Wahyu Inong Widayati: Parodi Sahita

Kelompok parodi, teater, dan tari Sahita melambungkan nama Wahyu Widayati alias  Inong ke dunia seni  pertunjukan. Padahal kelompok yang dibentuk tahun 2001 itu awalnya sekedar sebagai ajang reuni bagi empat perempuan yang berkawan akrab semasa kuliah yang kebetulan juga tergabung dalam Teater Gapit, sebuah teater berbahasa Jawa di Surakarta.

“Ketika Mas Kenthut (Bambang Widoyo, pimpinan Teater Gapit) meninggal, kegiatan Gapit mulai surut, dan kemudian kosong sama-sekali. Sahita awalnya hanya untuk kangen-kangenan karena lama tidak pentas,” ujar  Inong.

-

 Namun tak diduga, Sahita justru bisa bertahan sampai kini. Mengusung konsep tari, teater, parodi, dan komedi, empat anggota lain kelompok ini adalah  Sri Lestari (Cempluk), Suharti (Hartuk), Sri Setyoasih (Thing-thong), dan Atik Kenconosari. Kecuali Sri Lestari yang tamatan  Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo,  empat anggota lainnya merupakan alumni Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

“Sahita memang melambungkan nama para anggotanya. Tapi bagi saya, Gapit adalah guru  yang paling berjasa mengantarkan saya ke tempat yang sekarang ini,” kata Inong yang kini bekerja di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

Guru Tari

Meski tamat Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), dan kemudian melanjutkan ke ISI  Surakarta, namun Inong mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penari professional.

“Fisik saya tidak ideal untuk seorang penari, apalagi penari Jawa alusan (tari halus). Saya tidak cantik, dan badan saya tidak tinggi. Jadi saya harus tahu diri ha ha ha… “ kata istri dari Murtianto, seorang perupa.

Satu-satunya cita-cita setamat dari kuliah adalah menjadi guru tari di sekolah formal, seperti Sekolah Dasar, SMP atau SMA. Apalagi ketika itu seorang kerabat yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjanjikan akan membantunya menjadi guru kesenian.

“Saya hanya ingin menjadi guru, bukan dosen. Kemampuan saya pas-pasan. Malu kalau nanti mahasiswanya lebih pinter dari saya,” kata dia berkelakar.

Namun keinginannya menjadi guru berbelok ketika ia ditawari oleh Kenthut untuk pentas bersama Teater Gapit dalam lakon Reh tahun 1987. Ia dipilih karena kemampuannya dalam hal nembang (menyanyikan lagu-lagu Jawa) yang di atas rata-rata.

Pentas pertama saya benar-benar hanya nembang. Tapi untuk pentas-pentas berikutnya saya harus akting, dan mulai menjadi pemeran utama. Saya banyak belajar dari Gapit,” kenang Inong.

Di Gapit, Inong pun mulai mendapatkan gambaran tentang dunia kesenian yang lebih luas. Tidak hanya tari dan tembang, ia juga belajar akting, gestur, bloking, dan semua  hal tentang dramaturgi.

“Sebelum bergabung di Gapit, saya hanya tahu tari. Pokoknya kesenian itu ya tari. Tapi ternyata ada peran lain yang bisa saya lakukan selain menari. Dunia kesenian menjadi  luas, lebar, dan lega,” kata perempuan kelahiran Sragen,  1 Februari 1964 ini.

Teater Gapit, dan kemudian Sahita membuat dirinya lebih dikenal sebagai pemain teater dari pada penari. Inong merasa beruntung bisa bertemu dengan seniman-seniman Teater Gapit, seperti Dedek Wahyudi, Djarot B Darsono,  Trisno Santoso (Pelok), Wahyudiato, dan Budi Prasetyo (Bayek).

“Untuk saya, Teater Gapit mengubah banyak hal. Saya bisa mengambil peran yang lebih di dunia kesenian. Sebelumnya saya merasa bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang mahasiswa yang tersesat di fakultas kesenian. Tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ujarnya berseloroh.

Kemampuannya menari, nembang, dan akting akhirnya membuatnya diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta. Cita-cita menjadi seorang guru tari di sekolah formal pun ia lupakan.

“Biar orang lain yang menjadi guru. Mungkin Tuhan tahu saya tidak pantas menjadi  guru,” kata perempuan yang biasa bicara ceplas-ceplos ini.

Lahir di Desa Gebang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah, Inong tumbuh dan besar dalam keluarga petani. Rumah neneknya yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tuanya sering  menjadi tempat bersinggah bagi rombongan tledhek barangan (penari tayub keliling).

