Thio Tiong Gie: Menjaga Energi Wayang Potehi

THIO TIONG GIE (Fotp dokumen Thio Tiong Gie)
THIO TIONG GIE (Fotp dokumen Thio Tiong Gie)

Thio Tiong Gie identik dengan potehi –boneka-boneka kecil menyerupai wayang golek Sunda namun berkostum prajurit China.  Identik karena pria asal Semarang ini adalah satu-satunya dalang potehi peranakan yang tersisa. Kemampuannya menembang dalam bahasa Hokkian totok adalah ciri khasnya. Meski sudah berusia 77 tahun, kemahirannya mendalang tak luntur. Ia masih piawai menggerakkan tangannya untuk menghidupkan boneka-boneka potehi. Intonasi, aksen, cengkok dan tembang-tembang yang dilantunkan pun sangat terjaga dan tertata.

Perjalanan Thio menekuni potehi tidak dapat dilepaskan dari situasi politik Indonesia sebelum kemerdekaan. Lahir di Demak 9 Januari 1933, pada usia 9 tahun Thio pindah ke Semarang. Ayahnya, Thio Thiang Soe, meninggalkan Demak setelah tokonya dijarah dalam aksi kerusuhan tahun 1942. Kehilangan mata pencarian, sang ayah menghidupi keluarga dengan mengumpulkan koran bekas. Kondisi ekonomi yang hancur membuat Thio baru bisa mengenyam pendidikan dasar pada usia 14 tahun di sekolah khusus anak Tionghoa,  Cung Hua Kung Siek.

“Karena masuknya telat, saya baru lulus ketika usia saya sudah 20 tahun,” kenang Thio di sela-sela persiapan pentasnya di Solo akhir September lalu.

Thio ingat minatnya pada wayang potehi muncul ketika  ia menemukan koran bekas yang memuat cerita potehi. Thio yang ketika itu berusia 25 tahun mulai mempelajarinya. Melihat minat Thio, seorang dalang wayang potehi ketika itu, Oey Sing Twe, menghadiahi seperangkat  potehi dan membimbingnya. . Dari situlah bakatnya semakit terlihat. Dua tahun kemudian Thio resmi menyandang predikat Saay Hu atau Too Yan yang berarti dalang.

“Waktu itu jadwal pentas sangat padat. Tidak hanya di kota-kota di Jawa Tengah, saya juga mendalang sampai Cianjur, Sukabumi, Cirebon, Lampung dan Palembang,” ujar dia.

Kemeriahan pertunjukan potehi terhenti ketika tahun 1967  Presiden Soeharto melarang semua jenis kesenian Tionghoa dipentaskan di luar klenteng. Sejak itu potehi dan Thio seperti tenggelam. Ketika tahun 1999 Presiden Abdurraman Wahid atau Gus Dur membuka kembali kran kebebasan bagi seni dan budaya Tionghoa, Thio mendapati wayang potehi sudah dalam keadaan sekarat.

“Selama 32 tahun wayang potehi seperti terkubur dalam goa. Kesenian ini bahkan hampir dilupakan oleh keturunan Tionghoa sendiri. Saya sudah tua. Tugas saya sekarang menularkan kesenian ini kepada generasi muda agar tidak hilang,” kata Thio.

Di Semarang, memang hanya Thio satu-satunya yang masih bertahan melestarikan potehi. Dalam usianya yang hampir memasuki kepala delapan,  bapak tujuh anak,  22 cucu, dan satu cicit  itu bahkan masih sering memenuhi undangan pentas keluar kota. Tanggal 16 Oktober ini misalnya, Thio harus mendalang untuk perayaan Dewa Bumi di Jakarta.  Sebelumnya Thio berturut-turut mendalang di Sukabumi dan Solo.

 

Cemas Regenerasi

Thio mengaku senang, meski setiap kali undangan datang, ia harus meminjam pemain musik dari Surabaya. Sebab Semarang tidak lagi memiliki seorang pun pemain musik potehi.  Lebih memprihatinkan lagi, hampir tak ada anak muda di Semarang tertarik mempelajari wayang potehi. Sejauh ini Tiong Gie hanya punya seorang penerus, yaitu Oei Tjiang Hwat yang usianya sudah lebih dari 60 tahun.

“Susah mencari anak muda yang mau belajar wayang potehi di Semarang. Anak-anak saya lebih suka main Barongsai yang lebih laris dan bayarannya mahal,” ujarnya.

Tak hanya kekurangan peminat menjadi dalang potehi, jumlah penonton pun dari waktu ke waktu semakin berkurang. Padahal, menurut Thio, dalam mendalang ia telah melakukan berberapa inovasi agar potehi lebih disukai masyarakat. Misalnya dengan menambahkan efek visual agar adegan perang bertambah seru. Thio juga mengganti bahasa China dengan bahasa Indonesia, sehingga cerita lebih dimengerti penonton. Ia pun memasukkan tembang-tembang campursari dan lagu-lagu daerah seperti “Jali-jali” atau “Suwe Ora Jamu”. Namun di banyak tempat, wayang potehi tetap saja hanya disaksikan oleh segelintir orang.

”Kalau tanggapan masih lumayan banyak. Tapi penontonnya tidak sebanyak dulu,” ujarnya.

Thio mengungkapkan “potehi” berasal dari kata “poo” yang artinya  kain, “tay” berarti kantung, dan “hie” untuk wayang. Maka “Poo Tay Hie” yang kemudian menjadi potehi berarti wayang kantung, yang dimainkan dengan menggunakan tangan. Potehi masuk ke Indonesia dibawa oleh para perantauan Tionghoa sekitar 300 tahun silam.

“Potehi lahir pada zaman Dinasti Siong Theng sekitar  3000 tahun lalu,” ujar Thio.

Di tangan Thio, boneka-boneka kecil itu terlihat hidup. Layaknya para kurcaci, bonela-boneka kecil itu begitu gesit berjumpalitan sambil menendang, menyabetkan tombak dan pedang seperti adegan dalam film silat. Satu boneka kalah,  dadanya tertembus pedang dan  kepalanya terpenggal.

Di panggung berukuran sekitar 3 x 3 meter, gerakan boneka-boneka begitu lincah. Beberapa lakon terkenal yang biasa dibawakan adalah “Sie Jin Kwie”, “Hong Kiam Cun Ciu”, “Cun Hun Cauw Kok”, dan “Poei Sie Giok”. Cerita-cerita itu dimainkan dengan dukungan 100 karakter tokoh wayang. Sementara di belakang duduk para penabuh musik yang mamainkan siauw ku (kecer besar), al hu (musik gesek mirip rebab), dong kauw (semacam ketipung), dan terompet.

“Lakon potehi umumnya panjang. Sekali   datang ke satu kota biasanya kami akan pentas selama 10 hingga 20 hari dengan durasi  empat jam sekali manggung. Tapi sering kami harus tinggal di sebuah kota sampai satu atau dua bulan,” tutur Thio.

Hingga kini sudah setengah abad Thio mendalang, namun ia masih saja tinggal di petak sempit di sebuah gang buntu. Rumahnya kecil, menyempil di antara rumah-rumah petak lainnya di Jalan Petunduhan, Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang. Thio mengakui menjadi dalang potehi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Bayarannya memang cukup besar, yaitu Rp 12.500.000 untuk satu hingga tujuh hari pertama. Pada hari kedelapan dan seterusnya dibayar Rp 600 ribu per harinya.  Tapi jumlah itu selalu dibagi dengan kru lain yang jumlahnya 20-an orang,” ungkap Thio.

Memang bukan masalah materi yang membuat Thio gelisah. Di hari tuanya, ia belum memiliki jawaban siapa  penerusnya kelak. Satu-satunya harapan adalah asistennya yang usianya juga sudah lanjut.

“Kalau ada anak muda yang berminat, saya akan mengajarinya sampai dia mahir tanpa bayaran. Tidak harus orang peranakan, pribumi pun boleh. Yang penting potehi jangan sampai hilang,” katanya. (Ganug Nugroho Adi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *