Melirik Masjid-masjid Kuno di Kampung Batik Laweyan, Bagian 2

Kampung Laweyan selain dikenal dengan kampung batiknya, ternyata juga memiliki keunikan lainnya, yakni adanya bangunan-bangunan masjid kuno yang hingga saat ini keberadaan masjid tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Seperti keberadaan Masjid Laweyan. Masjid yang terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo ini tampak unik, bisa dilihat dari corak bangunannya yang memadukan unsur-unsur arsitektural bergaya Jawa, Hindu, Cina dan Eropa.

Masjid Laweyan tampak dari depan
Masjid Laweyan tampak dari depan

Memasuki bangunan Masjid ini, diawal kita akan melihat serambi. Di ruangan ini terdapat bedug dan kentongan yang biasa dibunyikan saat ibadah sholat dilakukan. Selanjutnya masuk kedalam, kita akan memasuki bangunan utama masjid yang biasa digunakan untuk sholat. Diruangan ini kita bisa menyaksikkan mimbar yang peninggalan Paku Buwono X yang sampai sekarang masih terawat.

Dilihat secara arsitektural, posisi masjid yang ada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura Hindu. Pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam Ki Ageng Henis yang ada di kompleks masjid tersebut.

Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL), Alpha Febela Priyatmono menceritakan keberadaan masjid tidak lepas dari peran serta Ki Ageng Henis. Pada awalnya Masjid Laweyan merupakan pura agama Hindu milik salah seorang pemuka agama Hindu yang akrab disapa Ki Beluk. Perlu diketahui bahwa saat itu, Ki Ageng Henis adalah penasihat spiritual Kerajaan Pajang dan juga sahabat dekat Sunan Kalijaga.

“Ki Beluk dan Ki Ageng Henis ini memiliki hubungan dekat. Dengan pendekatan damai, dan kebijakannya Ki Ageng Henis, Ki Beluk akhirnya memeluk agama Islam. Lantas kemudian sanggar milik Ki Beluk pun kemudian dirubah menjadi langgar (mushala), kemudian perkembangnya lantaran banyaknya masyarakat yang mulai memeluk agama Islam, bangunan dirubah fungsinya menjadi masjid,” jelasnya kepada Soloraya.com.

Dari sejarah itulah, bisa dipahami mengapa banyak pihak mengatakan bahwa arsitektural bangunan ini banyak mengadopsi corak Hindu. Akan tetapi, corak arsitektural bangunan masjid tersebut, lanjut Alpha tidak bisa jika hanya merupakan penggabungan antara corak Jawa dan Hindu, fakta ada gaya-gaya arsitektural lain yang mempengaruhi bangunan masjid itu. “Ini juga terjadi pada perkembangan bangunan di Kampung Batik Laweyan. Disini bisa dilihat gaya bangunan bergaya Jawa, Eropa maupun Cina,” katanya.

Corak arsitektural Masjid Laweyan bergaya arsitektural bergaya Jawa, Hindu, Cina dan Eropa
Corak arsitektural Masjid Laweyan bergaya arsitektural bergaya Jawa, Hindu, Cina dan Eropa

Lebih lanjut, Alpha mengatakan keberadaan Masjid yang dulu bernama Masjid Ki Ageng Henis ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan mataram islam di pulau Jawa. Perlu diketahui, masjid yang didirikan oleh Ki Ageng Henis ini berdiri pada tahun 1546 dimana pada saat itu berdiri kerajaan Pajang.

“Cucu dari Ki Ageng Henis, Sutowijoyo masa kecilnya tinggal di Laweyan. Kemudian setelah beranjak dewasa ia mendapatkan tanah Alas Mentaok (sekarang Kota Gede, Yogyakarta), setelah berhasil membantu menumpas pemberontakan di kerajaan Pajang. Disanalah Sutowijoyo kemudian di kenal dengan nama Panembahan Senopati. Dan menjadi raja pertama Mataram Islam di Pulau Jawa,” jelasnya.

Masjid itu sendiri, berdasarkan sejarah jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Surakarta. Berdasarkan data, keberadaan bangunan ini jauh lebih tua 300 tahun dibandingkan dengan keberadaan kota Solo. “Jadi ada Masjid ini dulu, kemudian baru 300 tahun kemudian muncul kota Solo dengan kerajaan Kasunanan Surakarta. Ini bisa dilihat pada saat HUT Kota Solo, pasti pemerintah akan datang berziarah ke makam Ki Ageng Henis,” jelasnya.

Alpha melanjutkan, keberadaan masjid dan Ki Ageng Henis berjasa besar bagi kampung Laweyan. Pasalnya semenjak keberadaan masjid dan tokoh tersebut, kampung ini kemudian tumbuh pesat. Terutama dalam bidang industri batik. “Memang tidak dijelaskan dalam sejarah apakah beliau yang mengenalkan batik kepada masyarakat disini. Namun dalam sejarah, dan referensi dari buku yang saya baca, kampung ini berkembang pesat setelah adanya masjid ini,” katanya.

Hanya saja, meski masjid tersebut memiliki arti sejarah yang besar terhadap cikal bakal berdirinya kerajaan Mataram Islam dan Kota Solo, namun hingga kini tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Disisi lain keberadaan Kampung Batik Laweyan sebagai kampung wisata, tidak menonjolkan aspek wisata religius dalam pengembangannya. “Memang yang kita kembangkan pada wisata indutri kreatif batik, wisata bangunan kuno, dan wisata seni budaya. Jadi tidak banyak jemaah muslim yang kesini hanya untuk berziarah ke makam tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang anggota takmir masjid Laweyan, Rofiq, mengatakan masjid ini dulunya hanya berupa langgar, namun pada masa Paku Buwono X, Masjid ini direnovasi oleh Keraton Kasunanan Surakarta, sehingga jauh lebih besar dan luas. “Selama masa kerajaan masjid ini merupakan tanah mardikan, artinya Masjid ini tidak diharuskan membayar upah atau pajak kepada keraton. Jadi mulai dari Kerajaan Pajang hingga Kerajaan Kasunanan, Masjid ini tetap diperhatikan,” jelasnya.

Saat ini masjid tersebut menjadi masjid yang kerap digunakan masyarakat sekitar. Meski saat ini di kawasan Kampung Batik Laweyan terdapat dua Masjid dan dua langgar, namun aktivitas sholat Jumat semuanya dipusatkan masjid tersebut. “Setiap Jumat, sholat Jumat dipusatkan disini. Masjid ini juga difungsikan sebagai masjid pada umumnya,” katanya.