Payung Masih Mengembang di Juwiring

-
 payung fantasi melambai di sinar pagi Ai, ai, siapa dia
wajah sembunyi di balik payung fantasi Ai, ai siapa dia…
 

LAGU “Payung Fantasi” karya Ismail Marzuki itu begitu populer di awal tahun 1960-an. Sama terkenalnya dengan Payung Fantasi, payung kertas bergambar bunga warna-warni,  dari Juwiring, sebuah kecamatan di Klaten, Surakarta, Jawa Tengah.

Kini, lebih dari 50 tahun kemudian, lagu “Payung Fantasi” yang diciptakan tahun 1955 itu masih sering dinyanyikan. Namun payung fantasi dari Juwiring telah lama redup.  Tahun 1974, Pinda Aneka, satu-satunya  pabrik payung di Desa Kwarasan, Juwiring, tutup. Pabrik di sini bukanlah pabrik dalam pengertian memproduksi payung sendiri sendiri. Pinda Aneka lebih berfungsi sebagai koperasi yang menampung payung-payung buatan warga dan kemudian menjualnya.

Selama periode 1960-1970, pabrik ini bisa rata-rata menghasilkan 40 ribu payung per bulan, sehingga praktis menjadi gantungan hidup bagi 400 kepala keluarga di Desa Kwarasan ketika itu. Di awal tahun 1970-an, Pinda Aneka goyah dan akhirnya bangkrut karena tak mampu mengimbangi serbuan “payung kalong” –sebutan untuk payung impor berbahan kain hitam dan berkerangka besi dari China. Disebut payung kalong, karena jika payung ini mengembang bentuknya menyerupai kelelawar atau kalong.

Desa Kwarasan sendiri terletak sekitar 22 km arah timur laut kota Klaten.  Dulu, begitu memasuki desa ini, payung warna warni memenuhi rumah-rumah penduduk. Di halaman yang luas, payung-payung berjajar dijemur. Sepanjang hari, orang-orang desa sibuk memotong dan megelem kertaS, melukis gambar bunga, angsa, memotong bilah-bilah bambu untuk  jeruji  payung. Mereka juga membelah kayu-kayu pohon melinjo, memotongnya, kemudian menjemurnya hingga benar-benar kering untuk dibuat sebagai kerangka payung. Hampir seluruh penduduk di enam dukuh di desa ini berprofesi sebagai pembuat payung.

-

Tapi itu cerita lama. Kini, dengan penduduk sekitar 1.500 keluarga atau sekitar 6.000 jiwa, di Kwarasan hanya tercatat 11 perajin payung termasuk  beberapa tenaga pembuat jeruji (kerangka) payung dan tenaga pelukis. Satu perajin di Desa Tanjung dan dua perajin di Desa Kaniban yang merupakan tetangga Desa Kwarasan. Sebagian besar lainnya  beralih menjadi perajin sangkar burung, pedagang, dan buruh tani. Dari 11 perajin ini pun hanya dua perajin kakak beradik yang rutin mendapat pesanan, yaitu Hanacaraka, dan Wisnu.

-

Bau lem dan cat memang tidak lagi menyengat di Kwarasan. Hanya ketika ada pesanan, payung-payung kembali terlihat berjajar di pekarangan, meski tidak sebanyak masa puluhan tahun silam. Namun, sisa-sisa Kwarasan sebagai desa sentra kerajinan payung kertas masih bisa dilihat.

Salah satunya adalah di rumah Wigid Gunarto (45), pemilik sanggar payung “Hanacara”. Wigid mengaku saat ini masih mampu memproduksi 300 unit payung per bulan, dengan harga mulai Rp 30.000 sampai Rp 5000 ribu per unit, tergantung ukuran dan jenisnya. Tak seperti masa puluhan tahun lalu, payung-payung Juwiring memang bukan lagi payung untuk berlindung dari hujan dan panas.

“Sekarang fungsinya sudah berubah menjadi payung hias dan dekorasi. Payung hias biasanya untuk koleksi dan untuk kebutuhan properti seni pertunjukan, terutama tari dan fashion show,” tutur Wigid.

Sedangkan yang dimaksud payung dekorasi adalah payung untuk melengkapi dekorasi panggung, dekorasi pernikahan, serta ritual atau upacara adat.

“Kraton Yogayakarta, Surakarta, dan Bali sering memesan payung-payung ritual ini. Di Bali, payung Juwiring bahkan menjadi bagian utama dalam ritual Ngaben. Ukurannya lebih besar dengan diameter antara 1 meter sampai 2 meter,” ujar pria yang meneruskan usaha warisan orang tuanya ini.

