Sisi-sisi Lain Cerita Rara Mendut

Image

Seorang perempuan, hanya mengenakan kain jarik yang dilitkan di tubuhnya hingga sebatas dadanya, sehingga bagian pundak dan lengannya masih terlihat. Perempuan itu, menari-nari dengan seorang laki-laki berbadan tegap, berdada bidang, dan hanya mengenakan kain jarik yang dililitkan hingga sebatas pinggangnya.

Keduanya meliuk-liuk, menari-nari dan saling menggoda satu sama lain, di atas hamparan pasir putih, berlatar belakang sebuah payung pantai. Keduanya saling menyentuh satu sama lain, bergerak seirama dan selaras, kemudian perpaduan gerak mereka ditutup dengan berpelukan. Dalam setiap gerakannya, menampakkan kedekatan, erotisme dan cinta di antara kedua insan tersebut.

Perempuan itu bernama Rara Mendut yang tengah dimabuk asmara, jatuh cinta dengan seorang pria bernama Pranacitra. Karena cintanya yang mendalam, Rara Mendut bergerak mengikuti gerakan dan keinginan dari pria yang dicintainya itu. Perempuan cantik itu mau melakukan apa saja yang menjadi keinginan laki-laki pujaannya.
Image


Adegan tersebut merupakan gerakan pembuka dari cerita legenda Rara Mendut, yang diterjemahkan lewat pementasan tari oleh Dwi Windarti, seorang koreografer muda Kota Solo. Melalui pementasan tari yang digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, penari lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu mencoba menceritakan kembali
kisah Roro Mendut.

Kisah Roro Mendut pertama kali diangkat dalam tulisan karya sastra klasik oleh Romo Mangun, atau Y.B. Mangunwijaya. Tulisan tokoh sastra asal Ambarawa, Jawa Tengah tersebut pertama kali diterbitkan dalam sebuah novel trilogi yang diterbitkan di harian Kompas pada tahun 1982 hingga 1987 dengan format cerita bersambung.

Kemudian pada tahun 2008, trilogi berjudul “Rara Mendut”, “Genduk Duku”, dan “Lusi Lindri” itu kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah buku novel berjudul “Rara Mendut: Sebuah Trilogi”. Cerita inilah yang menjadi dasar pemikiran karya tari Dwi Windarti. “Dasarnya memang dari buku (karya Romo Mangun). Tapi saya juga menggali cerita dari sumber – sumber lain,” katanya saat ditemui wartawan usai pementasan.
Image
Roro Mendut cerita rakyat klasik Jawa Tengah yang menceriterakan perjalanan hidup dan tragedi cinta seorang perempuan cantik dari pesisir pantai Kadipaten Pati pada masa Kesultanan Mataram, abad ke-17. Kala itu, Kasultanan Mataram berkuasan di Jawa di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Kala itu, kecantikan Roro Mendut menarik hati sejumlah pejabat penting mulai dari Adipati Pragola, penguasa Kadipaten Pati hingga Tumenggung Wiraguna, panglima perang andalan Sultan Agung dari kerajaan Mataram. Namun, dalam versi cerita novel karya Romo Mangun, digambarkan Roro Mendut seorang perempuan yang kuat, cedas dan teguh pendirian. Dirinya secara terang-terangan menolak cinta Tumenggung Wiraguna demi memperjuangkan cintanya kepada seorang pemuda pilihannya bernama Pranacitra.

Tumenggung Wiraguna yang sakit hati dengan penolakan dari Roro Mendut akhirnya membuat kebijakan kontroversial dengan membebankan pajak yang tinggi kepada Roro Mendut. Tak habis akal, Roro Mendut pun mencari uang dengan memanfaatkan kecantikannya. Dirinya menjual rokok lintingan yang dilem menggunakan ludahnya, rokok tersebut kemudian dihisapnya terlebih dahulu sebelum dijual kepada pelanggannya yang kesemuanya kaum adam.
Image
Terpukau dengan kecantikan dan keseksian Roro Mendut, para pria itu pun membayar mahal hanya untuk mendapatkan sebatang rokok buatan Roro Mendut. Dalam novel tersebut dikisahkan, cerita cinta Roro Mendut dan Pranacitra berakhir tragis. Keduanya akhirnya tewas karena mempertahankan cintanya.

Namun, bukan cerita versi novel ini yang diangkat Windarti dalam karya tarinya. Dirinya sengaja menampilkan versi lain penokohan Roro Mendut dalam karyanya. “Dalam novel, digambarkan Roro Mendut seorang perempuan cantik, pintar, tangguh dan cerdas. Tapi dari riset kecil yang kita lakukan dengan kelompok pecinta sejarah, ada versi yang menceritakan bahwa Roro mendut memang cantik dan seksi, tapi bodoh,” katanya.

Versi lain inilah yang menurutnya jauh lebih menarik daripada versi novelnya. Dirinya menggambarkan Roro Mendut seorang perempuan cantik, seksi namun bodoh, dimana Roro Mendut bisa dengan mudah diperalat oleh pria. Ini digambarkan Windarti dalam adegan pembuka pentas tarinya, dimana Roro Mendut bergerak sesuai keingingan Pranacitra.
Image
Adegan lain yang menguatkan penggambaran karakter Roro Mendut sebagai perempuan yang mudah dikontrol oleh laki-laki yakni pada bagian tari yang disebutnya dengan adegan wayang. Pada bagian tersebut diperagakan beberapa pria menari-nari sambil memainkan boneka wayang berbentuk tubuh perempuan.

Adegan berikutnya, menggambarkan seorang Roro Mendut sebagai sosok perempuan penjual rokok yang seksi. Digambarkan dengan menampilkan tiga penari yang menari dengan gerakan-gerakan seksi dan erotis sambil menghisap sebatang rokok. “Adegan kedua untuk menguatkan penokohan Roro Mendut sebagai penjual rokok yang seksi,” jelasnya.
Image
Dalam versi lain tentang cerita Roro Mendut, lanjut dia, diceritakan bahwa kecantikan Roro Mendut dimanfaatkan oleh para penguasa Kadipaten Pati pada kala itu untuk menyerang Mataram. Perempuan seksi dan cantik pada masa itu digunakan untuk memikat hati pasukan kerajaan untuk kemudian menyebarkan candu kepada para pasukan. Candu inilah yang membuat pasukan kerajaan melemah.

“Ternyata cerita versi lain dari Roro Mendut ini justru lebih menarik. Hal ini bisa untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini, banyak perempuan digunakan sebagai alat untuk mencapai banyak hal, baik itu politik, kekuasaan, dan sebagainya,” jelasnya.

Windarti menutup cerita Roro Mendut versi pementasan tarinya dengan mengembalikan ending cerita tersebut pada versi cerita novel. Pada babak akhir digambarkan Roro Mendut bertarung melawan sosok pria yang memperalatnya. Dirinya seolah ingin mengajak penonton untuk menciptakan endingnya sendiri, dengan cara menggantung akhir cerita Roro Mendut versinya itu. Sebab, dalam pertempuran itu tak jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Dikatakan Windarti, dirinya ingin menyelipkan unsur edukasi dalam karyanya pada babak akhir ceritanya tersebut. “Saya ingin menekankan agar para perempuan tidak mudah menyerah. Perempuan jangan takut melawan kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya sudah tidak cocok untuk zaman sekarang,” tegasnya. Dirinya ingin menyampaikan agar para perempuan bisa menjadi seorang perempuan yang tangguh dan mandiri.
Image
Untuk mementaskan tari Roro Mendut tersebut, Windarti mengaku terlebih dahulu melakukan riset untuk penulisan cerita selama sekitar satu tahun. Dirinya melakukan riset pustaka, hingga melakukan diskusi-diskusi dengan kelompok pecinta cerita sejarah. Hingga akhirnya dirinya menemukan cerita versi lain dari Roro Mendut. “Risetnya satu tahun, kalau latihan tarinya cukup singkat hanya sekitar dua bulan latihan efektifnya,” akunya.

Dalam pementasannya, Windarti menggunakan setting panggung yang sangat minimalis. Dirinya hanya memasang level stage memanjang dengan aksen payung sebagai simbol kekuasaan kerajaan dan taburan pasir putih untuk menguatkan latar belakang cerita pesisir pantai. Untuk pencahayaan, Windarti lebih sering mamakai setting lampu low light dengan menggunakan satu atau dua sumber lampu dengan permainan latar belakang gelap yang dramatis.
Image
Menariknya, garapan musik dalam pementasan tari tersebut menggabungkan musik etnik gamelan jawa dengan unsur musik modern yakni musik tecno bahkan musik underground. Bahkan, untuk menggarap musiknya, Windarti menggandeng Stephanus Adjie, vokalis kelompok musik underground asal Kota Surakarta, ‘Down For Life’. Suara serak Adjie melagukan narasi cerita Roro Mendut diiringi perpaduan musik etnik dan tekno memunculkan kesan suasana mistik dalam pementasan.

“Penggarapan musiknya memang sengaja menampilkan sesuatu yang beda. Harapannya dengan melibatkan unsur-unsur musik modern dalam pentas tari tradisi diharapkan bisa mendatangkan penonton-penonton baru untuk dapat mengapresiasi seni tari,” katanya. Cara tersebut ternyata cukup sukses, terbukti lebih dari 50 persen penonton pentas tarinya merupakan wajah baru penikmat seni tari. (Ade Rizal)