Barata Sena: Mendobrak Furniture Konvensional

-

“Tidak ada kayu jelek. Setiap kayu memiliki potensi yang luar biasa untuk dibangkitkan. Jangan pernah lagi beranggapan bahwa kayu jati merupakan kayu terbaik,” kata Barata Sena, seorang pekerja seni kayu asal Solo, Jawa Tengah.

Ia bukan sekadar bicara. Karya-karyanya; kriya, fine art, dan furniture lahir bukan dari bahan baku kayu jati.  Barata juga tidak alergi dengan kayu retak, pecah, dan kayu rusak karena dimakan rayap. Sebaliknya, ia justru memanfaatkan kekurangan kayunya  menjadi karya yanya  menawan, indah, dan mengejutkan.

“Mereka yang bekerja di dunia perkayuan biasanya menghindari kayu yang kena rayap. Saya tidak. Saya selalu melakukan eksplorasi karena karya seni sebenarnya tergantung pada pengetahuan, bukan semata-mata bahan baku,” ujar pria klahiran Solo, 22 Maret 1969 ini.

Tentang  kayu yang dimakan rayap itu, Barata pernah melahirkan karya seni kayu yang  menggemparkan.  Suatu ketika, ia menemukan tumpukan kayu yang sedianya untuk bahan baku membuat karya rusak karena dimakan rayap.

Namun, di balik kerusakan itu Barata justru  menemukan keindahan tekstur kayu yang menawan. Ia pun melakukan eksperimen dengan meletakkan kbeberapa karya furniture seperti meja, kursi, dan lemari, ke tempat yang banyak rayap.

Setiap minggu ia mencatat perkembangan yang terjadi. Sesekali ia mengganti posisi furniturnya  untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Setelah satu bulan, meja, kursi, dan lemari yang semula utuh dan mulus itu berubah menjadi karya seni yang luar biasa.

“Bagian-bagian kayu yang dimakan rayap itu menghasilkan tekstur yang sangat artistik. Bagi saya, tidak ada keindahan pahatan rayap yang bisa ditandingi oleh tangan manusia,” ujar dia.

Menurut Barata, rayap, semut, dan kutu adalah co-creator bagi orang-orang yang telah bertemu “jalan”. Sebelum kecerdasan kreatifnya bergerak, lanjut dia, makhluk-makhluk hidup super kecil itu telah bergiat mengawali karya-karyanya.

Tidak hanya rayap, Barata juga pernah melakukan eksplorasi kayu dengan cara meniru proses pembuatan arang kayu. Ia nekat memasukkan meja, kursi, dan lemari yang baru selesai dikerjakan ke dalam tanah dan membakarnya.

Begitu furniturnya diangkat, hasilnya sangat mengejutkan. Meja, kursi, dan lemari yang semula mulus berubah seperti arang dengan  tekstur berupa riak-riak ritmik kehitaman  eksotik- Ketika dipamerkan, furniture-furniture gosong ini laku dengan harga yang mencengangkan.

“Dengan mengoleskan cairan kimia, furniture yang sudah menjadi arang itu menjadi kuat dan tidak nglanges (  menyisakan warna hitam pada tangan ketika disentuh),” kata jebolan jurusan Seni Kriya, Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Karya-karya Barata memang berada di luar “pakem” karya furniture pada umumnya. Tidak hanya terpaku pada bentuk furniture, karya-karya Barata juga terinspirasi dari benda sehari-hari di sekitarnya.

Tahun  2011 misalnya, ia menggelar pameran Jalan Kayu di Balai Soedjatmoko, Suralarta, yang menampilkan karya-karya fashion berbahan baku kayu; pakaian dalam wanita, tanktop, selendang, kebaya, rompi, baju, hingga sepatu.

Barata sangat detil menggarap karya-karyanya. Tidak hanya membutuhkan teknik pahat dan ukir yang tinggi, namun juga memerlukan kecermatan dalam menggarap  ornamen seperti renda, jahitan, kancing baju semirip aslinya pada kayu dengan tebal  antara 3 sampai 5 milimeter.

Dua tahun kemudian, Barata kembali menggelar pameran bertajuk Setimbang di Galeri Rumah Rempah, Colomadu, Karanganyar. Berbeda dengan pameran sebelumnya, kali ini Barata menampilkan karya furniture dalam perspektif yang berbeda.

Pasalnya, meski terdapat embel-embel furniture, namun karya yang dipamerkan merupakan karya-karya yang lepas dari sifat konvensional sebagai furniture. Barata  mendekonstruksi lemari, meja, kursi, dan bufet sehingga menemukan bentuknya yang baru. Beberapa memang kehilangan fungsi, namun sebagian yang lain tetap berfungsi sebagai layaknya benda furniture.

Lemari-lemari berdiri miring dengan dua kaki, sementara dua kaki lainnya berjarak dengan lantai. Namun papan rak dalam lemari tetap sejajar lurus dengan lantai sehingga  tetap berfungsi sebagai mana rak.

“Saya menyebutnya sebagai karya art furniture. Dalam karya seperti ini, estetika desain menjadi orientasi utama, sedangkan fungsi berada di ututan belakang,” jelas Barata di rumahnya, kawasan Jajar, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Lahir dari keluarga sederhana, awalnya Barata melanjutkan kuliah sekadar memenuhi permintaan orang tua. Pilihan pada Jurusan Kriya pun lebih pada  pertimbangan praktis, bukan berdasarkan pertimbangan yang matang.

“Kebetulan saya hobi coret-coret desain. Hanya itu modal saya kuliah di Kriya,” kata dia.

 

Titik Balik

Tiga tahun kuliah, Barata merasa kecewa dengan kondisi kampus yang selalu menyodorkan dikotomi antara seni murni dan kriya. “Sampai sekarang dikotomi masih berlangsung. Seni murni  selalu dianggap lebih baik dari kriya. Seni murni melahirkan seniman, sementara seni kriya melahirkan tukang,” kata dia.

Sekeluar dari kampus, Barata menjalani kehidupan yang jauh dari dunia kesenian;  menjadi sales, dan kemudian berjualan soto. Ia kembali menggeluti dunia perkayuan ketika bekerja di sebuah perusahaan pengembang perumahan di Jakarta.

“Tugas saya membuat rancangan rumah, interior, berikut pengadaan furniture untuk mengisi ruangannya. Awalnya kita order mebeler dari Jepara. Tapi kemudian saya berpikir mengapa tidak membuat mebeler sendiri?” kata bapak dua anak ini.

Itulah titik balik kehidupan berkesenian Barata. Ia pun membuat sendiri meja, kursi, buffet, lemari, dan barang-barang furniture lain untuk mengisi ruangan. Tak diduga, banyak pemesan yang puas dengan karya-karya furniturenya.

Ketika usahanya semakin berkembang, Barata keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan kembali ke Solo untuk membuka usaha sendiri. Selanjutnya ia mulai menyisihkan penghasilan dari pengadaan mebel untuk membuat karya-karya seni kayu.

“Sampai sekarang saya masih mengerjakan furniture umum karena barang seperti itu cepat laku. Sebagian penghasilan dari furniture konvensional itu saya gunakan untuk membiayai kerja art furniture saya,” jelas Barata.

Menariknya, Barata mengerjakan karya-karya seni kayunya tidak dalam ruang kerja  kerja yang tertutup layaknya seniman lain. Sebaliknya, ruang kerjanya terbuka di tengah kampung sehingga setiap orang bisa melihat bagaimana ia membuat karya.

Tak hanya menghasilkan karya-karya seni kayu, Barata juga melengkapi pengetahuannya dengan melakukan riset terhadap kayu. Dari riset bertahun-tahun, ia  berani menyebut bahwa pohon memberikan jenis kayu berdasarkan tanah tumbuhnya.

“Oleh karena itu saya katakan tidak ada kayu jelek. Salah jika orang masih menganggap kayu jati yang terbaik, dan kayu lainnya jelek,” ujar dia.

Barata mencontohkan kayu sengon cocok digunakan untuk membangtun rumah di lereng Gunung Merapi-Merbabu. Sementara glugu (kayu pohon kelapa) sangat baik untuk membangun rumah di atas tanah berpasir.

“Tuhan telah menyediakan kebutuhan kita di sekitar tempat kita tinggal. Kalau kita tinggal di lereng Merapi masih menginginkan kayu jati, berarti kita tidak menghargai apa yang telah dipersiapkan oleh Tuhan,” ujar Barata yang menuliskan hasil risetnya dalam buku Jalan Kayu.

Pergulatannya dengan kayu selama 20 tahun pada akhirnya menghasilkan pemikiran dan perenungan tentang kayu hingga pada tataran filosofi. Manusia seharusnya rendah hati seperti pohon.

Pohon-pohon selalu berjuang keras untuk hidup; bertahan dari kemarau panjang, banjir, juga badai. Setelah besar dan rindang, mereka menyerahkan seluruh hidupnya  untuk lingkungannya. Bahkan ketika mati (tumbang) pun, pohon-pohon masih berguna  bagi lingkungannya. (Ganug Nugroho Adi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *