Kenalkan Batik Tulis, PPS Ajak Warga Solo Membatik di Jalanan

Minggu (16/3) bertempat di area bebas kendaraan jalan Slamet Riyadi, tepatnya didepan rumah dinas Walikota Solo Lodji Gandrung ada suasana yang berbeda. Lokasi yang biasanya menjadi arena olahraga pada saat Car Free Day (CFD) berlangsung, kemarin berubah menjadi laboratorium praktek batik tulis. Disini, masyarakat diajak belajar mengenal teknik dan cara membatik tulis melalui metode Learning By Doing.


Ya, ajang yang bertajuk “Sinau Batik Bareng Putra Putri Solo” ini adalah sebuah media pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenalkan teknik dan cara pembuatan batik tulis. Selain itu, even bentukan Paguyuban Putra-Putri Solo (PPS) angkatan 2013 ini juga bertujuan mengangkat batik tulis gaya Solo agar semakin dikenal luas oleh masyarakat. Disamping itu, dalam acara ini juga ada talkshow tentang batik, pameran poster tentang pengetahuan batik dan ditutup dengan aksi berkunjung ke museum batik Danar Hadi di nDalem Wuryaningratan.

Dengan membagikan selembar kain mori yang sudah diberi motif, panitia mengajak para peserta yang jumlahnya mencapai 55 orang untuk duduk melingkar di sebuah kompor kecil, dimana dikompor tersebut sudah terdapat malam yang sudah dipanaskan. Setelah itu, satu per satu peserta yang terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga dan umum diberi canting untuk segera mulai membatik di kain tersebut.

Salah seoarang peserta, Asta Rinasti (19) mengatakan, dirinya pernah belajar membatik sejak duduk di bangku SMA dan kali ini belajar lagi. Menurutnya awal mula belajar membatik memang susah, tiap kali membatik, malam yang ia torehkan di kain mori seringkali tak sesuai dengan pola batiknya. “Alhamdulillah meskipun sulit saya sedikit bisa belajar bagaimana cara membatik. Yang penting butuh kesabaran dan ketelatenan,” terangnya.

Humas acara, Mida Ratna Putri (23) menerangkan acara “Sinau Batik Bareng Putra Putri Solo” ini merupakan program Paguyuban PPS  angkatan 2013 untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang seni dan budaya. “Selain itu juga sebagai langkah untuk mempromosikan wisata Solo yang telah dinobatkan sebagai Kota Batik,” katanya.

Untuk peserta, sebelumnya sudah didaftar siapa saja peserta yang akan mengikuti acara tersebut. Gadis berparas ayu ini menambahkan, peserta yang ikut dalam acara tersebut  bukan hanya warga Solo  semata, namun juga ada warga yang berasal dari luar Kota Solo. “Untuk pengunjung CFD, kami menyediakan kain mori panjang lengkap dengan canting serta malam. Warga CFD yang ingin ikut belajar atau menuangkan ekspresinya membatik, bisa mencurahkan di kain tersebut,” katanya.

Ketua Panitia kegiatan, Bangkit Pamungkas, menambahkan, motif batik yang diperkenalkan kepada peserta sebagian besar adalah motif batik yang sering dibuat oleh pembatik Solo. Hal ini dilakukan supaya masyarakat Kota Solo dan sekitarnya dapat mencintai warisan asli daerahnya. Adapun motif batik itu antara lain ada motif batik parang, kawung, sekar jagat, mega mendung dan motif lainnya. “Kegiatan ini sekaligus untuk memberikan pembelajaran kepada seluruh masyarakat apa arti batik yang sebenarnya. Jangan hanya kain motifnya batik kemudian disebut batik,” jelasnya.