Cak Diqin: Mimpi Campursari Go Internasional

-

Nama pemberian orang tuanya adalah Muhammad Sodiqin. Namun ia kemudian lebih dikenal dengan nama Cak Diqin. Bagi penggemar musik campursari, Cak Diqin bukanlah nama yang asing.  Ia telah mencipta lebih 100 lagu yang hampir semuanya populer. Beberapa lagunya, seperti “Cinta Tak Terpisahkan”, “Tragedi Tali Kutang”, dan “Mister Mendem” sering dinyanyikan mulai dari hajatan perkawinan, panggung-panggung kesenian rakyat, hingga ruang-ruang karaoke.

Musik campursari memang terkesan lebih merakyat. Genre musik ini mulai dikenal awal 1970-an, memadukan instrument dengan nada pentatonis dan diatonik. Dalam perkembangannya, masuk unsur-unsur baru seperti langgam (lagu Jawa), keroncong, dan dangdut. Lirik lagu lebih banyak menyuarakan kehidupan masyarakat pinggiran seperti kisah percintaan, perselingkuhan,  serta guyonan yang menyindir masyarakat kecil.

Lahir di Banyuwangi,  13 April 1964, Cak Diqin tumbuh dalam keluarga bukan seniman.  Orang tuanya, Sarimin dan Murtini, adalah petani tulen yang memberikan pendidikan agama (Islam) secara ketat kepada anak-anaknya sejak kecil.

“Masa kecil saya hanya diisi dengan mengaji dan mengaji. Tidak lebih. Saya lahir bukan dari keluarga seniman. Bapak dan ibu saya petani tulen,” kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Bakat seni Cak Diqin justru dibentuk oleh lingkungan tempat tinggalnya.  Keluarganya tinggal di sebuah kampung di Banyuwangi yang kental dengan  kesenian tradisional,  salah satunya kerawitan Banyuwangen.  Hampir setiap malam selalu ada pentas kerawitan, ludruk (drama tradisional khas Jawa Timur), pergelaran dan wayang kulit.

“Dulu, di sela-sela mengaji  dan belajar agama, saya sering mencuri-curi waktu untuk menonton pentas kerawitan, wayang, dan tari yang sering digelar di halaman kantor kecamatan. Bapak tidak melarang saya nonton ludruk, tapi syaratnya saya harus  mengaji dulu,” kenang bapak lima anak dari tiga kali perkawinan ini.

Dari kegemarannya menonton kerawitan, ludruk, dan wayang kulit itulah Cak Diqin mulai ikut latihan bersama grup kerawitan desa.  Hampir seriap hari, seusai mengaji, ia menuju balai desa untuk belajar nembang, menari, dan menabuh gamelan.  Menginjak kelas 6 SD, Cak Diqin mulai ikut bermain dalam sebuah grup kerawitan di desanya. Ia menari, melawak, dan menyanyi tembang Jawa. Melawak adalah bakatnya yang lain di luar menyanyi menari, dan memainkan alat musik..

“Dari ngamen itu saya bisa membeli buku dan seragam sekolah sendiri,” ujar dia.

Setamat SD, kesibukan  Cak Diqin semakin padat. Ia bergabung bersama beberapa kelompok kerawitan dan ludruk untuk ngamen menenuhi tanggapan (undangan pentas). Tak jarang ia harus menginap karena mendapat tanggapan ke luar kota, mulai hajatan perkawinan dan sunatan.

“Saya keenakan mencari uang. Ketika SMA kelas II saya sempat tidak naik kelas karena sering dapat tanggapan. Saya sering bolos. Bapak marah besar. Selama setahun saya tidak boleh manggung,” kenang dia.

Hingga akhirnya setamat dari SMA, bakat seninya yang luar biasa membuatnya diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia bertugas di Jayapura (Papua)  selama 15 tahun sejak tahun 1986. Tahun 1993, ia mendapat tugas belajar di Fakultas Tari, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI)  Surakarta.

 

Keluar dari PNS

Tahun 1994 Cak Diqin mulai belajar musik campursari dari maestro campursari Manthous di Gunung Kidul, Yogyakarta. Awal-awal tahun 1990-an memang merupakan masa keemasan musik campursari. Selama empat tahun, Cak Diqin bukan hanya belajar musik  tapi sekaligus belajar manajemen pertunjukan. Hingga akhirnya ia dipercaya  menjadi art manager kelompok campursari “Maju Lancar”milik Manthous.

“Saya beruntung karena bisa banyak belajar dari Manthous, Waldjinah, Gesang, Anjar Any, Ki Narto Sabdo, dan para dalang kondang,” kata dia.

Saking cintanya kepada kesenian, Cak Diqin akhirnya mengundurkan diri sebagai pegawai negeri. Padahal ketika itu ia sudah menjabat menjadi penilik kebudayaan.  Ia   merasa sukses hanya bisa diraih jika fokus pada satu hal. Pria yang kini menetap di Solo ini  merasa bersalah jika memberikan waktunya terlalu banyak kepada kesenian dibandingkan tugas-tugasnya sebagai pegawai negeri.

“Saya meninggalkan karir di pemerintahan dan memilih berkesenian karena merasa nyaman di sana,” ujar pria yang tahun 2003 lalu mendapat  gelar doctor honoris causa dari Norhend California University atas kiprahnya mengembangkan musik campursari.

Cak Diqin tak hanya dikenal sebagai penyanyi campursari. Lebih dari itu, ia  juga memiliki kegigihan untuk terus mengembangkan jenis musik ini. Tahun 2011 lalu, misalnya, Cak Diqin menggelar festival campursari untuk mencari  bakat bintang campursari.

“Saya prihatin perkembangan musik campursari mulai mandeg.  Festival itu  merupakan salah satu cara saya untuk menemukan bibit baru campursari,” kata dia di rumahnya, kawasan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Keprihatinan Cak  Diqin terhadap campursari muncul karena di tengah perkembangan musik Indonesia, musik campursari masih dipandang sebelah mata. Campursari sering dianggap lebih rendah dibanding jenis musik lain.

“Campursari itu bukan dangdut, namun bisa melantunkan dangdut. Campursari juga bukan keroncong, tapi bisa dinyanyikan secara keroncong. Campursari itu sangat dinamis,” ujar seniman yang pernah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) lewat pergelaran musik campursari spektakuler selama 33 jam, 33 menit, dan 33 detik tahun 2007 lalu.

Menurut suami dari Yanuk Andriani Kurniasih ini, genre musik campursari tergolong masih baru jika dibanding dengan kesenian tradisi lain, seperti kerawitan, wayang, dan keroncong. Namun justru dalam usianya yang masih muda itulah, lanjut dia,  campursari sangat terbuka untuk berkembang.

“Embrio campursari masih kecil jika dibanding kesenian lain, memiiki kemungkinan untuk diekspolrasi. Saya mempunyai mimpi bahwa suaru saat musik campursari akan mendunia seperti gamelan dan keroncong,” kata Cak Diqin yang pernah tampil menghibur TKI di Hongkong ini.

Untuk mengembangkan embrio itu Cak Diqin membentuk Campursari Center Indonesia (CCI), sebuah wadah yang menampung komunitas campursari. Lewat CCI, Cak Diqin ingin mempopulerkan kembali musik campursari yang sempat berjaya.

“CCI ini juga sebagai upaya melestarikan campursari. Salah satunya dengan membuat pergelaran rutin ke ruang-ruang pertunjukan kota. Di Solo, campursari kerap  masuk dalam pertunjukan wayang kulit dan ketoprak di Sriwedari atau di Taman Balekambang,” kata Cak Diqin..

Di tengah padatnya acara manggung dan mempopulerkan campursari kembali , saat ini Cak Diqin tengah menyiapkan album “Cintaku di Jawa Timur” bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim serta beberapa bupati di wilayah Jawa Timur. Ia juga baru saja menyelesaikan album campursari lintas budaya “Jawa–Kutai Timur”, dan  album religi “Senandung Syiiran Gus Dur”. (Ganug Nugroho Adi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *