Tradisi Tebokan Jenang Kudus

Ratusan warga Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu, menggelar kirab “tebokan” merayakan Tahun Baru Islam 1436 Hijriyah.

Kirab “tebokan” yang digelar Sabtu (25/10) sore diikuti puluhan anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang membawa sesaji berupa makanan jenang, jajan pasar, dan hasil bumi yang diarak mengitari Desa Kaliputu.


Rute perjalanan dimulai dari Jalan Sosrokartono menuju pertigaan Desa Bacin, arah GOR Desa Kaliputu, melintasi Kantor Balai Desa Kaliputu hingga menuju panggung utama di kompleks Makam Keluarga Tjondronegaran. Kirab juga dimeriahkan seni barong serta drum band.

Sejumlah peserta mengikuti prosesi kirab saat acara tradisi Tebokan Jenang Kudus di kawasan sentra Jenang Kudus, Kaliputu, Kudus, Jateng, Sabtu (25/10). Tradisi Tebokan yang digelar setiap Tahun Baru Hijriyah atau 1 Suro itu merupakan simbol ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas keberhasilan mereka di bidang usaha jenang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ss/mes/14.
Sejumlah peserta mengikuti prosesi kirab saat acara tradisi Tebokan Jenang Kudus di kawasan sentra Jenang Kudus, Kaliputu, Kudus, Jateng, Sabtu (25/10). Tradisi Tebokan yang digelar setiap Tahun Baru Hijriyah atau 1 Suro itu merupakan simbol ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas keberhasilan mereka di bidang usaha jenang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ss/mes/14.

Sepanjang rute jalan yang akan dilalui rombongan kirab, dipadati warga sudah menantikan kehadiran mereka sejak siang hari.

“Tebokan” merupakan istilah dari kata “tebok” (bahasa Jawa), yaitu sejenis nampan dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk meletakkan jenang.

Menurut Penjabat Kepala Desa Kaliputu Paimin di Kudus, Sabtu, tradisi tebokan merupakan simbol untuk mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas keberhasilan mereka di bidang usaha jenang yang diperingati bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam.

Kirab tersebut, diikuti ratusan warga yang didukung puluhan pengusaha jenang di Desa Kaliputu serta beberapa pengusaha jenang dari luar desa setempat.

Adanya keterlibatan anak-anak yang membawa tebok berarak keliling desa, diharapkan menjadi generasi penerus usaha jenang di desa setempat.

Sepanjang rute kirab yang berjarak sekitar tiga kilometer, peserta kirab diiringi musik rebana dan “drum band” dari sekolah setempat, serta puluhan warga sekitar yang ikut kirab.

Ritual tersebut semakin menarik, anak-anak meletakkan tebok di atas kepala untuk diarak dengan berjalan kaki keliling desa.

Sejumlah peserta mengikuti prosesi kirab  acara tradisi Tebokan Jenang Kudus di kawasan sentra Jenang Kudus, Kaliputu, Kudus, Jateng, Sabtu (25/10). Tradisi Tebokan yang digelar setiap Tahun Baru Hijriyah atau 1 Suro itu merupakan simbol ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas keberhasilan mereka di bidang usaha jenang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ss/mes/14.
Sejumlah peserta mengikuti prosesi kirab acara tradisi Tebokan Jenang Kudus di kawasan sentra Jenang Kudus, Kaliputu, Kudus, Jateng, Sabtu (25/10). Tradisi Tebokan yang digelar setiap Tahun Baru Hijriyah atau 1 Suro itu merupakan simbol ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas keberhasilan mereka di bidang usaha jenang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ss/mes/14.

Setelah sampai di panggung utama, dilakukan doa yang dipimpin oleh ulama setempat, selanjutnya semua tebok diperebutkan warga.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Sunardi mengungkapkan, kegiatan “tebokan” ini bertujuan mendorong para pengusaha jenang untuk mengembangkan usahanya agar bisa dipasarkan ke berbagai daerah.

Desa Kaliputu, katanya, ditetapkan pula sebagai desa wisata.

Sentra usaha jenang di daerah setempat, katanya, bisa dikemas dengan wisata religi, yakni makam Sosrokartono serta objek wisata religi lainnya di Kudus, seperti Makam Sunan Kudus maupun Sunan Muria.

Keberadaan usaha jenang tersebut, katanya, turut mendorong diciptakannya tari jenang.

“Tari tersebut juga tampil di Taman Mini Indonesia Indah yang disaksikan masyarakat dari berbagai daerah,” ujarnya.

Terkait peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah, kata dia, menjadi momentum bagi semua orang untuk introspeksi diri dan berupaya melakukan kegiatan yang lebih baik pada sisa hidup ini.

Pemkab Kudus juga menyambut Tahun Baru Islam dengan menggelar doa bersama di Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat (24/10) malam.

Bupati Kudus Musthofa berharap, roda pemerintahan bisa berjalan dengan baik dan terhindar dari segala cobaan. (ant)