Candi eksotis itu bernama Cetho

Di lereng sebelah barat Gunung Lawu, pada ketinggian sekitar 1.470 meter di atas permukaan laut, berdiri sebuah candi eksotis. Candi itu terletak di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Candi Cetho namanya.

Candi Cetho merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti berhuruf jawa kuno di dinding gapura teras ke-7.

Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)

Disebutkan dalam prasasti tersebut, peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan diri dari kutukan, didirikan pada tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi.

Dari prasasti tersebut juga dapat diketahui fungsi dari Candi Cetho, yakni sebagai tempat ritual ruwatan. Fungsi Candi Cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat diketahui dari simbol-simbol dan  mitologi arca-arca yang ada di dalamnya.

Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramantha dan Garudeya. Selain itu juga terdapat simbol penggambaran phallus dan vagina yang dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan, atau kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan (diruwat).

Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)

Warga setempat meyakini asal nama Cetho diambil dari nama dusun tempat situs tersebut berada, yaitu Dusun Cetho. Cetho sendiri dalam bahasa Jawa memiliki arti “jelas”.

Pesona candi ini tak hanya pada keindahan relief candi dan arsitektur kuno semata, pemandangan alamnya juga memesona. Bahkan, jika beruntung, saat cuaca cerah, dari Cetho kita bisa melihat dengan jelas puncak Gunung Lawu, Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing sekaligus.

Memasuki areal candi, terdapat gapura pintu masuk candi, yang disebut Candi Bentar, bentuknya mirip dengan gapura di Bali. Memasuki kawasan candi wisatawan dapat melihat Arca Garuda dan Kura-kura yang diwujudkan dengan susunan batu di tanah membentuk kontur burung yang sedang membentangkan sayap.

Komposisi arca berbentuk Kura-kura dan Burung di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Komposisi arca berbentuk Kura-kura dan Burung di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)

Setelah melewati arca Garuda dan Kura-kura, wisatawan boleh naik ke teras candi yang lebih tinggi dengan melewati tangga batu menuju puncak candi. Candi Cetho berbentuk teras atau punden bertingkat yang saat ini tinggal sembilan teras, berdiri  tinggi memanjang dan mengerucut.

Di bagian puncak bangunan utama berbentuk trapesium berada di teras paling atas. Sebuah bangunan utama berupa ruangan tanpa atap berdinding batu dengan tinggi kurang lebih 2 meter. Dari puncak inilah terlihat sangat jelas bangunan-bangunan lain di Candi Cetho lainnya.

Untuk mencapai lokasi Candi Cetho, dari Solo menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dengan mobil atau motor. Medan yang harus dilalui adalah jalan aspal sempit, menanjak, dan berkelok-kelok. Kabut tebal juga sering muncul tiba-tiba. Pengunjung hanya dikenai tiket masuk sebesar Rp3.000 untuk wisatawan lokal dan Rp10 ribu untuk wisatawan asing ke kawasan ini.

Detail arca di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Detail arca di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)
Detail arca di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Detail arca di Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)
Arca di pintu masuk Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Arca di pintu masuk Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)
Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pemandangan Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah. (ade rizal)