Canting Pak Tukul, Pengrajin Canting Empat Generasi

Canting adalah salah satu alat yang dibutuhkan untuk membuat batik tulis. Canting ini sering kita jumpai saat mengunjungi toko, outlet batik ataupun saat berada di hotel dengan konsep tradisi Jawa. Namun siapa sangka, proses pembuatan canting cukup rumit.

Menurut Wahono, pengrajin Canting Pak Tukul, Joyontakan, RT 2 RW 4, Solo, pembuatan canting terdiri dari beberapa proses. Yang pertama adalah nelebarkan dan memanjangkan tembaga, untuk membuat tembaga menjadi panjang dan lebar dilakukan dengan cara dipukuli. Setelah menjad panjang dan lebar, tembaga tersebut dibakar dan dipotong menjadi ukuran kecil. Selanjutnya adalah proses pembentukan menjadi corong dan gagang serta contong.

“proses pembentukan corong, gagang, dan contong ini dilakukan sendiri-sendiri. baru kemudian disatukan dan dilem menggunakan pelet yang dicampur dengan kotoran ular. Setelah di lem, selanjutnya canting yang sudah mulai membentuk ini dibakar,” katanya.

Usai dibakar, canting kemudian dibentuk kembali agar corongnya tampak membulat. Proses terakhir dari pembuatan corong ini adalah melekukkan contong atau ujung yang digunakan untuk membatik. Setelah itu, canting siap dipasarkan. “Dalam sehari biasanya bisa menghasilkan 300 canting, trus kemudian dipasarkan disejumlah kota, antara lain, Solo, Jogja dan Bali,” katanya.

Wahono mengatakan, proses pembuatan canting dirumahnya sudah dilakukan sejak empat generasi sebelumnya. Menurutnya keluarganya mulai menjadi pengrajin canting sejak masa Pakubuwono X.