Semaan Alquran: Tradisi suci di Bulan Ramadhan

Selain sholat tarawih, amalan yang tidak ditinggalkan oleh umat Islam di bulan Ramadhan  adalah semaan, tadarus, atau membaca kitab suci Al Quran. Tak heran jika pada bulan Ramadhan, masjid-masjid, mushola, dan pondok pesantren ramai dengan orang mengaji.
Tradisi membaca  Aquran ini pun dilakukan dengan berbagai cara dan waktu yang berbeda-beda. Beberapa masjid melakukan semaan menjelang dan sesudah waktu-waktu sholat wajib selama sekitar satu sampai dua jam. Namun khusus pada malam hari biasanya waktu tadarus lebih panjang tergantung kekuatan santri.
Tradisi semaan hingga khatam (tamat membaca kitab suci Alquran) ini sudah menjadi tradisi.   Di beberapa masjid tua di Surakarta, Jawa Tengah, seperti Masjid Agung Kraton Surakarta, Masjid Alwutho Mangkunegaran, dan Masjid Laweyan, semaan terlihat ramai dari awal sampai akhir bulan Ramadhan.  Acara biasanya dimulai setelah berbuka puasa, kemudian dilanjutkan setelah sholat tarawih. 
Setiap malam di ketiga masjid tua ini semaan diikuti seratusan  orang. Mereka tidak hanya datang dari kota Solo, tapi juga kota-kota sekitarnya, seperti Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, dan Wonogiri. Mereka yang hadir akan bertambah banyak setelah puasa hari ke-17 hingga malam ke-29.
“Malam ganjil dipercayai sebagai malam turunnya Lailatul Qadar. Pahalanya  1000 bulan jika ki8ta melakukan ibadah pada malam-malam ganjil secara terus-menerus,” kata Ketua Takmir Masjid Al Wustho, Muhammad Toha Mustafa.
Dimulai seusai Dzuhur
Di bulan Ramadhan, lanjut Mustafa, Masjid Alwustho selalu mengelar tradisi semaan. Setiap hari, selama bulan ramadhan masjid ini tak pernah sepi jamaah yang akan mengikuti tradisi membaca Alquran. 
“Kami mulai semaan seusai sholat Dzuhur sampai menjelang waktu sholat Azhar. Selama sekitar tiga jam, mereka tidak hanya membaca Alquran, tapi juga mendengarkan kajian serta tafsirnya,” ujar Mustafa.
 Di Masjid Alwustho, tradisi semaan ini rutin digelar sejak awal tahun 1940-an. Selama 25 hari dalam bulan Ramadhan, para santri menyelesaikan seluruh bacaan Alquran, yaitu sebanyak 30 juz yang terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat. 
Bagi santri yang yang baru bisa membaca Alquran, biasanya mereka akan tamat  pada malam ke-25. Namun bagi mereka yang  sudah lancar membaca Alquran, selama  bulan Ramadan bisa membaca khatam dua sampai tiga kali.  
“Pada hari ke-26, mereka membaca ulang dari juz 1 sampai juz 30,” jelas Mustafa.
Di Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Solo karena merupakan peninggalan Kerajaan Pajang, semaan dilakukan jamaah secara berkelompok. Dalam setiap kelompok yang terdiri dari empat atau lima santri akan dibimbing oleh seorang  pengurus takmir masjid untuk membaca Alquran.
Di banding masjid-masjid tua lain di Solo, jumlah santri yang semaan di Masjid Laweyan memang tidak  banyak karena bangunan masjid tergolong kecil. Semaan  di masjid ini lebih  dikhususkan bagi mereka yang baru belajar membaca Alquran. 
“Setiap Ramadhan, kami bisa mengantarkan 20 sampai 30 santri khatam Alquran. Jumlahnya memang tidak sebanyak di masjid-masjid besar, tapi  kami sudah memulai tradisi ini sejak 20 tahun lalu” ujar Muhammad Iqbal, seorang pengurus takmir Masjid Laweyan.
Di hampir semua Ponpes
Di Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta keramaian mulai terlihat selepas puasa hari ke-10. Pada malam-malam ganjil di sepertiga bulan Ramadan, jamaah berdatangan memadati masjid. Tak jarang jamaah sampai meluber hingga ke bagian serambi. 
Tak hanya masjid, semaan juga dilakukan oleh banyak pondok pesantren (Ponpes). Salah satunya adalah Ponpes Baitul Mustofa di Mojosongo, Jebres, Surakarta. yang  mempunyai cara unik dalam melakukan tradisi semaan Alquran. Pada hari-hari tertentu, para santri melakukan semaan di alam terbuka dengan menggunakan penerangan obor dan lampu teplok.
“Kami ingin mendekatkan santri dengan alam. Cara seperti ini juga untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan kewajiban mengaji, meski hanya dengan  penerangan seadanya,” kata pengasuh ponpes, Singgih.
Semaan di lapangan terbuka ini biasanya dilakuklan setiap malam Jumat. Maka, pada Kamis (1/8) malam lalu, seratusan santri yang sebagian besar masih anak-anak berjalan menuju tanah kosong tidak jauh dari pondok.
Di tengah udar dingin dantiupan  angin yang lumayan kencang, mereka duduk di atas tikar di tengah lapangan. Nyala obor dan lampu teplok terus-menerus bergoyang karena angin. Namun para santri tetap antusias untuk mengikuti semaan.
Acara diawali dengan shawatan, yaitu melantunkan tembang-tembang pujian untuk Nabi Muhammad SAW. Puluhan para pengurus pondok duduk berhadap-hadapan dengan kelompok santri. 
Tetabuhan rebana dan syair-syair slahawat pun terdengar memecah  keheningan. Suasana yang gelap –hanya terang nyala obor dan lampu teplok- semakin menambah suasana religius.
 
Sholallahu ’Alaa Muhammad
Wa ’Alaa Aliihi Wa Salam
Sholallahu ’Alaa Muhammad
Wa ’Alaa Aliihi Wa Salam
 
Selang satu jam kemudian, semaan pun dimulai. Didampingi oleh para pengasuh, para santri  membaca Alquran sekitar 20 surat. Pembacaan surat-surat ini merupakan kelanjutan dari surat-surat yang sudah mereka baca sebelumnya. Sebab selain semaan di alam terbuka, setiap pagi, siang, sore, dan malam para santri juga membaca Alquran di bangsal pondok.  
“Setiap malam kami melakukan semaan bersama sampai akhirnya khatam sebelum Ramadhan selesai. Tujuan semaan ini tidak lain untuk mencari ridhlo Allah SAW,” kata Singgih.
Singgih menambahkan pihak ponpes selama ini membeaskan santri membaca Alquran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sebab tidak semua santri, terutama para santri anak-anak, memiliki kemampuan yang yang sama. Namun untuk santri senior  diwajibkan khatam Alquran pada malam tanggal 17.
“Setelah malam ke-17 , setiap malam kami secara bersama-sama membaca Alquran sekaligus  memperingati Nuzulul Quran. Tradisi suci ini akan terus kami pelihara,” tambah Singgih.
Semaan Alquran dengan menggunakan penerangan seadanya seperti lampu teplok dan thinthir (lampu dari botol bersumbu) juga sudah menjadi tradisi di Ponpes Condrodimuko, Sukoharjo, Jawa Tengah. Namun berbeda dengan Ponpes Baitul Mustofa, semaan di Condrodimuko ini dilakukan di dalam ruangan.
“Dengan penerangan seadanya, kami melatih para santri agar fokus dan konsentrasi. Kami mencoba menghadirkan suasana pedesaan yang hening agar para santri bisa lebih khidmad menghayati ayat-ayat suci Alquran yang mereka baca,” kata pengasuh ponpes Agung Syuhada.
Semaan biasanya dimulai selepas shalat tarawih hingga tengah malam. Setelah istirahat beberapa jam, para santri akan melanjutkan membaca Alquran seusai sholat subuh sekitar hingga sekitar pukul 06.00. Mereka akan kembali membaca Alquran setiap menjelang waktu shalat lima waktu. 
“Kami berusaha membangun tradisi semaan sejak santri anak-anak. Ketika mereka dewasa kelak, membaca Alquran akan menjadi kebiasaan,” jelas Agung. (Ganug Nugroho Adi)