Perayaan Hari Pariwisata Dunia di Solo

Hari Pariwisata Dunia atau World Tourism Day yang jatuh tanggal 27 September dan dideklarasikan pada tahun 1978, untuk pertama kali di Indonesia akan dirayakan secara akbar di Kota Solo. Sebanyak 1.000-an pelaku pariwisata bersama berbagai komunitas dan utusan instansi, akan mengikuti uopacara khusus bertajuk Solo World Tourism Day (SWTD) dan dirancang secara unik di Taman Balekambang, Solo, Sabtu (27/9/2014).

Dikutip dari Pikiran Rakyat, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Kota Solo, sebagai Ketua Panitia SWTD, Daryono, menerangkan kepada wartawan, di Taman Balaikambang, Jumat (26/9/2014), para pelaku pariwiisata se wilayah Surakarta, sepakat merayakan World Tourism Day pada 2014 karena selama ini belum pernah dirayakan di Indonesia.

Momentum ini akan dimanfaatkan untuk menyatukan tekad dan semangat menghadapi persaingan ketat pada era Asean Community tahun 2015.

Penari Topeng Ireng dari Boyolali menampilkan Tari Dayakan Prajuritan saat acara Solo World Turism Day di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (27/9). Acara bertajuk Tourism and Community Development itu digelar untuk peringatan hari pariwisata sedunia 2014 (World Tourism Day) yang selalu di peringati oleh seluruh pelaku industri pariwisata di dunia yang di inisiasi oleh United National World Tourism Organization. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Koz/pd/14.
Penari Topeng Ireng dari Boyolali menampilkan Tari Dayakan Prajuritan saat acara Solo World Turism Day di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (27/9). Acara bertajuk Tourism and Community Development itu digelar untuk peringatan hari pariwisata sedunia 2014 (World Tourism Day) yang selalu di peringati oleh seluruh pelaku industri pariwisata di dunia yang di inisiasi oleh United National World Tourism Organization. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Koz/pd/14.

“Memasuki era Asean Community para pelaku pariwisata Indonesia akan menghadapi pesaing-pesaing yang makin berat. Kalau kita tidak siap dan tidak menyatukan diri karena egoisme masing-masing pelaku usaha pariwisata pasti akan tergilas. Upacara SWTD di obyek wisata Taman Balekambang kita jadikan ajang promosi pariwisata, karena dalam upacara ada unsur entertainmentnya,” ujarnya.

Menurut Daryono, peserta upacara khas bernuansa atraksi wisata tersebut, di antaranya komunitas public relation, travel agent, biro perjalanan pariwisata, pengusaha obyek wisata, komunitas jasa boga, komunitas seni dan budaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan komunitas pedagang pasar tradisional dan lain-lain.

Para peserta upacara tersebut, selain mengenakan seragam dan atribut komunitas masing-masing, khusus para manajer akan mengenakan kostum wayang orang yang merupakan warisan budaya dunia nonbenda.

Penari Topeng Ireng dari Boyolali menampilkan Tari Dayakan Prajuritan saat acara Solo World Turism Day di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (27/9). Acara bertajuk Tourism and Community Development itu digelar untuk peringatan hari pariwisata sedunia 2014 (World Tourism Day) yang selalu di peringati oleh seluruh pelaku industri pariwisata di dunia yang di inisiasi oleh United National World Tourism Organization. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Koz/pd/14.
Penari Topeng Ireng dari Boyolali menampilkan Tari Dayakan Prajuritan saat acara Solo World Turism Day di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (27/9). Acara bertajuk Tourism and Community Development itu digelar untuk peringatan hari pariwisata sedunia 2014 (World Tourism Day) yang selalu di peringati oleh seluruh pelaku industri pariwisata di dunia yang di inisiasi oleh United National World Tourism Organization. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Koz/pd/14.

Peringatan Hari Pariwisata Dunia di Solo yang jatuh pada bulan September yang dalam kalender wisata Indonesia termasuk kategori low seasons tersebut, sambung Ketua Asita Solo itu, diharapkan juga dapat menjadi ajang diskusi untuk menggairahkan kepariwisataan di daerah.

Dia menyatakan prihatin, selama ini di antara para pelaku usaha pariwisata di daerah bersaing sacara tidak sehat dan di antara pemerintah daerah juga tidak bersinergi, sehingga situasi itu tidak mendukung perkembangan pariwisata.

“Padahal sekarang di Kota Solo dan sekitarnya bermunculan hotel-hotel baru dan berbagai fasilitas pariwisata lain. Kalau dia antara pelaku usaha pariwisata tidak bersatu dan bersinergi akan bisa ambruk. Lesunya pariwisata MICE akibat pemangkasan anggaran rapat-rapat di pemerintahan sudah terasa dampaknya. Hal itu akan kita bicarakan dalam Grand Morning Tea seusai upacara,” jelasnya.