Melirik Masjid-masjid Kuno di Kampung Batik Laweyan, Bagian 1

Masjid Al Ma’Moer, Kolaborasi Arsitektural Gaya Arab dan Jawa

Masjid Al Ma'Moer dari depan
Masjid Al Ma’Moer dari depan

Siang itu, sebuah masjid yang terletak di Jalan Sidoluhur, no 50 Kampung Batik Laweyan, nampak kosong. Tidak nampak aktifitas apapun dalam masjid tersebut, semua pintu masjid terkunci rapat. Dan masyarakat hanya bisa mengakses tempat wudhu dan kamar mandi. Meski hari itu hari Jumat, namun tidak ada aktifitas sholat Jumat di masjid itu.

Atas dasar rasa penasaran Soloraya.com mencoba menghampiri salah seorang warga, untuk menanyakan perihal bangunan masjid yang nampak tertutup rapat itu. “Mas tanya takmirnya saja. Kebetulan rumahnya dekat dari sini,” ujar warga itu sambil menunjukkan kediaman anggota takmir Masjid yang bernama Muhammad Najib.

Rumah takmir tersebut tidak jauh dari lokasi masjid. Hanya berkisar 10 meter dari lokasi tersebut. Saat wartawan Soloraya.com mengunjungi kediamannya ia nampak bersantai sambil menunggu waktu ibadah sholat Jumat. Tanpa panjang lebar, Muhammad Najib langsung mempersilahkan masuk, dengan penuh semangat ia menceritakan sejarah masjid yang memiliki arsitektural unik tersebut.

Ruang utama masjid Al Ma'Moer
Ruang utama masjid Al Ma’Moer

“Masjid ini dibangun oleh kakek saya, Haji Mas Sururi Bin Sulaiman pada tahun 1942. Masjid ini dibangun pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Menariknya masjid ini diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1945 oleh para Ulama di Kota Solo tepat sehari sebelum hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.

Disinggung soal gaya arsitektural, M Najib mengatakan, meski baru dibangun pada tahun 1945, namun kakeknya memiliki perhatian khusus pada arsitektural bangunan masjid tersebut. Bahkan, kakeknya rela berkeliling pulau Jawa dan Negara Arab hanya untuk mendapatkan gaya arsitektura yang pas untuk masjid tersebut. “Jadi dari lawatan kakek saya, dia mengumpulkan foto-foto bangunan masjid di Jawa dan di Arab. Dari foto-foto itulah dibangun masjid ini. Jadi nampak perpaduan gaya arsitektural Jawa dan Arab,” jelasnya.

Hingga sekarang bangunan Masjid Al Ma’Moer masih tetap dipertahankan, mulai dari menara masjid, tempat wudhu untuk putra dan keputren yang berupa bak besar dilengkapi gayung serta bangunan utama masjid, masih kokoh berdiri dan belum mengalami perubahan. Tidak hanya itu saja masjid ini sampai sekarang masih memelihara tradisi yang sudah ada sejak bangunan masjid ini berdiri. “Disini ada pengajian setiap hari Selasa pagi pada dimulai pukul 06.00-07.00 WIB dan kegiatan Semaan Alquran yang dilakukan tujuh jamaah setiap hari Senin malam. Kegiatan ini ada sejak awal berdirinya masjid ini,” jelasnya.

Tempat Wudhu Masjid Al Ma'Moer
Tempat Wudhu Masjid Al Ma’Moer

Sedangkan nama Masjid Al Ma’Moer diambil dengan ujub supaya masjid dan masyarakat sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai pedagang batik ini selalu dimakmurkan. “Disini umatnya tidak hanya warga sekitar, tapi juga jamaah-jamaah dari luar kota pun juga banyak yang datang untuk neribadah ataupun hanya sekedar menikmati arsitekturnya,” jelasnya.

Ia menambahkan di setiap bulan Ramadan Masjid Al Ma’Moer selalu mengelar acara buka bersama. Kegiatan salat tarawih di masjid tersebut juga berbeda dengan masjid yang lain, sebanyak 21 rekaat dan setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan tadarus Alquran. “Sebenarnya sejak tahun 1945 di masjid ini terdapat aturan dimana imam di masjid Al Ma’Moer harus hafal Alquran. Namun mulai tahun 1980 aturan tersebut tidak diberlakukan lagi, sebab sudah tidak ada orang yang bisa hafal Alquran,” ungkapnya.

Disinggung soal keberadaan masjid yang tidak melaksanakan ibadah sholat Jumat, M Najib mejelaskan, hal itu dikarenakan letak masjid Al Ma’Moer berdekatan dengan masjid Laweyan yang dibangun oleh keraton. “Jadi kalau pas ibadah sholat Jumat dipusatkan disana semua. Sedangkan kalau ibadah lima waktu, taraweh, dan kegiatan umum masjid tetap dilaksanakan di masjid ini,” katanya.

Seorang jemaah tengah menjalankan ibadah sholat di masjid Al Ma'Moer
Seorang jemaah tengah menjalankan ibadah sholat di masjid Al Ma’Moer

Hanya saja, meski sudah berusia lebih dari 50 tahun, hingga kini masjid tersebut belum dijadikan bagian Benda Cagar Budaya. “Sampai saat ini kami belum mengajukan ke pemerintah. Namun kami berharap ini bisa dilestarikan dan dijaga keberadaannya,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang warga, Effendi mengatkan masjid tersebut sangat unik dan bisa menjadi salah satu icon Laweyan juga, selain Masjid Laweyan yang dibangun oleh Ki Ageng Laweyan. “Masjid-masjid kuno di Laweyan telah menjadi sejarah adanya perkembangan Islam yang sangat pesat di Laweyan, saya harap peninggalan kuno tersebut selalu dilestarikan,” ujarnya.