Tahok, camilan tradisional yang mulai langka

Tahok merupakan makanan tradisional khas Solo yang sudah mulai langka. sebab, kini hanya tinggal 2 pedagang Tahok yang kesemuanya sudah berusia senja. Salah satu edagang Tahok adalah Pak Citro yang membuka lapak kaki lima di sebelah barat pintu utama Pasar Gedhe Solo.

Pak Citro penjual 'Tahok' khas Pasar Gedhe Solo tengah menyiapkan semangkuk Tahok.
Pak Citro penjual ‘Tahok’ khas Pasar Gedhe Solo tengah menyiapkan semangkuk Tahok.

Tahok merupakan makanan mirip puding yang dibuat dari kedelai dengan proses pembuatan mirip dengan proses pembuatan tahu.Tahok dalam bahasa Tionghoa berasal dari dua kata yaitu tao atau teu yang berarti kacang kedelai dan hoa atau hu yang berarti lumat. Berdasarkan etimologi dapat disimpulkan bahwa Tahok berasal dari kedelai yang dilumatkan atau dihaluskan. Bentuk dari Tahok seperti bubur tapi lebih kenyal.
Puding tahu 'Tahok' khas Pasar Gedhe Solo.
Puding tahu ‘Tahok’ khas Pasar Gedhe Solo.

Proses pembuatan tahok cukup memakan waktu. Menurut Pak Citro (78) pedagang Tahok di Pasar Gede Solo, dirinya mulai memproses dari pukul 01.30 wib-05.00 wib dengan menggunakan alat tradisional yaitu menggiling dengan dua buah batu yang ditumpuk dan digerakkan dengan tangkai yang dihubungkan ke satu as yang digerakkan. proses sebelum penggilingan, kedelai di rendam semalam, dibersihkan dan dipisahkan dari kulitnya. Kekenyalan adonan didapat dengan memberi campuran tepung hungkwe.
Seporsi Tahok khas Pasar Gedhe Solo.
Seporsi Tahok khas Pasar Gedhe Solo.

Tahok ini disajikan dengan kuah jahe yang manis dan hangat. Selain dijual di Pasar gedhe, Tahok juga dijual pedagang lain di Jembatan Gantung, Lojiwetan. Pak Citro mulai melayani pembeli pada pukul 06.00 WIB sampai dagangan habis, biasanya menjelang sore dagangannya sudah ludes. Semangkok Tahok dijual dengan harga Rp 5 ribu.
Bangunan Pasar Gedhe Solo
Bangunan Pasar Gedhe Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *