FX Hadi Rudyatmo: Sederhana, Egaliter, Merakyat

-

Jumat 19 Oktober lalu, Fransiskus Xaverius (FX) Hadi Rudyatmo, biasa disapa Rudy,  dilantik sebagai  Walikota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, menggantikan Jokowi yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ia sendiri tak pernah pernah bercita-cita menjadi walikota. Baginya, bisa mendampingi Jokowi memimpin Kota Solo sudah merupakan karunia terbesar dalam hidupnya.

Semasa menjadi wakil walikota, Rudy memang tak sepopuler Jokowi meski memiliki gaya dan karakter yang hampir sama dengan mantan pasangannya itu; sederhana, egaliter, dan merakyat. Namun, perannya tak bisa dilepaskan begitu saja dalam menata Kota Solo, setidaknya dalam tujuh tahun terakhir ini.

Rudy adalah mediator yang bisa meluluhkan para pedagang kaki lima (PKL) yang semula menolak pindah tempat berjualan hingga akhirnya dengan suka rela versedia direlokasi -peristiwa ini melambungkan nama Jokowi yang kemudian berjuluk  “walikota kakilima”.

Rudy pula  yang akhirnya bisa membujuk para penghuni bantaran sungai agar semula mempertahankan tempat tinggalnya sebelum akhirnya dengan suka rela dipindah ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari jangkauan banjir. Ia juga berperan besar dalam meredam beberapa peristiwa bentrokan antar warga dengan cara turun sendiri menemui pihak-pihak yang berseteru.

“Pemimpin itu harus turun sendiri menemui warga, melihat lapangan, bukan hanya menerima laporan dari belakang meja. Lebih dari itu, pemimpin itu harus manusiawi, tidak serudak-seruduk (main kuasa),” kata pria berkumis tebal ini.

Lahir di Solo, 13 Februari 1960, Rudy tumbuh dalam keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya, M Atmowiryono, yang bekerja sebagai masinis meninggal ketika Rudy masih berusia 6 tahun. Tak berapa lama ditinggal sang ayah,  rumahnya yang berada di kawasan Kastelan, Banjarsari, digusur tanpa ganti rugi untuk proyek pelebaran jalan. Bersama sang ibu,  Suprapti, dan 12 saudaranya, Rudy pun pindah ke kawasan Pucangsawit, Jebres. Rumah kedua ini pun lagi-lagi digusur, hingga akhirnya sang ibu menempati sebidang tanah tak jauh dari bantaran Sungai Bengawan Solo.

“Ibu hanya pedagang sayur keliling, dan harus menghidupi 13 anaknya yang ketika itu semuanya belum mentas (dewasa). Jangankan untuk biaya sekolah, bisa makan dua kali sehari saja bagi kami sudah mewah,” kenang Rudy.

Karena ingin terus bersekolah, maka sejak masih di SD Rudy ikut membantu ibunya berjualan sayur di pasar. Setemat SD, Rudy menjadi pengamen. Ia pun sempat menjadi kondektur bus semasa bersekolah di Sekolah Teknik Mesin (Penerbangan) agar bisa membayar biaya sekolah. Setamat STM, Rudy bekerja di sebuah pabrik otomotif di Jakarta, namun kemudian pulang ke Solo dan memilih menjadi buruh kasar di pabrik  farmasi PT Konimex.

“Pokoknya serabutan, semuanya saya kerjakan, mulai mengepel lantai pabrik, mengangkat bahan-bahan kimia, sampai mengangkat mesin-mesin pabrik yang akan diperbaiki. Yang penting bisa dapat uang terutama untuk biaya sekolah adik, karena   semua kakak saya sudah mempunyai tanggungan sendiri sendiri,” ujar dia di rumahnya yang sederhana di kawasan Pucangsawit.

Kerja keras dan terus belajar membuatnya bisa menduduki beberapa posisi penting. Tahun 1990, ia menjadi karyawan teladan. Bakatnya dalam berorganisasi juga membawanya menjadi ketua serikat buruh. Namun, kegemarannya berorganisasi itu pula yang akhirnya membuatnya keluar dari pekerjaan. Ketika mencapai posisi supervisor teknisi, Rudy mengundurkan diri dari PT Konimex dan memilih menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Solo. Ia bergabung dalam partai pimpinan Megawati Soekarni Putri itu sejak tahun  1977.

“Sebisa mungkin, saya tidak ingin merugikan orang lain. Saya tidak bisa mencampuradukkan urusan partai dan pekerjaan, sehingga saya harus memilih salah satu. Apa pun risikomya orang hidup itu harus punya sikap,” kata suami Elizabeth Endang Prasetyaningsih ini.

Sosok Santun

Sejak remaja, Rudy memang senang mengikuti berbagai organisasi kemasyarakatan, mulai dari karang taruna (organisasi tingkat kampung), hingga organisasi sosial seperti SAR dan PMI. Ia bahkan pernah menjadi ketua RT selama 10 tahun dan baru berhenti ketika menjadi wakil walikota tahun 2005 lalu.

“Untung saya menjadi wakil walikota. Kalau tidak, bisa-bisa saya jadi ketua RT seumur hidup,” kelakarnya.

Banyak yang tertipu dengan penampilan pria ini. Kumis tebal melintang, perawakan yang kekar dan kulit agak hitam memang menjadikan sosoknya terkesan  sangar dan angker. Namun ia sebenarnya sosok yang lembut dan penuh santun. Kelembutan dan kesantunan itu, misalnya, Rudy lebih sering menyapa dengan sebutan mas atau mbak. Ia juga selalu menggunakan bahasa kromo (bahasa Jawa halus) ketika  berbicara dengan orang lain, bahkan kepada bawahannya sekalipun.

“Semua orang Indonesia saya kira juga sama seperti itu. Tidak ada yang istimewa, karena itu kan unggah-ungguh (sopan-santun) bangsa kita. Kalau kenalnya sudah lama yang tidak seperti itu,” kata ayah lima anak ini.

Sikap menghargai orang lain itu tak lepas dari pengalaman masa kecilnya yang pahit. Status sosial yang rendah, miskin, dan serba kekuranngan tak jarang membuat dirinya menjadi bahan ejekan teman-teman yang orang tuanya kaya. Bukannya dendam, ejeken demi ejekan justru membuat Rudy belajar tentang bagaimana seharusnya menghargai orang lain.

Peristiwa membekas lain, yaitu penggusuran rumah yang ia alami puluhan tahun lalu itu, juga membuatnya memilih tidak  melakukan penggusuran dengan semena-mena semasa menjadi wakil walikota mendampingi Jokowi.

“Kebetulan Pak Jokowi juga punya pengalaman yang sama. Jadi ya klop. Saya tidak ingin warga mengalami apa yang saya rasakan. Digusur itu menyakitkan, apalagi tidak ada ganti rugi,” turur pria yang gemar berkebun, terutama tanaman hias ini.

Kegemaran lainnya adalah mengoleksi kaos kostum tim sepak bola dunia maupun klub-klub lokal. Rudy bahkan sampai menyediakan lemari khusus untuk menyimpan ratusan kostum koleksinya.

“Kalau kostum klub anggota PSSI bisa saya beli sendiri pas Persis (klub sepak bola Solo) bertanding. Kostum tim luar negeri biasanya saya titip teman atau wartawan yang meliput pertandingan di luar negeri,” kata  mantan Ketua Umum Persis ini.

Tak hanya mengkoleksi kostum, mantan anggota Komite Normalisasi PSSI ini  pun kerap meluangkan waktu untuk bermain sepak bola dengan wartawan, pedagang pasar, penarik becak, dan para buruh.

“Sepak bola itu olah raga rakyat. Murah dan sehat. Kalau pemimpin mendekati rakyatnya, pasti rakyat tidak takut. Ngobrol apa saja jadi enak, termasuk menyampaikan keluahan dan protes,” ujar penggemar grup band legendaris Koes Plus ini.

Ada sebagian kalangan yang menyangsikan kepemimpinan Rudy. Isu pun berhembus, sepeninggal Jokowi, Kota Solo akan mengalami kemunduran. Namun Rudy menyikapi isu ini dengan santai.

“Saya tidak perlu gembar-gembor dengan apa yang sudah dan akan saya kerjakan. Bagi saya, menjadi pemimpin itu berarti melayani rakyatnya.   Tujuh tahun mendampingi Pak Jokowi memimpin Solo, kami selalu kompak karena kami satu visi, yaitu memberikan sebaik-baiknya yang kami miliki untuk semua warga,” kata pria yang hobi menikmati wedangan di warung kaki lima ini.

Rudy memang memiliki modal yang kuat untuk menjadi pemimpin, antara lain  sikapnya yang egaliter dan kedekatannya dengan rakyat. Salah satu contohnya, ia hampir tidak pernah tidur di rumah dinasnya, dan memilih pulang ke rumahnya yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Rumah dinas itu untuk urusan dinas. Setelah semua urusan selesai ya terus pulang.    Di rumah saya bisa bertemu warga kampung, ngobrol di pos ronda, sesekali ngobrol di warung hik (warung wedangan khas Solo),” kata dia.

Rudy juga merupakan sosok pemimpin yang gampang ditemui. Rumahnya selalu terbuka menerima warga yang ingin menyampaikan keluhan.

“Ketika masih menjadi warga biasa, saya pernah jengkel karena sulit menemui pejabat kelurahan untuk mengurus KTP. Sekarang saja menjadi walikota, dan saya tidak ingin membuat warga saya jengkel karena birokrasi,” ujar pria yang tidak menyukai protokoler ini. (Ganug Nugroho Adi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *