Basuki Teguh Yuwono: Spiritualisme Keris

-

 Tidak banyak empu (pembuat) keris dengan latar belakang peneliti dan ilmuwan. Salah satunya adalah Basuki Teguh Yuwono. Sebagai seorang empu, ia  menggabungkan nilai keilmuan dengan nilai-nilai tradisi perkerisan (pakem). Sebagai ilmuan, ia haus pengetahuan, penelitian, dan eksperimen.

“Melestarikan itu bukan sekadar menyimpan warisan budaya leluhur, namun juga menciptakan karya luhur baru sesuai dengan perkembangan zaman,” kata Basuki di rumah sekaligus besalen (tempat pembuatan keris), Desa Wonosari, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Dalam usianya yang relatif masih muda, pria kelahiran Karanganyar, 11 September 1976, ini telah menjadi seorang empu yang diperhitungkan. Ia juga menjadi pengampu museum keris  dengan sertifikasi internasional untuk keabsahan  sekitar 400 koleksi berupa keris tangguh sepuh (keris kuno), tombak, beragam  senjata tradisional dari sejumlah daerah, dan manuskrip kuno dari lontar.

Basuki lahir dan tumbuh dalam keluarga yang kental dengan spritual Jawa. Kakeknya, Sapuhan, adalah seorang ahli spiritual dan tokoh adat desa. Ia juga dikenal sebagai ahli warangan (mensucikan) keris. Sementara ayahnya, Suharno, seorang dalang wayang kulit. Sang kakek berperan besar dalam membentuk karakter dan perjalanan hidupnya.

Ketika usianya baru 5 tahun, Basuki mulai dikenalkan dengan laku batin (memahami nilai-nilai ketuhanan cara Jawa). Pada umur 10 tahun, Basuki sudah akrab dengan puasa Senin-Kamis, puasa mutih (hanya makan nasi dan minum air putih), sampai puasa ngebleng (puasa tidak makan dan tidak tidur). Tidak hanya olah batin, sang kakek juga mengajarkan olah kanuragan, seperti  silat dan kungfu.

“Saya kehilangan masa bermain. Kalau tidak sedang puasa pasti latihan bela diri. Di luar itu belajar mengenal tosan aji dan wayang. Jadi tidak ada waktu lagi untuk bermain,” tutur  dia.

Dari latihan bertahun-tahun, kini Basuki menguasai beragam silat dari berbagai daerah, termasuk karate dan kungfu shaolin. Secara batiniah, ia mengaku laku yang selama ini ia jalankan banyak mengajarkan untuk pasrah, berperilaku baik, dan selalu ikhlas menjalani takdir.

“Saya belajar dari filosofi keris. Mulai bilah sampai sarungnya mengandung nilai-nilai ketakwaan kepada Tuhan. Jadi salah besar kalau keris dianggap produk klenik dan sarat dengan mistik,” jelas dia.

Namun meski sudah mengetahui seluk beluk keris sejak anak-anak, tidak otomatis membuat Basuki tertarik untuk menekuni keris. Ketika menginjak usia remaja, ia justru tertarik belajar melukis. Masa SMA banyak ia habiskan dengan kegiatan melukis.

“Tapi bukan lukisan natural. Saya lebih senang menggambar wayang, serat kayu, dan  ukir-ukiran,” kata pria lajang ini.

Selepas SMA tahun 1994, ia masuk Jurusan Kriya  Kayu Insitut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di ISI itulah ia bertemu dengan banyak empu keris seperti Subandi, Yohanes Yantono, Fauzan Pusposukadgo, dan Sukamdi. Mereka adalah para empu keris di Solo yang sampai saat ini masih aktif membuat keris.

“Saya bisa ketemu mereka karena sering main di Bengkel Keris kampus (ISI) untuk melihat bagaimana mereka membuat keris. Awalnya hanya melihat-lihat, namun kemudian ikut mencoba menempa  di besalen,” kenang Basuki.

Beasiswa Penelitian

Dari bengkel kecil di kampus itulah Basuki mulai mempelajari keris lebih serius. Tak hanya ikut menempa, ia juga membaca literatur tosan aji di perpustakaan kampus, serta melakukan riset.   Tahun 1997, ia menerima penghargaan Mahasiswa Berprestasi dalam bidang penelitian tosan aji dari Presiden Soeharto ketika itu.

Setahun kemudian ia mendapat beasiswa dari Yayasan Seni Rupa Indonesia untuk melakukan  penelitian, upaya pelestarian, dan pengembangan keris. Pada tahun yang sama ia juga terlibat dalam proyek restorasi benda bersejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon, mendampingi seorang profesor dari Belanda.

Sejak itu, Basuki sering mendapatkan beasiswa untuk penelian. Selama lima tahun, ia melakukan penelitian keris di Jawa, dan berbagai seperti Kalimantan, Jambi, Palembang, Madura, Tanjung Pinang, Jambi, Lombok, dan Makassar. Beberapa buku yang sudah diterbitkan antara lain Keris Naga dan keris Indonesia.

Pertemuan dengan perupa dan pengampu museum keris di Bali, Pande Wayan Suteja Neka dan Empu Sri Dharmapala Vajrapani membawanya dalam penelitian panjang tentang keris Bali, termasuk meneliti manuskrip berbentuk lontar dari zaman Majapahit yang tersimpan di perpustakaan dan tokoh adat di Bali

“Dari keris kita bisa belajar peradaban budaya masa lalu. Keris itu bukan senjata tanding, tapi merupakan puncak pencapaian dari seni tempa logam yang pernah dimiliki bangsa ini,” jelas Basuki.

Tahun 1999, ia mendirikan Pedepokan Brojobuwono, yang sekaligus menjadi besalen di rumahnya. Di besalennya,  dosen Program Studi Keris Fakultas Seni Rupa ISI Surakarta ini  lebih banyak membuat keris berdasarkan pesanan. Karya-karya kerisnya dibuat sesuai dengan pakem pembuatan keris masa lalu.

Ia tetap menerapkan ilmu petung (perhitungan baik-buruk)  seperti yang dilakukan oleh para empu pada zaman dulu untuk menentukan jenis keris yang cocok bagi si pemesan,  misalnya luk, dapur, dan pamor. Basuki juga mewajibkan pemesan untuk mengikuti rangkaian ritual, termasuk puasa.

“Saya ingin mengembalikan budaya keris sesuai kaidah adat, tradisi, dan ritual sebagai bagian dari spiritualisme Jawa. Keris jangan dilihat dari sisi klenik (mistik), tapi  harus dilihat secara utuh, termasuk aspek sejarah, seni, teknologi, ekonomi, juga nilai-nilai intrinsik (unsur-unsur dari dalam) keris,” kata pria yang masih terhitung keturunan empu keris kenamaan, Empu Jaya Supo dan Empu Singo Wijaya.

Ketika keris selesai dibuat, Basuki melampirkan sertifikat lengkap dengan informasi, penjelasan makna filosofis dan simbolis keris karyanya dan kaitannya dengan si pemesan. Keris-keris karyanya telah dipamerkan dan dikoleksi oleh puluhan  kolektor dari berbagai negara, seperti Jepang, Korea, Thailand, Malaysia, dan Belgia.

Tahun lalu ia  melakukan eksperimen yang menggemparkan dunia perkerisan dengan membuat keris dari lahar Gunung Merapi. Keris yang ia namakan Kyai Naga Minulya ini sempat ditawar Rp 1 miliar, namun tidak dilepaskan.

“Naga Minulya ini saya buat untuk peradaban baru perkerisan nusantara. Ditawar berapa pun tidak akan saya jual,” kata dia.

Tidak banyak empu keris yang juga ilmuan. Di dunia perkerisan, Basuki sering disebut sebagai empu progresif  karena memadukan semangat keilmuan dan konsistensi pada nilai-nilai tradisi.  Ia juga rujukan dan menjadi tempat bertanya  bagi kalangan pencinta keris. Layaknya ensiklopedi berjalan, Basuki selalu bisa  menjelaskan dengan gamblang mengenai seluk-beluk dunia tosan aji (benda budaya karya seni tempa logam),  baik secara fisik, sejarah, dan maupun filosofinya.

Basuki punya mimpi menjadikan keris sebagai karya seni rupa, bukan sekadar kerajinan dan benda klenik seperti anggapan masyarakat selama ini.

“Pada zaman dulu, keris adalah puncak pencapaian seni tempa logam. Di masa sekarang, keris adalah karya seni rupa modern. Selain dilihat dari aspek estetika, juga karena nilai luhur, makna simbolis dan filosofis, serta proses pembuatannya,” ujar pria yang  membina puluhan besalen di beberapa daerah di Indonesia.

Keris dalam konteks pemahaman sebagai karya seni rupa seperti itulah yang akan ia sebarkan kepada masyarakat awam. Museum Keris Brojobuwono yang ia dirikan bersama  seorang pencinta keris, Bambang Gunawan, menjadi  ruang belajar yang selalu terbuka untuk umum.

Sekitar 400 keris dari tangguh sepuh (kuno), tombak, beragam senjata  tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, serta manuskrip lontar tersimpan dalam museum yang diresmikan tahun 2012. Basuki juga melengkapi museumnya dengan buku-buku dan naskah-naskah tentang dunia perkerisan, foto-foto proses pembuatan keris, dan bahan-bahan untuk membuat keris.

Pendirian museum itu berawal dari kunjungannya ke Museum Leiden, Belanda, tahun 2004. Ia mengaku miris setelah melihat banyak koleksi keris dan senjata tradisional Nusantara yang tersimpan di museum itu.

“Saya hanya mengawali. Mudah-mudahan setelah ini ada yang mendirikan musem yang lebih besar, koleksinya lebih banyak dan lebih lengkap,” kata dia.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *