Kolak, Mihun, Stop Makaroni, Lontong Opor, dan Selat. “Pada saat itu masakan yang saya jual harganya masih Rp50. Salah satu yang saya ingat waktu itu saya juga jual fanta kembung. Yaitu minuman fanta yang dioplos lalu dijual dengan gelas kecil. Ini dulu laris dibeli anak-anak,” kenangnya.

Lies menceritakan kemampuan memasaknya ia dapatkan dari eyangnya. Semenjak kecil ia sering melihat dan bahkan membantu eyangnya memasak. “Dulu masih usum mainan pasaran. Tapi saya kalau pasaran tidak sama seperti anak-anak zaman sekarang. Jadi kalau pasaran saya pakai api beneran, masaknya ya masak beneran. Dari situlah, kesukaan memasak mulai tumbuh,” ceritanya.

Cinta dan Kerja Keras Berbuah Kesuksesan

Setelah selama enam bulan berjualan beragam masakan, Lies memutuskan untuk hanya menjual menu selat. Ditanya alasan kenapa memilih selat, Lies menjawab karena ia mencintai masakan tersebut. Rupanya kecintaan Lies akan Selat berbuah berkah. Kehebatannya meramu masakan selat, dipadu dengan cinta dan kerja keras berbuah manis. Perlahan tapi pasti, warungnya mulai ramai. Dari dua meja, kini menjadi puluhan meja.

“Saya ini tidak pernah menggunakan iklan dalam mengembangkan usaha ini. Yang jelas kalau tidak mencintai usaha itu tidak akan awet. Kalau orang bisnis itu pasti mikirnya bati. Ia juga tidak perlu masak, hanya tinggal keluarin modal, cari  juru masak  selesai. Tapi jika nanti tidak ramai, ya bisa ditutup usahanya. Kalau saya mikirnya sejak awal tidak seperti itu, saya melakukan usaha ini karena saya cinta. Maka, ramai atau tidak, saya sudah sangat senang,” jelasnya.

Ia melanjutkan, nama Warung Selat Mbak Lies yang kini dikenal luas baik oleh masyarakat Solo, maupun luar Solo, bahkan oleh sejumlah artis, dan pejabat. Bukan karena buah promosi, melainkan hasil dari gethok tular. “Masyarakat yang puas, yang suka dengan masakan ini lalu bercerita kepada yang lain. Tidak ada promosi iklan, hanya gethok tular,” ujarnya.

selat-bestik

Dari Salad Jadi Selat, Muncul Inspirasi Padukan Gaya Eropa dan Jawa

Bicara soal selat, rupanya makanan ini merupakan adaptasi orang jawa dari makanan orang Belanda Salad. Namun apa daya, lanjutnya, lantaran orang Jawa tidak bisa ngomong Salad, maka jadilah selat. Dan bentuk makanannya pun berbeda, kalau Salad penuh dengan sayuran dan mayonnaise dari botol. “Sedangkan kalau selat, ada kombinasi sayuran dan daging steak dengan kuah, yang dilengkapi mayonnaisenya buatan sendiri,” lanjutnya.

Adaptasi selat dari makanan Belanda, Salad, rupanya menginspirasi Mbak Lies untuk membuat perpaduan dekorasi dari dua budaya tersebut.  Perpaduan budaya ini terlihat pada dekorasi dengan banyaknya marmer barat, dan kostum pakaian khas Belanda. Namun disisi lain ada dekorasi  Jawa, seperti lukisan keraton, tulisan huruf Jawa, dan kostum kebaya yang dikenakan pekerja warung tersebut.

Kemudian untuk kode meja menggunakan nama-nama aneh. Seperti meja IND, meja Adam dan Inul, meja Garasi, dan lain-lain. Menurutnya nama kode meja tersebut tidak asal, melainkan ada cerita. “Seperti meja Garasi. Itu dulunya garasi, dan sekarang jadi tempat makan, jadi kita namakan meja garasi. Kemudian meja IND. Pada saat itu sebelum menjadi ruang tempat makan, sedang kondang-kondangnya film Indiana Jones, maka saya namakan IND,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, dalam membuat selat harus selalu menggunakan sayuran yang berkualitas dan daging yang berkualitas. Bahkan agar sayuran selalu nampak segar, setiap satu jam harus selalu diganti. “Agar rasanya juga baik, kualitas sayuran juga harus baik. Setiap satu jam saya selalu mengganti sayuran, agar selalu segar. Sedangkan daging saya pilih yang kualitas baik,” katanya.  (Damianus Bram)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *