Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa

Batik merupakan warisan leluhur yang sudah mendunia. Indonesia memiliki kampung batik sebagai pusat pembuatan sekaligus penjualan batik. Sentra-sentra batik ini bukan sekadar sebagai tempat belanja, namun juga menjadi tempat wisata. Kampung-kampung batik ini bukan kampung biasa yang didirikan secara tiba-tiba. Sebab hamper semua kampung batik merupakan kampung tua yang memiliki jejak panjang tentang batik, lengkap dengan dinamika pasang-surut industri batik. Berikut ini beberapa kampung batik di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, yang bisa menjadi tujuan wisata belanja sejaligus wisata sejarah Anda.

 

Kampung Batik Trusmi, Cirebon


Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Ebatiktrusmi

Kampung ini terletak di Plered, Cirebon, dihuni sekitar 3000-an pengrajin batik. Dulu, Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati sengaja mengajarkan seni membatik sembari berdakwah, memperkenalkan ajaran Islam.

Hingga kini membatik masih menjadi bagian hidup warga Trusmi. Usaha batik yang tertua, menurut warga di sana, ialah Batik Gunung Jati. Jika sempat, sekalian saja melihat proses pembuatan batik yang memang terbuka. Para pekerja, mulai dari remaja hingga orang tua cukup ramah menyambut wisatawan.

Batik Gunung Jati banyak menyediakan batik cap. Ada juga batik tulis meski tak terlampau banyak. Motif yang terkenal ialah mega mendung. Disebut mega mendung karena memang seperti awan mendung. Warna khasnya ialah gumpalan awan kebiruan dengan warna dasar merah tua. Namun banyak pilihan warna lain, mulai dari hijau, biru tua, hingga kuning, merah muda dan coklat. Motif ini terlihat sebagai tirai di kereta api Jakarta-Cirebon, tapi dengan jahitan yang oke, cukup pas dijadikan busana.

Motif lain yang cukup terkenal dari Cirebon ialah motif Paksi Naga Liman, tampak seperti kereta kuda. Batik ini merupakan batik tulis. Berbeda dengan motif Mega Mendung yang tersedia mulai dari harga Rp30 ribuan, maka batik ini tergolong mahal, mulai Rp250 ribuan.

Kampung Batik Trusmi sangat ramai pengunjung menjelang Lebaran. Maklum, letaknya memang di jalur mudik menuju Jawa Tengah. Jika datang di hari biasa, Anda bisa lebih leluasa menikmati kampung batik ini dan kenyang berbelanja. Waktu yang dibutuhkan untuk merasakan suasana Kampung Batik Trusmi sekitar 4-5 jam.

Kampung Batik Kauman, Pekalongan

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Ejiebelulawordpress

Kampung Batik Kauman resmi diresmikan tahun 2007 dan kini merupakan hunian bagi puluhan pengrajin batik di Pekalongan. Daya dukung kampung ini sebagai kampung wisata tergolong baik, terbukti dengan terpilihnya kampung Batik Kauman Pekalongan sebagai salah satu desa wisata nasional. Pekalongan sendiri, penuh dengan rumah-rumah lawas juragan batik di masa lampau.

Daya tarik Kampung Kauman Pekalongan ini tak cuma batik. Melainkan juga Masjid Agung Al-Jami’ Kota Pekalongan, merupakan salah satu masjid tua yang berdiri sejak tahun 1852. Selain itu masih banyak rumah-rumah kuno di sana. Dikenal juga seni budaya Terbang Genjring dan Simtudduror, sejenis seni budaya musik religius dengan alat musik terbangan disertai salawatan nabi besar Muhammad SAW.

Motif khas batik Pekalongan banyak dipengaruhi asimilasi waga Pekalongan dengan bangsa China, Arab, Melayu, India, bahkan Belanda dan Jepang di masa lalu. Misalnya motif Jlamprang yang terinspirasi gaya India dan Arab. Ada juga Batik Encim dan Klangenan yang dipengaruhi peranakan China.

Motif Pekalongan terlihat lebih berwarna dan beragam jika dibandingkan dengan umumnya batik di Solo, Jawa Tengah. Beres di kampung wisata, melangkahlah ke Museum Batik Pekalongan untuk memperkaya wawasan. Koleksi museum ini sungguh tak mengecewakan.

Kampung Batik Laweyan, Solo

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Ganug Nugroho Adi

Sejak 1970an, kampung Laweyan memang dikenal sebagai kampungnya Juragan Batik. Maklum, kampung ini juga yang menjadi bukti keemasan Serikat Dagang Islam, diprakarsai KH Samanhudi sekitar tahun 1911. Jika Anda sempat bertandang, banyak rumah-rumah lawas yang disebut loji (berpagar tembok tinggi dan tertutup rapat). Loji tua nan megah ini lah yang menjadi tanda kampung Laweyan pernah begitu sejahtera. Asal tahu saja, eksportir batik pertama ada di kampung ini.
cap batik kampung laweyan solo

Untuk wisata belanja, Laweyan cocok buat wisatawan yang tak suka menawar. Jika ingin beli dalam jumlah banyak, lebih baik ke Klewer saja. Sebab Laweyan lebih merupakan perjalanan wisata sejarah dengan bonus belanja batik. Karena kampung ini sarat sejarah, sebaiknya jadikan perjalanan Anda istimewa dengan mengikuti agenda perjalanan komunitas lokal yang memperkaya wawasan. Misalnya, Blusukansolo.

Koleksi Kampung Batik Laweyan cukup beragam, cap dan tulis. Tidak setiap saat pengrajin batik di Laweyan berproduksi. Karena itu tidak setiap saat Anda bisa melihat proses pembuatan batik Laweyan. Motif khas batik Laweyan ialah Truntum dan Tirto Tejo. Harga rata-rata mulai dari Rp50 ribuan untuk pakaian dewasa.

Kampung Batik Kauman, Solo

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Afrinaldi Zulhen

Letak Kampung Batik Kauman tidak jauh dari Laweyan. Namun, Anda akan merasakan atmosfer yang berbeda terutama karena kampung ini sempit saja, dengan jalan-jalan kecil diantara gedung-gedung tua yang tinggi. Kampung ini terdiri dari dua kawasan, yaitu kawasan luar yang didominasi warga China dan kawasan dalam yang dihuni warga Solo asli.

Kampung ini menyimpan sejarah perpindahan Kraton Kasunanan yang dulunya Kraton Kartasura. Penduduknya, merupakan abdi dalem yang dilatih membuat jarik dan selendang batik. Karena itu, hingga kini motif batik khas Kampung Kauman berhubungan erat dengan motif batik yang sering dipakai keluarga kraton. Misalnya batik tulis motif Pakem yang diproduksi menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun. Karena itu, harganya pun mulai dari Rp 300 ribuan.

Kampung Kauman berada terletak di titik kota Solo yang bersandingan dengan berbagai pusat keramaian serta dekat Keraton Surakarta dan Pasar Klewer. Jika kita berkeliling di jalan-jalan utama di Kampoeng Batik Kauman kita akan menjumpai deretan bangunan kuno dan menyaksikan di kanan kiri berdiri galeri batik.

Kampung Kauman dihuni sekitar 30-an pengusaha batik kelas industri rumahan. Namun rata rata bisnis mereka sampai ke konsumen Jepang, Eropa dan Amerika Serikat, yang memang sudah terjalin secara turun temurun. Di Kampung ini, proses pembuatan batik merupakan bagian dari wisata. Anda bias berbelanja sekaligus belajar membatik dan menikmati pesona kejayaan masa lalu.

Kampung Batik Lasem, Rembang

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Web.budayationghoa.net

Lasem, Pancur dan Kragan ialah sentra batik di Rembang. Sempat jaya hingga tahun 80-an, batik Lasem pernah turun pamor pada era 90-an. Dari 130-an pengusaha tersisa hanya 13-an saja. Lasem kembali bangkit setelah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia.

Batik tulis Lasem, pertama kali dirintis oleh perempuan peranakan China, putri dari nahkhoda kapal dalam armada Laksamana Ceng Ho pada 1413 M. Karena itu motifnya pun kaya pengaruh budaya China, misal burung hong, naga, hingga ikan emas dan ular. Motif flora yang tampil dalam batik Lasem pun tak jauh-jauh dari teratai dan bunga seruni. Adapun motif lokal ialah watu pecah. Menarik, karena motif ini merupakan ekspresi kebencian kaum pribumi yang dipaksa kerja rodi untuk membuat jalan Pos Anyer-Panarukan.

Warna khas Batik Lasem ialah warna merah darah, biru tua (biron) dan hijau tua. Menarik, sebab masing-masing keluarga pembatik punya ramuan rahasia sehingga satu pembatik akan menghasilkan warna tang berbeda dengan pembatik lainnya.

Kampung Batik Girli Kliwonan, Sragen

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Espos/Sunaryo Haryo Bayu

Kampung Batik di Sragen ini merupakan alternatif dari Batik Solo. Menariknya setiap bulan Agustus – November biasanya diselenggarakan Festival Desa Batik di Sragen.

Mengapa disebut Girli? Kata ini sangat berkaitan dengan bahasa Inggris (yang berhubungan dengan masa gadis/perempuan). Namun maksudnya sebenarnya dari Girli adalah “Pinggir Kali”. Lokasi Desa Kliwonan yang menarik tentu menjadi pemandangan tersendiri bagi para wisatawan.

Jelajah wisata yang ditawarkan sangat menarik, kita bisa memancing di pinggiran Kali Bengawan Solo yang legendaris, juga belajar membatik dan membeli batik dengan kulaitas yang sangat bersaing tentunya. Hasil dari kerjaninan batik tidak hanya kain dan baju saja, namun perca (guntingan kain) batik digunakan untuk kerajinan tas, dompet, sendal bantal hias hingga selimut.

Di kampung ini juga terkenal bai wisatawan untuk homestay di rumah penduduk. Biaya yang dikeluarkan juga cukup terjangkau saat ini sekitar Rp 50.000 per orang/hari. Untuk mencapai lokasi ini dari Kota Solo berkendaraan mobil menuju arah Jalan Raya Solo – Surabaya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Kampung Batik Ngasem Yogyakarta

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Wikipedia

Di Yogyakarta tidak ada salahnya mengunjungi Kampung Batik di Kampung Ngasem, salah satu tempat sentra batik yang masih berada di dalam benteng keraton Yogyakarta. Kampung Ngasem sejak dulu sudah dikenal sebagai kampung batik. Sisa-sisa kejayaan batik masih terlihat dikawasan ini, antara lain bangunan besar dan mewah dengan arsitektur yang cantik. Kejayaan itu sendiri memberikan predikat kampung juragan batik di masa tahun 1972.

Di kampung ini setiap sudutnya dapat ditemui gerai dan toko batik, yang mempunyai koleksi batik yang beragam baik motif maupun coraknya. Para pengunjung pun dalam berbelanja Batik dapat mendapatkan kesan yang berbeda jika anda berbelanja di Pasar atau pusat perbelanjaan yang lain. Jangan lupa., saat membeli batik dikampung ini Anda harus pintar menawar sehingga bias mendapatkan harga yang murah.

Di Ngasem, Anda juga bias menyaksikan langsung proses membatik dari pemolaan sampai dengan pewarnaan. Akses ke kampung ini sangat mudah dan banyak angkutan tradisional dapat mengantar Anda dengan biaya yang murah. Jampung Ngasem juga berdekatan dengan beberapa tempat wisata lain, seperti Museum Kereta Keraton, Keraton Kasultanan, Tamansari dan Kampung Kauman.

Kampung Batik Jetis, Sidoarjo

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Amalibatik

Menurut sejarah batik yang berasal dari Sidoarjo ini sudah ada sejak tahun 1675 M. Mula-mula batik ini dibangun oleh Mbah Mulyadi keturunan Raja Kediri yang pindah ke Sidoarjo. Ia memasarkan batiknya di Pasar Jetis.

Kemudian Mbah Mulyadi ini mengajarkan proses pembuatan batik kepada masyarakat di sekitarnya. Namun pamor batik Jetis ini memudar dan hilang karena tidak ada yang mau menjadi pengrajin batik lagi saat itu. Baru di tahun 1950-an ada seorang warga Jetis yang ingin menghidupkan kembali pamor batik Jetis.

Bud Wida (Widiarsih) membuka kembali usaha batik tulis, banyak diantara pekerjanya adalah warga dari Kampung Jetis. Dari para karyawan Bu Wida inilah usaha batik tulis di Kampung Jetis bersemangat tumbuh kembali sejak tahun 1970-an.

Motif Batik Jetis dikenal karena warnanya yang berani seperti menggunakan warna merah, hijau, kuning dan biru. Sebagian besar masyarakat Jetis memang berprofesi sebagai pengrajin batik atau bekerja di industri bati. Karena itu kaum muda Sidoarjo membentuk sebuah paguyuban pada tanggal 16 April 2008 meresmikan Paguyuban Batik Sidoarjo. Akhirnya pada tanggal 3 Mei 2008 Bupati sidoarjo meresmikan Pasar Jetis sebagai daerah industri batik dan diberi nama “Kampoeng Batik Jetis”.

Kampung Batik Banten

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Antara

Banten propinsi yang berada paling barat Pulau Jawa ternyata juga memiliki sentra produksi batik. Sentra batik ini mulai dibangun tahun 2002 dan tidak terlalu besar, namun memiliki omzet penjualan yang cukup besar.

Kampung Batik Banten terletak di Jalan Bhayangkara, Kampung Kubil, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Cipocok Jaya, Serang. Motif batik Banten yang terkenal dengan nama motif Sebakingking yang merupakan gelar Sultan Maulana Hasanuddin. Mengenai pewarnaan, kita bisa memesannya kepada pengrajin batik di Banten.

Kampung Batik Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan

Jalan-jalan asyik, menyusuri 10 kampung batik di Pulau Jawa
Foto: Antara

Sebagai ibukota Republik Indonesia, Jakarta termasuk lambat dalam membangun Kampung Batik. Walaupun UNESCO sudah memberikan apresiasi dengan menjadikan batik sebagai warisan dunia sejak 2009, Kampung Batik Jakarta baru dibangun pada Mei 2011 di Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan.

Ide pendirian Kampung Batik ini dari Bapak Ismoyo Bimo yang kemudian direspon beberapa temannya dengan mengadajan Jakarta Batik Carnival di Palbatu, Tebet. Uniknya Palbatu hanya menyediakan pusat pencantingan dengan mendirikan sanggar-sanggar batik. Rumah-rumah warga di sana banyak yang dicat dengan batik. Namun proses pencelupan dan pewarnaan dilakukan di Marunda Jakarta Utara.

Sebenarnya Palbatu dahulunya adalah pusat produksi Batik Betawi. Jadi pemilihan lokasi tersebut juga didasarkan kepada misi untuk menyelamatkan budaya Betawi dari perkembangan ibukota Jakarta. (Dirangkum dari berbagai sumber)