Paradoks Sangiran

-

 Seandainya Von Koenigswald tidak melakukan penelitian di kawasan Sangiran, dan kemudian menemukan fosil peralatan batu purba (1934), kawasan ini mungkin tidak akan pernah dikenal sebagai situs manusia purba.  Koenigswald adalah seorang paleontolog dan geolog berdarah Jerman-Belanda yang memberi  banyak kontribusi terhadap penelitian tentang fosil manusia purba di Jawa dan Asia Tenggara.

Dua tahun setelah temuan Koenigswald,  seorang warga setempat menemukan rahang bawah fosil manusia purba di lapisan Pucangan Atas di Sangiran. Sejak itu fosil-fosil lain pun mulai bermunculan di kawasan  seluas 56 kilometer persegi yang mencakup wilayah dua kabupaten, yaitu Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, ini.


“Sampai sekarang temuan fosil di sini sudah sekitar 80 individu manusia purba. Jumlah ini melebihi 50 persen dari seluruh temuan fosil manusia purba di dunia. Ada sekitar 13.000 fosil di museum ini, dan jumlah itu selalu bertambah,” kata  Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Harry Widiyanto.

Dari catatan museum, Homo Erectus mendiami Sangiran  sejak awal zaman Plestosen hingga akhir Plestosen Tengah (sekitar 1,8 juta tahun lalu hingga ratusan ribu tahun lalu). Manusia purba ini berasal dari Afrika, dan sejak 2,5 juta tahun lalu meninggalkan daratan Afrika, menyebar ke berbagai daratan.

-

Mereka mendiami Sangiran setelah air laut surut. Fosil kura-kura, herbivora, gajah jenis stegedon, babi, dan monyet yang ditemukan di lapisan Pucangan-terbentuk sekitar 1,7 juta tahun lalu-menjadi bahan makanan pokok, selain biota rawa dan tumbuhan yang ada di sekitarnya.

Di museum yang terdiri dari bangunan tiga lantai ini tersimpan lebih dari 3.000 fosil, antara lain fosil manusia, fosil hewan darat dan laut, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan peralatan batu purba yang hidup dan ada pada sekitar 800.000 sampai 250.000 tahun lalu.

Beberapa di antaranya adalah tanduk banteng purba, tulang paha dan kepala gajah purba, kepala buaya purba, dan diorama kehidupan homo erectus Sangiran pada 500.000 tahun lalu. Juga prototipe Manusia Flores (Sangiran 17) yang merupakan karya terbaik Elisabeth Daynes, Harry Widianto, dan Dominique Grimaud-Herve.

Koleksi-koleksi dipajang di tiga ruangan, berupa ruang pameran, diorama, dan data. Museum juga menyediakan ruangan audio visual mengenai proses evolusi manusia (animasi) yang  mengikuti kaidah survival of the fittest menurut teori evolusi Charles Darwin.

Beberapa tahun lalu, kawasan Sangiran bukan hanya surga bagi para wisatawan. Warga sekitar  pun bisa menikmati kiebesaran situs ini, karena bebas mengeksplotasi tanah yang menyimpan fosil-fosil dan artefak budaya manusia purba. Tak jarang mereka menemukan fosil yang harganya sangat mahal.

Bukan rahasia lagi, tanah Sangiran seolah menjadi lahan tambang bagi warga sekitar. Banyaknya fosil yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah dirasa lebih menarik dibandingkan dengan tanah pertanian mereka yang kering dan tandus. Tak heran jika banyak terjadi prakek penjualan fosil secara ilegal dan sembunyi-sembuyi di kawasan ini.

Padahal jika menemukan fosil warga seharusnya menyerahkan ke museum dan akan mendapatkan imbalan. Namun kecilnya jumlah imbalan dan lamanya waktu pembayaran yang sampai berbulan-bulan membuat warga memilih jalannya sendiri. Mereka lebih suka menjual ke pembeli gelap. Selain harganya jauh lebih mahal, pembayaran juga cepat.

“Ada orang yang menghubungkan warga dengan calon pembeli. Begitu cocok dengan barangnya ya langsung dibayar saat itu juga,” kata Wardoyo, seorang warga Sangiran yang lain.

Imbalan Fosil

Namun ketika Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya mulai diberlakukan, kegiatan perburuan dan jual-beli fosil perlahan berkurang. Warga tak bisa lagi sembarangan menggali tanah, mencari batu alam, atau menambang pasir meski di lahan mereka sendiri.

-

“Pokoknya kami dilarang menggarap tanah. Sebagai gantinya, kami diberi pelatihan membuat kerajinan batu, patung manusia purba, gantungan kunci, tiruan fosil, dan membuat kaos untuk souvenir,” kata Sulastri,  warga Desa Krikilian, Sangiran.

Menurut Harry, sebelum menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti sekarang ini, situs Sangiran hanya berupa kantor museum. Sebagai museum yang berdiri sendiri, jelas Harry, pihaknya memang tidak memiliki dana   untuk imbalan fosil yang diserahkan warga.

Ketika itu  imbalan untuk fosil hanya berkisar Rp 200.000 sampai Rp 500.000. Warga pun harus menunggu dua hingga tiga bulan untuk menerimanya, karena pihak museum harus mengajukan dana ke kantor pusat (Jakarta). Namun sejak Museum Sangiran menjadi UPT, pihak museum mampu memberi imbalan lebih besar dan cepat bagi penemuan fosil.

“Belum lama ini kami memberikan imbalan sebesar Rp 10 juta untuk penemu fosil  kepala banteng. Beberapa kali kami memberikan uang tali asih sebesar Rp 2 juta dan Rp 4 juta. Kalau fosilnya in situ (masih di lokasi penemuan), imbalannya besar. Kami juga memberikan sertifikat dan nama warga dicatat sebagai penemu fosil,” ujar Harry.

Mengenai larangan warga untuk menggarap lahan, menurut dia,  semata-mata karena kawasan Sangiran harus dilindungi. Kawasan ini, lanjut dia,   menyimpan berbagai fosil tentang sejarah manusia purba berikut habitat dan ekosistem yang nilainya sangat penting bagi ilmu pengetahuan.

“Areal situs sekarang sudah dianggap rusak, karena sekitar 80 persen kawasannya sudah dieksploitasi warga. Kerusakan seperti ini harus dihentikan,” ujar Harry.

Maka, pihak museum pun melarang warga untuk melakukan penggalian lahan. Sebagai gantinya, museum menawarkan pelatihan membuat kerajinan bagi warga.

“Hewan laut seperti kerang dan batu-batu laut masih bisa digarap menjadi kerajinan, karena jumlahnya masih sangat banyak. Tapi penemuan benda-benda artefak dan fosil harus dilaporkan,” jelas dia.

Sejak dua tahun lalu, sebanyak 75 perajin tergabung dalam kelompok-kelompok kecil di bawah Kelompok Ekonomi Kreatif Sangiran. Mereka juga membentuk Koperasi Pedagang Suvenir Museum Sangiran, di manasebanyak  20 pedagang menempati 20 kios secara gratis fasilitas museum. Namun masalah tetap muncul. Para perajin merasa produk mereka belum memenuhi selera pembeli karena kualitas belum sesuai dengan standar.

“Seharusnya pihak museum tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga bantuan peralatan. Selama ini kami hanya diberi peluang, tapi modal dan peralatan diusahan sendiri. Modal hanya sedikit, kami tidak bisa membeli peralatan modern,” kata Kirman, seorang perajin batu.

Kepala Desa Krikilan Widodo pun mengungkapkan bahwa warga di sekitar museum hingga saat ini belum sepenuhnya bisa menikmati kompensasi dari keberadaan  situs Sangiran. Dia mencontohkan penjualan tiket museum, retribusi parkir, dan toilet masih dikelola Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sragen. Tahun 2012, museum menyumbang Pendapatan Asli Daerah ()PAD) Kabupaten Sragen sebesar Rp  Rp 800 juta.

“Namun  kondisi jalan desa menuju museum rusak parah. Padahal kalau jalan bagus bukan hanya warga yang menikmati. Museum pasti juga akan diuntungkan,” kata Widodo.

Alhasil warga merasa nama besar Museum Sangiran belum bisa memberi kenikmatan yang setimpal dengan kehidupan mereka. Warga tak bisa menggarap tanah karena tandus dan kering. Pada sisi lalin, mereka juga tak bisa mengelola tanah, misalnya dengan membuat batu-bata, genteng, dan menambang pasir karena larangan undang-undang.

“Pihak museum dan pemerintah kabupaten belum serius melibatkan warga dalam mengelola wisata ini. Kami belum puas,” ujar Sulastri.(Ganug Nugroho Adi)