Melati Suryodarmo: Mengalir dalam Performance Art

-

“DALAM performance art, pesan yang ingin disampaikan seniman sangat personal, belum tentu sama dengan apa yang ditangkap penontonnya. Mereka (penonton) secara tidak sadar akan terlibat dalam pertunjukan, berpikir dan berimaginasi. Semua orang menjadi peserta. Itulah keistimewaan dan tantangan menyuguhkan performance art,” kata seniman performance art Melati Suryodarmo.

Dalam dunia performance art, nama perempuan asal Solo yang tinggal di Jerman ini memang bukan lagi nama asing. Ia telah keliling Eropa, Amerika dan Asia untuk membawakan karya-karya performance art-nya bersama banyak seniman dari berbagai negara. Di Indonesia, antara lain ia menampilkan karya-karyanya di Padepokan Lemah Putih (Solo), Rumah Seni Cemeti (Yogyakarta), Goethe Institut, (Jakarta).

Menjadi seniman performance art adalah hasil proses panjang Melati. Sejak masih kanak-kanak, ia berada di lingkungan yang kental dengan kesenian. Ayahnya, Suprapto Suryodarmo, adalah seniman tari ternama yang mengajarkan tidak hanya tari, tapi juga kesenian lain. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Melati belajar melukis pada pelukis Sri Warsono Wahono di Sasono Mulyo, Kraton Surakarta. Ia juga belajar menari, taichi, meditasi dan aerobik. Ketika SMA, ia bahkan menjadi guru aerobik untuk orang-orang kantoran.

“Dari kecil sampai remaja, setiap hari saya melihat bapak menari.  Halaman belakang rumah selalu ada orang belajar menari, bermain musik, nembang. Lingkungan telah membentuk saya seperti ini,” ujar  dia.

Selepas SMA, Melati kuliah di Hubungan Internasional, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung. Setelah meraih gelar sarjanya, tahun 1994 ia   ke  Jerman untuk belajar seni pertunjukan dan seni patung di Hochschule fuer Bildende Kuenste  Braunschweig. Selama delapan tahun ia banyak belajar dari Prof Marina Abramovic, seniman performance art ternama asal Yugoslavia, yang sekaligus menjadi dosen pembimbingnya.

“Saya mulai belajar performance art secara serius sejak 17 tahun lalu, tepatnya ya sejak saya kuliah di Jerman,” ujar istri Reinhaard Lutz, seorang seniman interior.

Di Jerman itu pula Melati banyak bertemu dengan seniman  performance art. Pada awal-awal kuliah, ia bahkan sudah terlibat dalam beberapa festival internasional.

“Bukan sekadar mendapat pengalaman pentas, tapi juga menciptakan jaringan. Itu termasuk salah satu yang penting dalam berkesenian. Saya banyak  berdiskusi dan bersama-sama melakukan  proses dalam berkarya dengan seniman lain,” ujar ibu satu anak ini.

Seni rupa (melukis dan patung) yang menjadi akar berkesenian Melati memang sangat membantuntya masuk ke dunia performance art. Sebab, kata  Melati, antara seni rupa dan performance art  memiliki keterkaitan erat.

Performance art merupakan pengembangan  dari seni rupa. Hanya saja, dalam performance art kita lebih menggunakan tubuh  sebagai media seni. Sebelum masuk performance art, saya banyak menggeluti visual art,” tambah perempuan yang belajar seni pertunjukan dan patung di bawah bimbingan Prof Anzu Furukawa, maestro tari dari Jepang.

Pertunjukan Personal

Salah satu teman berdiskusinya adalah Boris Nieslony, pendiri Black Market International (BMI), sebuah  kelompok  performance art papan atas asal Jerman. Dari kelompok inilah Melati memiliki jaringan yang semakin luas dengan seniman-seniman performance art dari berbagai Negara. Hingga akhirnya bersama sejumlah seniman asal Asia Tenggara, ia membentuk “Performance Art Laboratory Project”, sebuah forum sekaligus tempat melakukan eksperimen dan proses berkarya.  Berawal dari laboraorium inilah tahun 2007 lalu Melati dan Boris Nieslony mulai menggelar “Undisclosed Territory #1” di Padepokan Lemah Putih, Plesungan, Karanganyar,  Surakarta. Sebuah padepokan kesenian yang tak lain milik ayahnya sendiri.  Hingga perhelatannya yang ke-7 tahun ini,  “Undisclosed Territory” selalu dihadiri para seniman dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Hongkong, Jerman, Italia,  Belanda, Irlandia, Kanada, China dan sejumlah negera asia tenggara termasuk seniman-seniman dari Indonesia. Menariknya, menurut Melati, gelaran seperti ini tidak membutuhkan banyak dana. Semua penampil pun tidak mendapatkan honor, karena banyak dari mereka yang  memiliki lembaga founding.

Tidak hanya sebagai penampil, Melati juga memberikan banyak pelatihan. Tahun 2009, misalnya,  ia memberikan pelatihan performance art untuk mahasiswa di School of Arts  Umea, Swedia. Setahun berikutnya, ia memberikan workshop dan kuliah di Museum of Fine Arts, Boston, Amerika Serikat.

Namun, tak banyak penonton yang bisa mencerna dan memahami pertunjukannya –juga pertunjukan dari seniman-seniman performance art lainnya. Melati tidak menutup mata mengenai hal itu.

“Pertunjukan performance art memang lebih personal. Seringkali orang menonton pertunjukan ingin memahami pertunjukan itu seperti yang mereka inginkan. Dalam performance art tidak bisa selalu seperti itu, karena   tidak semua pesan -jika memang ada pesan- disampaikan secara verbal oleh performer-nya,” ujar Melati.

Namun demikian, lanjut dia, performance art selalu berkaitan dengan aspek budaya, sosial dan politik kehidupan di mana si seniman  mengartikulasikan melalui tubuhnya, baik psikologis maupun fisik.  Menangkap pesan dalam sebuah pertunjukan performance art harus melalui apa yang terlihat dan yang tak terlihat.

“Memang sangat subyektif. Pertunjukan saya misalnya, akan selalu terpengaruh oleh pengalaman hidup dan spiritualitas yang saya akrabi, yaitu Jawa, Islam, Budha dan Kristen, “ kata perempuan yang juga mengajar kesenian di sejumlah institus seni di Filipina.

Ia mencontohkan salah satu karya filmnya, “The Dusk”  (2010), yang merupakan gabungan dari  pengalaman traumatik masa kanak-kanaknya yang terbawa hingga usia 30 tahun. Selama masa itu, Melati selalu memiliki saat-saat yang mengharus dirinya untuk diam, tidak bicara.  Maka, lahirnya “The Dusk”, sebuah film bisu dengan gambar yang artistik dan efek suara. Seperti (film) puisi, di mana tidak menyodorkan cerita secara deskriptif dan naratif, sehingga  penonton boleh menafsirkannya secara bebas dan semua penafsiran itu benar.

Performance art itu bukan pertunjukan koboi yang alur ceritanya jelas; ada bandit, ada sherif, lalu dar der dor… selesai. Tapi saya tidak mengatakan film koboi itu tidak bagus. Ini hanya soal pilihan. Tidak ada kaitannya dengan   kualitas,” kata perempuan yang meraih gelar magister seni dari Hochschule fuer Bildende Kuenste, Braunschweig, Jerman, tahun 2002. (Ganug Nugroho Adi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *