Warung Hik, Denyut Solo di Waktu Malam

 

-

Datang ke Solo tanpa menikmati wedangan di warung hik ibarat mendengarkan sebuah lagu yang tidak selesai.  Kalimat seperti itu sering dilontarkan kepada orang-orang yang baru datang ke Solo atau Surakarta. Makna kalimat itu, jika Anda datang ke Solo, maka hukumnya “wajib” untuk mampir ke wedangan di warung hik. Bukan sekadar makan dan minum, tapi lebih karena suasana wedangan itu sendiri.


Wedangan adalah sebutan untuk nongkrong di warung hik sambil makan, minum dan ngobrol. Di Solo, warung hik berupa gerobak kayu berukuran panjang 1 m x 2 m, beratap kain terpal dengan warna biru atau  oranye yang menyolok. Tempat duduk pembeli berupa bangku kayu panjang yang diletakkan di depan dan samping kanan-kiri gerobak, serta berlembar-lembar tikar.

Sajiannya begitu khas; teh oplosan ginasthel, jahe gepuk, kopi jos atau pun  wedang tape.  Juga berderet jajanan istimewa, seperti sega kucing (nasi kucing), jadah bakar, sate kikil, sate usus, sate telor puyuh, daging burung puyuh, pisang goring sus (pisang owel), tempe dan tahu bacem, serta  sega kucing (nasi kucing.

Disebut nasi kucing, karena porsinya yang hanya sekepal seperti porsi untuk pakan kucing, dengan lauk sambal dan bandeng yang hanya secuil dengan bungkus kertas Koran atau daun pisang. Sedangkan teh oplosan adalah campuran beberapa merk teh  dengan takaran tertentu. Biasanya, pedagang memadukan rasa pahit, sepet dan kekentalan teh. Dengan tambahan gula pasir atau gula batu, maka jadilah ramuan teh nasgithel yang merupakan singkatan dari panas, legi dan  kenthel (manis, panas dan kental.

-

Ada juga variasi minuman yang muncul justru dari selera pelanggan, seperti teh-susu (teh dicampur susu kental manis), teh jahe (teh ditambah jahe), teh kampul (teh dengan irisan jeruk nipis di dalamnya) atau pun kopi jos (kopi yang dicelupi arang membara) sebelum disajikan. Dinamakan kopi jos, karena saat diselupi bara arang akan terdengar suara “jos”).

Tapi terlepas dari sajian yang aneka ragam itu, laku tidaknya sebuah warung hik biasanya hanya diukur dari enak tidaknya teh yang disajikan.

“Teh itu ibarat etalase waung hik. Kalau tehnya nggak enak, jangan harap pembeli akan datang lagi,” ujar Basuki yang mengelola wedangan di kawasan Purwosari.

Warung hik adalah denyut kehidupan malam Kota Solo. Warung seperti ini begitu mudah ditemui di jalan-jalan, mulai pinggir jalan besar hingga jalan-jalan kampung. Warung hik teh dan nasi kucing adalah menu favorit. Perkara harga sungguh fantastis murahnya. Untuk minuman dan jajanan termasuk nasi kucing harga mulai Rp 1.000 hingga Rp 2.500.

Hidangan Istimewa Kampung

Pada era tahun 1960-an, pedagang warung hik tidak mangkal seperti sekarang. Sebaliknya, pedagang memikul angkring dagangannya menyusuri jalan-jalan kampung sambil sesekali meneriakkan dagangannya:  “Hiiik….Hiiikkk…!” Lalu orang-orang berhambur keluar rumah.  Mereka pesan teh, kopi, wedang jahe, jadah bakar, nasi kucing. Orang-orang menikmati pesanannya sambil duduk dan ngobrol di sekitar angkring.

Tak ada arti yang pasti dari kata “hik” ini. Sebagian mengartikan “hik” sebagai singkatan dari “hidangan istimewa kampung”. Tapi ada juga yang mencoba memaknai “hik” dari sisi budaya. Konon, kata “hik” ini berasal  tembang rakyat yang selalu dilantunkan pada setiap malem selikuran (puasa hari ke-21) semasa pemerintahan Raja Surakarta Paku Buwono X.

ting-ting hik, jadah, jenang, wajik

ojo lali tinge kobong…

(lampu-lampu minyak hik, jadah, jenang, wajik

jangan lupa lampunya terbakar)

Namun, hik sendiri tidak memiliki makna religius apa pun. Hik hanya menjadi identitas, sekadar nama bagi warung wedangan yang awalnya dijajakan keliling kampung dengan angkring atau gerobak dan penjualnya meneriakkan “hiiiikk…hiiikk….”.

Sekarang, pedagang hik tak lagi mendorong gerobak atau memikul angkringnya. Mereka memilih mangkal di tempat-tempat strategis; sekitar perempatan jalan kampung, alun-alun, pusat keramaian kota, sekitar kampus serta di pinggir jalan besar. Semuanya memiliki pelanggan-pelanggan yang fanatik, sebut saja hik Pak Wiryo di kawasan Laweyan, Pak Gerok di Adisutjipto, Basuki di Purwosari, Pak Kumis di selter kompleks Stadion Manahan, juga hik honggowongso di Jalan Honggowongso. Di warung hik, orang-orang datang bukan semata-mata untuk makan dan minum. Sebaliknya, mereka datang ke hik lebih karena mencari tempat dan suasana untuk ngobrol.

“Di warung wedangan, mereka membeli suasana. Teh, wedang jahe, jadah bakar, sega kucing dan lainnya itu sekadar untuk melengkapi suasana itu,” ujar  Muchus Budi Rahayu, seorang penggemar wedangan.

Maka, tambah Muchus, tak heran jika mereka yang datang ke hik bisa betah sampai berjam-jam, sampai larut malam, menghabiskan dua tiga gelas minuman.

“Warung hik itu tempat nongkrong yang demokratis dan romantis. Meski hanya pesen teh panas segelas, kita bebas nongkrong dan jagongan sampai pagi. Penjualnya tidak bakal mengusir, kecuali kalau warungnya mau tutup,” lanjut Muchus setengah berkelakar.

Dulu, warung hik merupakan stereotip bagi kalangan bawah dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan; mahasiswa, tukang becak, buruh dan  karyawan rendahan. Namun, stereotip ini boleh jadi tak lagi berlaku. Sebab, banyak warung hik yang kini justru dimintai kalangan kelas atas. Di beberapa warung hik, pelanggannya datang dengan mobil mewah yang bisa menikmati makan mewah di restoran mahal.

-

Belakangan ini di Solo bermunculan wedangan mejo dowo (warung hik meja panjang). Tambahan nama “meja panjang” muncul, karena gerobak atau angkring yang digunakan memang  besar dan sangat panjang dengan ukuran lebar 2 meter dan serta panjang antara 6 -8 meter.

Tak hanya ukuran yang berubah. Minuman dan makanan pun lebih variatif. Perilaku pengunjung pun banyak berubah. Banyak dari mereka datang ke warung hik meja panang ini sekadar untuk makan.

Di warung hik meja panjang pengunjung cenderung pengunjung datang sekadar untuk makan, bukan melepas penat atau ngobrol seperti layaknya di warung hik konvensional. Sesekali mereka dating bersama keluarga. Warung hik meja panjang pun hamper tak berbeda dengan rumah makan. Lampunya terang, tak lagi remang-remang.

“Warung hik sekarang makin gaul saja. Ada yang mengemas seperti kafe, lengkap dengan fasilitas orgen tunggal, karaoke, hot spot dan TV kabel. Warung hik jadi lebih modern, meski yang dijual tetap sega kucing dan jadah bakar,” ujar Ari Sunaryo, penikmat wedangan.

Bisa jadi, banyaknya penikmat wedangan di Solo membuat warung hik sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Bukan saja bagi pemilik warung, tetapi juga pemasok sega kucing dan jajanan lain, tukang cuci piring, tukang parkir, seniman jalanan, semua kecipratan rejeki si sega kucing. Warung hiktelah memunculkan rantai sistem ekonomi kerakyatan yang nyata. (Ganug Nugroho Adi)