Herlambang Bayu Aji: Dalang Wayang Rajakaya

Semuanya berawal ketika ia harus menciptakan karya untuk tugas akhir kuliahnya di Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, tahun 2005.  Pilihannya jatuh pada lukisan wayang. Bukan wayang kulit Purwa –pewayangan dalam epos Ramayana dan Mahabarata, melainkan wayang binatang. Kepiawaiannya melukis gaya figuratif berhasil menciptakan karya wayang Rajakaya yang menurut dia merupakan hasil kreasi kolaboratif antara wayang Kancil dan wayang Purwa.

Kreasinyanya tidak hanya berhenti pada lukisan untuk tugas akhir. Hobinya bermain teater sejak kuliah membuatnya melahirkan ide kreatif lain, yaitu menjadikan seni rupa sebagai media ekspresi gerak (seni pertunjukan) dengan menggunakan konstruksi dasar wayang.

“Konsep lukisan saya adalah wayang kulit, bukan boneka. Akhirnya saya tidak hanya membuat wayang, tapi juga lakon dan memainkannya sendiri sebagai dalang,” kata pemuda yang tahun 2006 lalu mengikuti pertukaran kebudayaan Indonesia-Jerman di Berlin, Jerman, ini.

Menurut dia, pada wayang Kancil, bentuk manusia binatang masih sangat realis. Manusia, sapi, dan pohon-pohon ia gambar sesuai dengan bentuk aslinya. Jika wayang Kancil digerakkan atau dimainkan dengan menjepitkan bambu di badan anak wayang, maka pada wayang Rajakaya Bayu mendekontruksi bentuk. Lukisannya lebih bernuansa figuratif dan dekoratif. Ia memotong setiap persendian kaki atau tangan anak-anak wayangnya, kemudian merekatkannya kembali dengan tali longgar agar bisa digerakkan layaknya wayang kulit purwa.

-

“Seekor sapi bisa saja kakinya hanya dua, dua kaki lainnya saya jadikan tangan. Seekor sapi yang secara realis berjalan dengan kaki empat, di tangan saya menjadi binatang yang berjalan tegak. Semua binatang berdiri,” ujar pemuda kelahiran Solo, 21 Mei 1982.

Istilah Rajakaya sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya binatang ternak berkaki empat. Hewan-hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan kuda peliharaan masyarakat Jawa tempo dulu dianggap sebagai salah satu bentuk investasi, sekaligus penanda status sosial dan ekonomi pemiliknya.

“Binatang-binatang ternak penanda status inilah yang disebut rajakaya. Saya  kemudian menamakan karya wayang ini rajakaya, karena memang bercerita tentang binatang (fabel), terutama binatang ternak,” jelas Bayu yang akrab disapa Gundul ini.

Workshop di Jerman

Karirnya sebagai dalang wayang Rajakaya ia rintis sejak awal-awal menjadi mahasiswa dengan menggelar pameran seni rupa bersama perupa-perupa di Solo. Selama tiga tahun (2002-2005), ia terlibat aktif dalam International Youth Conference, sebuah konferensi pemuda internasional dengan agenda seminar, workshop dan pameran.

Ajang International Youth Conference inilah kemudian mempertemukan Bayu dengan banyak seniman asing. Ia pun mulai membuat jaringan dengan seniman dan lembaga-lembaga kesenian luar negeri, terutama Eropa.

Hingga akhirnya, seusai perhelatan Internasional Youth Conference (IYC) tahun 2005, Bayu mendapat undangan dari sejumlah seniman di Jerman untuk mempresentasikan IYC, memberikan workshop pembuatan wayang sekaligus menggelar pertunjukan.

“Tahun 2006 saya kembali diundang untuk pameran di pembukaan studio seorang teman di Jerman. Waktu itu saya ingin menampilkan keindonesiaan, sampai akhirnya saya tampilkan wayang Rajakaya ini,” kata dia.

Ia berkolaborasi dengan Dorothea Ferber, seorang musisi Jerman. Mereka melakukan tur ke sejumlah kota selama 3 bulan. Sejak kerja sama itu, selama empat tahun dari 2007 sampai 2010, Bayu mondar-mandir Indonesia-Jerman untuk pameran dan pertunjukan.  Pergelaran wayang Rajakaya yang ia tampilkan sangat digemari publik Eropa. Kreasinya wayangnya dihargai sejajar dengan seniman-seniman lain dari Asia, Eropa, dan  Afrika.

“Saya sengaja mengangkat cerita dan figur yang berbeda dari wayang tradisional pada umumnya. Saya melihat wayang tradisional sudah dibelokkan menjadi karya yang sakral, mistis dan  kaku sehingga wayang kita semakin berjarak dengan masyarakatnya,” kata  pria yang sejak September 2010 menetap di Berlin, setelah menikahi Camilla Kussl yang berkwargabegaraan Jerman.

