Pameran Batik Warisan Budaya VII angkat Batik Sogan Klasik

Kementerian Industri (Kemenperin) menggelar pameran batik warisan budaya yang ke VII selama empat hari di lobi gedung Kemenperin Jalan Gatot Subroto, Kavling 52-53, Jakarta Selatan.

Pameran batik yang mengangkat tema ‘Sogan Seni Batik Klasik’ resmi dibuka pada 30 September sampai 3 Oktober 2014 sejak pukul 09.00-17.00 WIB. “Batik sogan merupakan batik bernuansa klasik dengan warna dominan dan variasi warna coklat yang menggunakan pewarna alami yang diambil dari batang kayu soga,” kata Sekertaris Direktoral Jendral Industri Kecil Menengah, Busharmaidi, Selasa.


Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14
Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14

Menurutnya, industri batik merupakan salah satu sektor yang mempunyai kedudukan, potensi dan peran strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang semakin berkembang. Karena itu, Kemenperin terus mendorong pengembangan industri batik di Indonesia.

Dirjen Industri, Argo Panggah Susanto mengatakan batik merupakan warisan budaya Indonesia dan juga identitas bangsa, oleh sebab itu harus diberikan penghargaan berupa perlindungan. “Perlindungan bagi para pembatik atas karya intelektualnya diatur melalui Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang bertujuan untuk mencegaj terjadinya penggunaan atau pemanfaatan budaya tradisional Indonesia khususnya seni batik tradisional yang dilakukan oleh pihak asing yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ia juga mengatakan batik Indonesia telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu dan perkembangan itulah membuat eksistensi batik sebagai identitas bangsa semakin kuat. “Umumnya industri kecil dan menengah dan telah menjadi sandaran hidup bagi masyarakat. Selain itu, batik pun merupakan salah satu warisan budaya kita dan indentitas bangsa,” ujar Panggah.

Sebanyak 54 perajin batik yang berasal dari Solo, Yogyakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, Surakarta, Banjarnegara, Madura dan Jakarta mengikuti pameran ini.

Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14
Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14

Populerkan Batik Sogan

Pemilihan Batik Sogan sebagai tema dalam pamerain ini karena ingin mengangkat pamor Batik Sogan sebagai warisan budaya Indonesia. Yayasan Batik Indonesia ingin mempopulerkan batik sogan, yang biasanya hanya dipakai untuk kesempatan resmi.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Yultin Ginanjar Kartasasmita mengatakan yayasannya ingin batik sogan bisa populer di banyak kalangan, termasuk di kalangan anak-anak muda.

“Kami akan membuat pagelaran busana sehingga orang bisa melihat bahwa sogan tidak hanya bisa dipakai pada kesempatan klasik, tapi juga pesta dan dipakai anak muda,” katanya di Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian Jakarta, Selasa.

Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14
Pengunjung mengamati batik indigo dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14
Pengunjung mengamati kebaya dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14
Pengunjung mengamati kebaya dalam Pameran Batik Warisan Budaya VII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/9). Pameran yang berlangsung hingga 3 Oktober 2014 itu menampilkan karya batik asal Yogyakarta, Solo, Bandung, Cirebon, Pekalongan, dan Madura. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/14

Upaya untuk mempopulerkan batik sogan antara lain dilakukan dengan memberdayakan perancang Indonesia untuk membuat ragam rancangan busana batik sogan.

Desainer yang diminta membuat rancangan busana batik sogan antara lain Oscar Lawalata, Barli Asmara, Stephanus Hamy, Era Soekamto, Didiet Maulana, Bi, Parang Kencana dan Danar Hadi.

“Agar sogan tidak hanya diminati untuk paduan kebaya, tapi juga untuk pakaian,” ujar dia.

Batik sogan adalah batik klasik dengan warna dominan coklat yang pewarnaannya menggunakan batang kayu pohon soga. Batik sogan identik dengan motif keraton Jawa seperti Yogyakarta dan Solo.