Ojung, serunya pertarungan tradisional bersenjata tongkat

Seni bertarung menggunakan tongkat diduga merupakan seni senjata tertua yang digunakan manusia. Hal ini masuk akal, mengingat ketersediaan tongkat yang universal di seluruh kebudayaan dunia. Selain itu, tongkat kayu juga umum digunakan sebagai medium pengganti (simulator) latihan senjata tajam. Salah satu seni pertarungan tongkat yang jarang terekspos adalah seni tongkat yang berasal dari Nusantara. Padahal, ada banyak seni bertarung menggunakan tongkat yang berasal dari nusantara: Ujungan dari tanah Sunda, Tiban di Tulungagung dan Trenggalek, Sampyong di Lumajang, Perisaian (Paresean) dari tanah Lombok, dan lain-lain.

Satu di antara kesenian bertarung dengan senjata tongkat yakni Ojung, dari Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso, Jawa Timur. Konon, Ojung pertama kali dipakai oleh empat bersaudara yang sedang mencari sumber mata air. Saat mata air yang mereka miliki telah mengering, mereka saling berlatih tanding amaen Ojung satu sama lainnya di atas bukit secara bergiliran dan salah satu mereka menjadi wasitnya. Setelah itu mereka menemukan sumur mata air yang sampai sekarang menjadi tempat bermain Ojung setiap tahunnya.


Dua warga mengikuti kesenian tradisional Ojung dalam selamatan desa di Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (14/6). Kesenian tradisional Ojung dilakukan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME atas melimpahnya hasil pertanian, dan dihindarkan dari bencana. ANTARA FOTO/Seno/Koz/ama/14.
Dua warga mengikuti kesenian tradisional Ojung dalam selamatan desa di Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (14/6). Kesenian tradisional Ojung dilakukan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME atas melimpahnya hasil pertanian, dan dihindarkan dari bencana. ANTARA FOTO/Seno/Koz/ama/14.

Secara teknis, seni ini dilakukan oleh dua orang pemain yang ditengahi oleh seorang wasit. Masing-masing pemain memiliki senjata yang terbuat dari 3 buah rotan sepanjang 110 cm yang dikepang dengan serat nanas jadi satu dan di ujungnya sengaja dibuat pentolan bergigi. Tongkat ini disebut lapolo/lopalo.

Meski bertarung dengan menggunakan senjata, tapi pemain Ojung justru bertelanjang kaki dan dada. Serangan yang diperbolehkan adalah Sabet kearah tubuh bagian atas. Tidak diperbolehkan serangan ‘Sodhuk’ atau menusuk.

Untuk mencari lawan tidaklah sulit, di arena gelanggang 10×10 meter itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju.

Permainan  ditengahi oleh wasit yang disebut babutto. Permainan dianggap selesai apabila wasit telah menentukan siapa pemain yang terluka terlebih dahulu atau pemain yang tongkatnya jatuh lebih dahulu. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. Meskipun hal itu kadang dilakukan saat kedua pemain masih saling menyerang.

Dua warga mengikuti kesenian tradisional Ojung dalam selamatan desa di Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (14/6). Kesenian tradisional Ojung dilakukan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME atas melimpahnya hasil pertanian, dan dihindarkan dari bencana. ANTARA FOTO/Seno/Koz/ama/14.
Dua warga mengikuti kesenian tradisional Ojung dalam selamatan desa di Desa Blimbing, Klabang, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (14/6). Kesenian tradisional Ojung dilakukan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME atas melimpahnya hasil pertanian, dan dihindarkan dari bencana. ANTARA FOTO/Seno/Koz/ama/14.

Tidak heran, jika wasit juga mengalami luka-luka saat menengahi pertandingan dan tidak heran juga jika sebagian pendukung merasa kecewa dengan keputusan wasit. Walaupun begitu, tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah dalam tradisi ini. Semua pulang sebagai saudara, tidak boleh ada yang menyimpan dendam.

Dulu, Ojung merupakan bagian penting dari Rokat (selamatan) orang-orang Batuputih dalam memohon turunnya hujan pada musim Nembara’ (kemarau). Tradisi ini kini mulai jarang peminatnya dikarenakan pergeseran nilai budaya pada masyarakat yang menyebabkan permainan ini dianggap kasar. Juga karena sering kali terjadi carok dan perjudian dalam arena pertandingan.