Suasana Berbeda

Sama seperti Hanacara, sanggar payung Wisnu juga  masih eksis dengan produksinya. Pesanan datang dari  beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kedua sanggar ini juga kerap memenuhi pesanan payung dekorasi untuk beberapa acara hiburan di televisi.

-

Di luar Hanacaraka dan Wisnu,  ada Sugiyanto (70) yang mengerjakan payung  ritual ukuran kecil (berdiameter 30 cm). Payung-payung buatannya merupakan pesanan dari beberapa pedagang bunga di sekitar Klaten, Solo, dan Yogyakarta.

“Sekarang suasananya sudah lain. Dulu, setiap hari semua rumah membuat payung. Hidup rasanya begitu tenteram. Sambil bekerja, orang-orang nembang macapat.  Dandanggula, Gambuh, Pucung. Sekarang saya merasa sendirian,” ujar Sugiyanto di rumahnya yang berdinding papan.

Ketika payung Juwiring mengalami massa keemasan tahun 1960-an, Sugiyanto ikut membantu orang tuanya membuat payung yang kemudian disetorkan ke Pinda Aneka. Ia mengerjakan seluruh proses pembuatan mulai meraut bambu untuk jeruji, mengelem kertas, sampai melukis ornamen payung.

“Hanya payung-payung yang baik yang bisa diterima di pabrik. Tidak heran jika zaman dulu payung dari sini banyak dicari, ” kenang kakek empat cucu ini.

Standar payung yang baik seperti yang sebutkan Sugiyanto itu, antara lain  meliputi jumlah dan panjang jeruji payung, jenis kertas, dan kualitas benang pengikat. Menurut Sugiyanto, pada zamannya semua payung Juwiring harus mempunyai 42 jeruji. Panjang jeruji sekitar 50 cm dan harus diikat dengan benang yang kuat. Banyaknya jeruji dan ikatan benang yang rapat pada penyangga itulah yang membuat paying Juwiring zaman dulu sangat kuat dan kokoh.

“Sekarang payung Juwiring sama saja dengan payung-payung yang lain. Sudah tidak istimewa. Payung Juwiring sebenarnya bukan dikalahkan oleh payung impor, tetapi oleh kita sendiri. Lihat, jumlah jerujinya tidak lebih dari 30 dan kertasnya pun hanya kertas semen. Payung zaman sekarang itu kasar dan ringkih,” ujar Sugiyanto sambil menyodorkan sebuah payung hias.

Sugiyanto benar. Namun, pada zaman sekarang ini, payung kertas tentu tak lagi berfungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan. Seperti yang dikatakan Ngadiakur (44), seorang perajin paying di Dusun Gumantar, Desa Kwarasan, Juwiring.

“Kalau tidak ingin kehujanan atau kepanasan ya pakai payung kalong, jangan payung hias. Dulu payung Juwiring berfungsi sebagai pelindung, karena payung kalong belum ada,” ujar dia.

-

Bagi Ngadiakur, kegunaan praktis payung Juwiring sebagai pelindung dari hujan dan panas memang sudah selesai. Maka, di rumahnya yang tak begitu besar, Ngadiakur bersama istrinya, Menik Rahayu (35), membuat payung hias dan payung ritual. Pesanan datang dari Solo, Yogyakarta, Bali dan Jakarta. Tak jarang  jika mendapat banyak pesanan, Ngadiakur melibatkan para tetangganya untuk membuat jeruji dan kayu penyangga dengan upah Rp 10 ribu per hari. Payung produksinya dijual dengan harga mulai Rp 50.000 hingga Rp 250 ribu. JIka sepei pesanan, ia biasa membantu “Hanacaraka” atau “Wisnu”.

“Saya yang merangkai, istri yang melukis ornamen. Dulu, kakek dan orang tua saya juga perajin payung di sini. Sejak dulu, keluarga kami hidup dari payung-payung ini,” tutur dia.

Payung Juwiring tetap eksotis, meski tak lagi bercahaya seperti pada masanya, puluhan tahun lalu. Kini, orang tentu lebih memilih memakai payung kalong yang enteng dan praktis,  bisa dilipat dan dimasukkan tas. Jika turun hujan, tinggal tekan tombolnya,  lalu byaar… payung pun mengembang. Namun payung seperti itu tentu saja tak pantas untuk dipajang sebagai hiasan ruang tamu atau digunakan untuk keperluan ritual atau upacara tradisional.

“Payung-payung Juwiring tetap akan mengembang sepanjang bangsa ini masih menghormati tradisi dan mencintai keindahan,” ujar Ngadiukur yang sejak kecil hobi melukis.(Ganug Nugroho Adi)

0 thoughts on “Payung Masih Mengembang di Juwiring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *