Kota Tua didaftarkan sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO

Program revitalisasi Kota Tua terus dilakukan oleh pengembang PT Pembangunan Kota Tua. Direktur Utama PT Pemkot Lin Che Wei menyatakan bahwa kawasan itu juga sudah didaftarkan sebagai kota warisan budaya dunia kepada UNESCO. “Senin lalu kami sudah mendaftarkan Kota Tua ke UNESCO,” katanya dilansir dari Tempo.

Sejumlah wisatawan memadati kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (8/6). Menurut PT. Pembangunan Kota Tua, kawasan wisata Kota Tua Jakarta telah didaftarkan sebagai kota warisan budaya dunia kepada UNESCO dengan tujuan membantu proses revitalisasi Kota Tua sehingga menjadi kawasan yang hidup serta menjadi pusat aktivitas masyarakat. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ss/Spt/14
Sejumlah wisatawan memadati kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (8/6). Menurut PT. Pembangunan Kota Tua, kawasan wisata Kota Tua Jakarta telah didaftarkan sebagai kota warisan budaya dunia kepada UNESCO dengan tujuan membantu proses revitalisasi Kota Tua sehingga menjadi kawasan yang hidup serta menjadi pusat aktivitas masyarakat. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ss/Spt/14

Menurut dia, pendaftaran itu dilakukan agar Kota Tua bisa menarik wisatawan mancanegara. Hal itu, disebutnya, akan sangat membantu proses revitalisasi Kota Tua agar bisa menjadi kawasan yang hidup serta menjadi pusat aktivitas masyarakat. “Karena semangat awalnya adalah menjadikan Kota Tua sebagai pusat aktivitas,” kata dia.

Lin mengatakan konsorsium proyek tengah mendata sejumlah bangunan yang dianggap memiliki nilai sejarah yang kuat. Menurut dia, sejumlah bangunan di kawasan Kota Tua memiliki nilai sejarah yang layak untuk dijadikan warisan budaya dunia.

Pengamen ondel-ondel menari menghibur pengunjung wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (8/6). Menurut PT. Pembangunan Kota Tua, kawasan wisata Kota Tua Jakarta telah didaftarkan sebagai kota warisan budaya dunia kepada UNESCO dengan tujuan membantu proses revitalisasi Kota Tua sehingga menjadi kawasan yang hidup serta menjadi pusat aktivitas masyarakat. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ss/Spt/14
Pengamen ondel-ondel menari menghibur pengunjung wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (8/6). Menurut PT. Pembangunan Kota Tua, kawasan wisata Kota Tua Jakarta telah didaftarkan sebagai kota warisan budaya dunia kepada UNESCO dengan tujuan membantu proses revitalisasi Kota Tua sehingga menjadi kawasan yang hidup serta menjadi pusat aktivitas masyarakat. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ss/Spt/14

Lin berpendapat bangunan yang didaftarkan itu tidak melulu bangunan yang bernuansa klasik atau yang identik dengan arsitektur zaman kolonial. Dia mengatakan ada satu bangunan yang arsitekturnya biasa, tapi ternyata memiliki cerita tentang budaya multikultural di Kota Tua. “Ada yang pernah disinggahi pelayar Australia atau menjadi tempat tinggal sementara pedagang dari Jepang,” ujarnya.

Hasil pendataan gedung itu, kata dia, akan diumumkan pada 11 Juni 2014 nanti. Rencananya PT Pemkot juga akan menggelar sebuah acara di Kota Tua untuk menjelaskan pemilihan gedung yang dilakukan oleh tim ahli tersebut. Dia yakin jika Kota Tua bisa menjadi kota warisan budaya seperti yang sudah diraih oleh empat kota lain di dunia.

Wisatawan memperhatikan manusia batu yang bergaya ala None Belanda di depan Museum Fatahilah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (19/5). Berbagai macam komunitas unik seperti komunitas manusia batu hadir di area wisata Kota Tua dengan tujuan menarik lebih banyak jumlah wisatawan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Asf/Spt/14.
Wisatawan memperhatikan manusia batu yang bergaya ala None Belanda di depan Museum Fatahilah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (19/5). Berbagai macam komunitas unik seperti komunitas manusia batu hadir di area wisata Kota Tua dengan tujuan menarik lebih banyak jumlah wisatawan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Asf/Spt/14.

“Kami yakin bisa karena kawasan cagar budaya kita lebih luas dari Paramaribor (Suriname), Galle (Sri Lanka), dan Willemstad (Karibia) yang sudah menjadi kota warisan budaya dunia,” katanya.

Dia juga menolak jika disebut program revitalisasi Kota Tua saat ini tengah mandek alias berhenti di tengah jalan. PT Pemkot, ujar Lin, sudah memugar setidaknya delapan gedung yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. “Karena memang fokus utama adalah gedung yang rusak berat dan hampir runtuh,” katanya.

Seorang manusia batu berpose seperti layaknya Naga Bonar di depan Museum Fatahilah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (19/5). Berbagai macam komunitas unik seperti komunitas manusia batu hadir di area wisata Kota Tua dengan tujuan menarik lebih banyak jumlah wisatawan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Asf/Spt/14.
Seorang manusia batu berpose seperti layaknya Naga Bonar di depan Museum Fatahilah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (19/5). Berbagai macam komunitas unik seperti komunitas manusia batu hadir di area wisata Kota Tua dengan tujuan menarik lebih banyak jumlah wisatawan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Asf/Spt/14.
Wisatawan berfoto bersama "Manusia Batu" di kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat , Senin (2/6). "Manusia Batu" yang tergabung dalam komunitas Pejuang 45, saat ini memiliki sepuluh orang anggota. ANTARA FOTO/Pradita Utama/mes/14.
Wisatawan berfoto bersama “Manusia Batu” di kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat , Senin (2/6). “Manusia Batu” yang tergabung dalam komunitas Pejuang 45, saat ini memiliki sepuluh orang anggota. ANTARA FOTO/Pradita Utama/mes/14.
Wisatawan berfoto bersama "Manusia Batu" di kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat , Senin (2/6). "Manusia Batu" yang tergabung dalam komunitas Pejuang 45, saat ini memiliki sepuluh orang anggota. ANTARA FOTO/Pradita Utama/mes/14.
Wisatawan berfoto bersama “Manusia Batu” di kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat , Senin (2/6). “Manusia Batu” yang tergabung dalam komunitas Pejuang 45, saat ini memiliki sepuluh orang anggota. ANTARA FOTO/Pradita Utama/mes/14.