Lewat wayang Rajakaya, Bayu menampilkan wayang menjadi lebih bebas dan  dinamis. Baginya, wayang adalah bentuk karya seni yang harus selalu dikembangkan. Tidak hanya mandeg pada diskursus tradisonal.

Dia menjelaskan konsep pertunjukan wayang Rajakaya sebenarnya tidak jauh beda dengan wayang pada umumnya. Ada dalang, lampu dan layar atau kelir agar penonton bisa melihat bayangan dari arah yang berbeda. Perbedaanya, cerita wayang Rajakaya tidak diambil dari epos Ramayana dan Mahabarat, melainkan dari cerita dunia binatang (fabel). Musik pengiringnya pun tidak selalu dengan gamelan, tetapi lebih bersifat kolaboratif dengan beberapa pemusik yang berbeda, dari etnik sampai kontemporer.

“Biasanya saya mengambil cerita arau dongeng masyarakat setempat, kemudian saya bermain-main dengan dengan kondisi sosial yang ada. Penyampaian bisa menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia,” ujar  finalis Indonesia Art Award tahun 2010 ini.

Kesenian tradisional, terutama wayang, memang sudah lekat pada diri Bayu sejak kanak-kanak. Anehnya, ketertarikannya pada kesenian justru tumbuh karena keluarganya jauh dari dunia kesenian. Ayahnya adalah sopir bis malam, sedangkan ibunya penjual nasi di warung tenda. Semasa kecil, Bayu sering keluar rumah secara diam-diam untuk menyaksikan atraksi kuda lumping, reog, pentas dangdut keliling atau pun wayang orang di Taman Sriwedari -meski hanya dari balik kaca gedung karena tidak mempunyai uang untuk membeli tiket. Jika tak ada tontonan, ia lebih suka mengamati tetangganya yang sedang membatik sambil memperhatikan motif-motif batik yang menurutnya ajaib.

“Ketika mengambil jurusan seni, Ibu sempat melarang karena tidak ingin anaknya menjadi seniman. Agar direstui, saya pun berbohong  bahwa saya ingin menjadi guru kesenian,” kenang anak bungsu dari 10 bersaudara ini.

Hanya tekad besar yang membuat Bayu sukses dan tenar sebagai seniman seperti sekarang.   Sejak kecil, ia hidup serba kekurangan. Kehidupan keluarganya yang pas-pasan semakin memburuk ketika ayahnya meninggal saat Bayu masih berusia 14 tahun. Agar bisa tetap sekolah, sejak SMP Bayu pun menjadi pedagang kaki lima dan berjualan batik ke Pasar Klewer.

“Kehidupan kakak-kakak saya juga hanya cukup untuk makan, sehingga saya harus mencari uang sendiri agar bisa kuliah. Saya merasa mendapat mujizat ketika akhirnya lulus kuliah,” kata peraih penghargaan Rudolf Steiners dari Jerman (2008) ini.

Kini, setelah selama kurang lebih lima tahun menggeluti wayang Rajakaya kreasinya, Bayu telah menggelar banyak pentas besar, baik di dalam maupun di luar negeri.  Pada 3 Agustus lalu, ia berkolaborasi dengan 17 Hippies (sebuah kelompok band dari Berlin) dan Aris Daryono di Museum Pergamon, Berlin. Sebelumnya, pada bulan Juli, Bayu  membawakan “Wayang Sarung” bersama penyair asal Solo, Sosiawan Leak, di Treptow. Pada Juni-Juli,ia berkolaborasi dengan pendongeng PM Toh dalam “Jakarta Berlin Arts Festival” di Berlin.

Periode tahun 2006 sampai 2010 sebelum memutuskan menetap di Jerman, Bayu menggelar banyak pentas di Solo, Magelang, Yogyakarta dan Jakarta. Kegigihannya mengenalkan wayang membuat dia terpilih sebagai seniman terbaik dalam ”Indonesia Mart” yang diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.(Ganug Nugroho Adi)

0 thoughts on “Herlambang Bayu Aji: Dalang Wayang Rajakaya

  1. Reblogged this on Semacam mirror site http://www.rinurbad.com and commented:
    “Ketika mengambil jurusan seni, Ibu sempat melarang karena tidak ingin anaknya menjadi seniman. Agar direstui, saya pun berbohong bahwa saya ingin menjadi guru kesenian,” kenang anak bungsu dari 10 bersaudara ini.
    — Saya dan suami ngakak baca ini. Dulu saya bilang apa ya supaya diizinkan kuliah Sastra?:))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *