Tradisi unik gendong kambing sebelum disembelih

Tiga orang pemuka masyarakat membawa gendongan bagai ibu menyusui bayi. Di dalam gendongan, sesekali terdengar suara mengembik. Maklum, mereka memang menggendong kambing ke lokasi pemotongan hewan kurban.

Begitulah tradisi masyarakat Negeri Tulehu, Maluku Tengah. Selepas Sholat Ied, prosesi menggendong tiga ekor kambing dimulai, menjadi bagian dari upacara Kaul dan Abdau.

Sebelum disembelih, ketiga kambing itu digendong dengan kain oleh pemuka adat dan agama untuk diarak keliling Negeri. Diiringi shalawat dan takbir, ketiga kambing itu dibawa menuju ke pelataran Masjid Negeri Tulehu.

Penyembelihan langsung dilakukan oleh imam besar Masjid Negeri Tulehu. Dari atas masjid, kelompok ibu-ibu menabur bunga yang harum baunya. Sementara darah cipratan kambing yang disembelih diperebutkan oleh pemuda anggota adat abda’u, simbol bahwa pemuda Tulehu rela berkorban untuk kebenaran.

Sejumlah warga mengendong Kambing kurban dalam Tradisi “Kaul Kurban” di Desa Tulehu, Pulau Ambon, Maluku, Minggu (5/10). Kaul Kurban atau penyembelihan kurban diawali dengan arak-arakan tiga ekor kambing yang dijadikan kurban mengelilingi desa tersebut sambil digendong. ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan/ed/pd/14
Sejumlah warga mengendong Kambing kurban dalam Tradisi “Kaul Kurban” di Desa Tulehu, Pulau Ambon, Maluku, Minggu (5/10). Kaul Kurban atau penyembelihan kurban diawali dengan arak-arakan tiga ekor kambing yang dijadikan kurban mengelilingi desa tersebut sambil digendong. ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan/ed/pd/14

Para pemuda tersebut, umumnya berkaus singlet dan berikat kepala warna putih. Selama awal upacara, mereka beramai-ramai menuju rumah imam Negeri Tulehu.

Setelah para pemuda abda’u sampai, imam besar menyerahkan bendera hiju (lambang kesuburan) berenda benang bewarna kuning emas (lambang kemakmuran). Bendera inilah yang nantinya bakal diperebutkan oleh ratusan pemuda yang mengikuti upacara ini.

Saat berebut sering terjadi aksi saling dorong, injak, bahkan baku pukul. Konon, tubuh para pemuda itu tetap kuat karena terlebih dahulu disiram air berkhasiat oleh Imam Besar yang berfungsi agar terbebas dari rasa sakit.

Atrakasi Kaul Kurban atau penyembelihan kurban ternak merupakan sebuah prosesi ritual dan sakral setelah terinspirasi dari Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Daging kurban ternak dibagikan kepada fakir miskin dan atau mereka yang menerimanya sesuai dengan hukum syariat Islam.
Sejumlah warga mengendong Kambing kurban dalam Tradisi “Kaul Kurban” di Desa Tulehu, Pulau Ambon, Maluku, Minggu (5/10). Kaul Kurban atau penyembelihan kurban diawali dengan arak-arakan tiga ekor kambing yang dijadikan kurban mengelilingi desa tersebut sambil digendong. ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan/ed/pd/14
Sejumlah warga mengendong Kambing kurban dalam Tradisi “Kaul Kurban” di Desa Tulehu, Pulau Ambon, Maluku, Minggu (5/10). Kaul Kurban atau penyembelihan kurban diawali dengan arak-arakan tiga ekor kambing yang dijadikan kurban mengelilingi desa tersebut sambil digendong. ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan/ed/pd/14

Tradisi Abda’u, berasal dari kata abada yang artinya ibadah. Abdau merupakan sebuah pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta. Pemuda negeri Tulehu menyatakan mengabdi kepada Allah yang telah mencipta jagat raya dan isinya.

Asal usul tradisi Abda’u ini diperkirakan dimulai sekitar tahun 1500 Masehi, seabad setelah masuknya Islam ke Jazirah Leihitu. Abdau diselenggarakan secara rutin setiap Hari Raya Idul Adha karena dua alasan. Pertama, abdau merupakan refleksi nilai sejarah yang terinsirasi dari sikap pemuda Ansar yang dengan gagah dan gembira menyambut hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa itulah yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Alasan kedua, abda’u merupakan refeksi dari masyarakat Tulehu tempo dulu yang hidup berkelompok di hena-hena (kampung-kampung kecil) di antara Gunung Salahutu hingga bukit Huwe, yang belum mengenal agama samawi. Mereka menyambut para ulama yang membawa ajaran agama Islam dengan rasa syukur, ikhlas, dan gembira. Masuknya agama Islam di Jazirah Leihitu, khususnya di Uli Solemata di bagian timur Salahutu adalah sebuah proses perubahan peradaban manusia menjadi lebih baik. (dari berbagai sumber)