Ngabuburit unik di Solo, Palu dan Tasikmalaya

Ngabuburit, istilah yang dikenal masyarakat sebagai kegitan yang dilakukan menjelang berbuka puasa. Kegiatan ngabuburit dilakukan untuk ‘membunuh’ waktu, agar datangnya waktu berbuka puasa tidak terasa terlalu lama.

Beragam kegiatan dilakukan, di Kota Solo, warga berkumpul di Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta untuk ngabuburit. Banyak anak-anak beserta keluarganya datang sekadar untuk bermain layang-layang.


Sebuah keluarga bermain layang-layang bersama untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Alun-Alun Selatan, Solo, Jateng, Minggu sore (29/6). Berbagai kegiatan bisa dilakukan di lapangan terbuka ini, seperti berolah raga, melihat kerbau "bule" (albino), atau bercengkrama di rerumputan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ed/ama/14
Sebuah keluarga bermain layang-layang bersama untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Alun-Alun Selatan, Solo, Jateng, Minggu sore (29/6). Berbagai kegiatan bisa dilakukan di lapangan terbuka ini, seperti berolah raga, melihat kerbau “bule” (albino), atau bercengkrama di rerumputan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ed/ama/14
Seorang anak bermain layang-layang untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Alun-Alun Selatan, Solo, Jateng, Minggu sore (29/6). Berbagai kegiatan bisa dilakukan di lapangan terbuka ini, seperti berolah raga, melihat kerbau "bule" (albino), atau bercengkrama di rerumputan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ed/ama/14
Seorang anak bermain layang-layang untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Alun-Alun Selatan, Solo, Jateng, Minggu sore (29/6). Berbagai kegiatan bisa dilakukan di lapangan terbuka ini, seperti berolah raga, melihat kerbau “bule” (albino), atau bercengkrama di rerumputan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ed/ama/14

Ada pula yang menunggu datangnya waktu berbuka dengan menikmati kebersamaan dengan keluarga, duduk di rumput tanah lapang Alun-alun Selatan. Beberapa orang lain, memilih untuk menghabiskan waktu di sekitar kandang Kerbau Bule keturunan Kerbau Kyai Slamet milik keraton, sekadar menonton, ada pula yang memberi makan.

Lain lagi dengan yang dilakukan warga Palu, Sulawesi Tengah. Mereka memilih ngabuburit di Anjungan Teluk Palu. Selain udaranya sejuk, pemandangan senja di kawasan itu juga memukau.
Beberapa anak tengah bermain menggunakan skuter sebelum berbuka puasa (ngabuburit) di Anjungan Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Senin (30/6). Beberapa anak bermain menggunakan skuter sebelum berbuka puasa (ngabuburit) di Anjungan Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Senin (30/6). Semenjak diresmikannya anjungan tersebut pada tahun lalu, masyarakat kota Palu memanfaatkannya menjadi salah satu tempat untuk ngabuburit selama bulan Ramadan. ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar/ed/mes/14
Beberapa anak memilih menghabiskan waktunya menunggu berbuka dengan bermain skuter sebelum berbuka puasa. Semenjak diresmikannya anjungan tersebut pada tahun lalu, masyarakat kota Palu  memanfaatkannya menjadi salah satu tempat untuk ngabuburit selama bulan Ramadan.

Warga Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa dengan bermain petasan tradisional setempat. Petasan tradisional itu disebut dengan Bedil Lodong (Senapan Toples).

Disebut Bedil Lodong karena petasan tersebut terbuat dari botol bekas air minum dan pipa paralon, sehingga bentuknya mirim lodong, atau tempat menyimpan makanan. Bahan bakar petasan ini dari spirtus.

Pedagang musiman penjual Bedil Lodong banyak bermuncuilan di Tasikmalaya saat bulan Ramadan. Senapan Lodong tersebut dijual dengan harga Rp 15.000  hingga Rp 70.000 tergantung ukuran. (Antara)

Beberapa bocah mencoba petasan tradisional (Bedil Lodong) yang terbuat dari pipa paralon dan botol minuman bekas dengan dicampur minyak spirtus, di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (30/6). Pedagang musiman saat bulan Ramadan tersebut bisa menjual 50 petasan dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 70.000 tergantung ukuran. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ed/mes/14
Beberapa bocah mencoba petasan tradisional (Bedil Lodong) yang terbuat dari pipa paralon dan botol minuman bekas dengan dicampur minyak spirtus, di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (30/6). Pedagang musiman saat bulan Ramadan tersebut bisa menjual 50 petasan dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 70.000 tergantung ukuran. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ed/mes/14
Beberapa bocah mencoba petasan tradisional (Bedil Lodong) yang terbuat dari pipa paralon dan botol minuman bekas dengan dicampur minyak spirtus, di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (30/6). Pedagang musiman saat bulan Ramadan tersebut bisa menjual 50 petasan dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 70.000 tergantung ukuran. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ed/mes/14
Beberapa bocah mencoba petasan tradisional (Bedil Lodong) yang terbuat dari pipa paralon dan botol minuman bekas dengan dicampur minyak spirtus, di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (30/6). Pedagang musiman saat bulan Ramadan tersebut bisa menjual 50 petasan dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 70.000 tergantung ukuran. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ed/mes/14