Tradisi Miyos Gongso Keraton Surakarta

Tradisi Miyos Gongso atau mengeluarkan sepasang gamelan keraton merupakan rangkaian dari peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak, dan kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan sesudahnya, temasuk Keraton Kasunanan Surakarta. Awalnya sebagai media syiar agama Islam oleh  Raden Patah, raja pertama Demak, bersama walisanga terutama Sunan Kalijaga. 

Miyos Gongso sendiri dikaitkan dengan nama gamelan buatan Sunan Kalijaga, yaitu Kyai Sekati –yang kemudian berubah menjadi sekaten. Pada zamannya, gamelan ini selalu ditabuh di halaman Masjid Agung untuk mengundang warga mengikuti dakwah agama Islam.

Di Kraton Surakarta, gamelan “kyai sekati” yang dimaksud adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.  Sepasang gamelan sekaten ini masing-masing hanya terdiri dari bonang, saron dan gong.  Lewat ritual Miyos Gongso, dua perangkat gamelan pusaka  menandai dimulainya tradisi sekaten pada Selasa (7/1).

Ritual ditandai dengan dikeluarkan dua gamelan dari Bangsal Sri Manganti menuju pagongan di komplek Masjid Agung dengan pengawalan para prajurit kraton.  Pagongan adalah sebuah bangunan berbentuk panggung, yang secara khusus dipergunakan untuk menempatkan sekaligus memperdengarkan gamelan pusaka sekaten setiap bulan Maulud. Saat ritual, pagongan dihiasi dengan janur (daun kelapa yang masih muda).

Seperti halnya gamelan, bangunan pagongan juga berjumlah sepasang, terletak di sisi depan utara dan selatan Masjid Agung. Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Guntur sari di Pagongan Kidul (selatan) Sementara itu, ribuan warga tumplek blek (memadati) di halaman masjid menunggu tetabuhan dimulai.

Menjelang gamelan dibunyikan, di komplek masjid ini juga banyak dijumpai para penjual sirih, kinang, dan telor asin. Ada tradisi unik yang sudah berlangsung lama di masyarakat berkait gamelan sekaten ini, yaitu mengunyah sirih. Masyarakat percaya bahwa   begitu mendengar gamelan ditabuh, kemudian mereka nginang (mengunyah kinang) akan awet muda.

Seperangkat kinang terdiri dari daun sirih, kinang, gambir, kembang kantil, tembakau, dan kapur) Konon, jika setelah nginang bibir dan gigi tidak berwarna merah, maka orang tersebut berarti sering bohong. Sedangkan telor asin merupakan simbol lahir kembali menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.

“Kinang ini harus dimakan saat sekaten agar awet muda dan mendapatkan berkah dari Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu. Ini kepercayaan  yang sudah turun-temurun,” ujar Darmini yang setiap tahun selalu mengiuti ritual Miyos Gongso.

Maka, begitu gamelan  Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh,  orang-orang secara serempak langsung mengunyah sirih. Tak hanya itu, begitu terdengar bunyi gamelan, warga pun berebut janur yang menjadi penghias pagongan  yang diyakini membawa berkah. Dua gending pembuka sekaten ini adalah gending Rambu dan Rangkur.

Selama sepekan, dua gamelan ini akan ditabuh setiap hari selama 24 jam, dan hanya berhenti saat kumandang adzan.  Gending-gending yang dimainkan kental dengan nuansa magis yang, berisi pujian kepada Allah SWT dan Shalawat Nabi, serta ajakan untuk menjalankan Syariat Islam secara khusuk, antara lain gending “Dendang Sabenah”, “Rangkung”, “Lung Gadungpel”, “Orang-aring” dan “Srundeng Gosong”.

Puncak perayaan sekaten diakhiri dengan Grebeg Maulud pada 12 Rabiul Awal (14 Januari). Grebeg Maulud merupakan sedekah dari Raja Surakarta Paku Buwono XIII  kepada rakyatnya, berupa jajan pasar (makanan tradisional) dan hasil bumi dalam bentuk sepasang gunungan. Kedua gunungan ini diarak dari kraton menuju Masjid Agung untuk didoakan.

Begitu digotong keluar dari masjid, gunungan ini langsung menjadi rebutan ribuan warga yang sudah menunggu berdesakan di halaman masjid. Mereka mengambil apa saja yang menjadi bagian dari gunungan, karena   percaya bahwa gunungan merupakan berkah dari keraton. Dengan ritual Grebeg Maulud ini, maka perayaan sekaten yang berlangsung selama dua pekan pun berakhir. (Ganug Nugroho Adi)