“Di wilayah Sragen, rombongan tledhek bisanya pentas keliling dari desa ke desa dalam waktu yang lama. Mereka sering istirahat dua sampai tiga hari di rumah nenek yang kebetulan memiliki pendapa besar. Saya sering melihat mereka menari, dan kemudian ikut-ikutan menari,” kata dia.

 Parodi Sahita

Menurut Inong, para tledhek itulah yang pertama kali mengenalkan dirinya dengan tari dan tembang Jawa.  Pengalaman masa kecil itu pula yang kemudian menjadikannya terobsesi untuk belajar tari.  Maka, ketika tamat SMP Inong bersikeras untuk masuk ke SMKI, dan kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Seni Kerawitan Indonesia (sekarang ISI Surakarta). Ketika kuliah itulah ia bertemu dengan orang-orang yang menurutnya ajaib yang kemudian ikut melahirkan Sahita.

Bersama Sahita, Inong telah pentas dalam skala nasional maupun internasional. Dalam drama-tari kolosal Matah Ati (2013), Sahita menjadi pemanis bagi lakon yang menggambarkan kisah asmara serta perlawanan Pangeran Sambernyawa bersama Rubiyah menghadapi pasukan kompeni. September lalu, Inong juga tampil dalam Festival Tari internasional, Asia Tri, di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Yogyakarta.

Di awal-awal pembentukannya, Sahita pernah membuat geger kalangan keraton karena menampilkan lakon Srimpi Srimpet, sebuah lakon plesetan dari Tari Srimpi. Lakon ini dinilai pihak keraton melecehkan tarian sakral Srimpi. Namun Inong terus maju.

“Lewat Srimpi Srimpet saya justru mengritik kesakralan yang seolah-olah tidak bisa disentuh. Seni-budaya keraton yang adi luhung seharusnya terbuka agar bisa dilestarikan. Jika tidak, maka kesenian tradisi kita hanya akan menjadi artefak,” kata Inong.

Inong menjadi penggerak bagi Sahita mengaku selama ini ia hanya mengatur jadwal latihan, mempertemukan perbedaan-perbedaan di panggung, dan mengkomunikasikan keinginan anggota.

“Untuk koreografi, mereka lebih pintar dari saya. Tidak ada sutradara tunggal dalam pentas-pentas Sahita. Semua kita lakukan bersama, mulai pemilihan lakon, penulisan naskah, dan koreografi,” jelas Inong.

Namun lebih dari 10 tahun bergabung di Sahita, Inong telah melahirkan lakon-lakon yang fenomenal dari tangannya, antara lain Srimpi Srimpet , Lima Ganep (2001), Iber-iber Tledhek Barangan (2002), Pangkur Brujul (2003), Gathik Glindhing (2004), Seba Sewaka (2005), dan Alas Banon (2008).

Potret kehidupan warga desa menjadi warna bagi naskah-naskah yang digarap Inong. Kedekatannya dengan dengan kehidupan tledhek barangan misalnya, melahirkan karya Iber-iber Tledhek Barangan. Lewat lakon ini, ia  menampilkan sisi kehidupan sehari-hari seniman tayub keliling yang sebelumnya tidak pernah diungkap.

Sama halnya dengan lakon Pangkur Brujul yang menggambarkan potret kehidupan seorang seniman desa, dan Alas Banon yang bercerita tentang rusaknya irigasi desa.

Bertahun-tahun tergabung dalam Teater Gapit, Inong tidak mengelak jika warna Sahita sangat dipengaruhi oleh Kenthut sebagai pendiri dan sutradara Gapit.

“Mas Kethut yang mengenalkan dan membingimbing saya pada kesenian. Wajar kalau gaya dan warna Teater Gapit mempengaruhi saya, dan kemudian Sahita,” kata Inong yang September lalu bersama Sahita  tampil dalam Solo City Jazz.

Di luar pengaruh warga Gapit, penguasaan Inong atas tari tradisi, gamelan,   tembang Jawa, dan kepiawaiannya menampilkan komedi dan parodi menjadi magnet tersendiri bagi lakon-lakon yang dibawakan oleh Sahita. Tidak heran jika banyak kalangan yang menyebut bahwa Sahita identik dengan Inong.

“Dalam setiap proses kreatif saya sebenarnya hanya sebagai koordinator latihan, dan pemberi aba-aba gerakan saja. Di luar itu adalah hasil improvisasi mereka sendiri,” tutur dia merendah.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *