Adat Ngarot, pesertanya harus perawan suci

Ngarot merupakan salah satu upacara adat yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa-Barat. Upacara adat ini biasanya diselenggarakan pada saat menyongsong datangnya musim hujan, bersamaan dengan tibanya musim tanam padi. Upacara adat ini biasanya diadakan pada bulan Desember minggu ke tiga, dan selalu dilaksanakan  pada hari Rabu, yaitu salah satu hari yang dianggap baik dan dipercayai oleh masyarakat Lelea  sebagai hari yang mempunyai sifat bumi yang cocok untuk mengawali musim tanam.

Kata Ngarot  berasal dari bahasa Sansekerta berarti Ngaruwat yang berarti membersihkan diri dari segala noda dan dosa akibat kesalahan tingkah laku seseorang  atau sekelompok orang pada masa lalu. Sedangkan menurut bahasa Sunda kuno, Ngarot mempunyai arti minum.   Penduduk setempat menyebutnya  Kasinoman, karena pelakunya para kawula muda. Enom sendiri berarti anak muda. Jadi Ngarot  diartikan sebagai  pesta minum-minum.  Selain itu tujuan diadakannya  Pesta Adat Ngarot adalah  mengumpulkan para muda-mudi yang akan diserahi tugas pekerjaan pembangunan di bidang pertanian sambil menikmati  minuman dan hiburan kesenian di balai desa. Pesta adat Ngarot juga bertujuan untuk membina pergaulan yang sehat, agar muda mudi saling mengenal, saling menyesuaikan sikap, kehendak dan tingkah laku yang luhur yang sesuai dengan nilai-nilai budaya nenek moyang.


Sejumlah gadis desa bersiap untuk mengikuti perayaan adat Ngarot di Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (19/11). Perayaan adat Ngarot yang diikuti puluhan muda-mudi (kasinoman) berhiaskan bunga di kepala itu merupakan pesta menjelang musim tanam padi sebagai wujud suka cita masyarakat atas berkah yang diberikan Sang Pencipta. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/Rei/NZ/14.
Sejumlah gadis desa bersiap untuk mengikuti perayaan adat Ngarot di Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (19/11). Perayaan adat Ngarot yang diikuti puluhan muda-mudi (kasinoman) berhiaskan bunga di kepala itu merupakan pesta menjelang musim tanam padi sebagai wujud suka cita masyarakat atas berkah yang diberikan Sang Pencipta. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/Rei/NZ/14.

Peserta yang mengikuti  upacara adat Ngarot ini adalah remaja putra dan remaja putri yang memakai pakaian khas. Uniknya remaja putri yang mengikuti pesta adat Ngarot ini harus  gadis yang masih suci. Remaja putri peserta upacara adat Ngarot ini harus mengenakan busana kebaya berselendang yang dilengkapi dengan aksesoris seperti kalung, gelang, cincin, bros, peniti emas dan hiasan rambut. Uniknya hiasan rambut dalam upacara ini menggunakan rangkaian bunga-bunga seperti bunga kenanga, bunga melati dan kertas. Sedangkan remaja putra memakai baju komboran dan celana gombrang berwarna hitam yang dilengkapi dengan ikat kepala serta memakai gelang akar bahar .

Semua aksesoris itu merupakan simbol-simbol yang mempunyai pesan misalnya, bunga kenanga mengandung pesan  agar remaja putri tetap menjaga keperawanannya, melati mempunyai pesan agar  remaja putri harus tetap menjaga kebersihan diri dan kesucian, bunga kertas mengandung pesan bahwa remaja putri harus tetap menjaga kecantikannnya sebagai kembang desa. Gelang, kalung, cincin, peniti, bros mempunyai arti bahwa petani harus bekerja keras dan giat dalam menggarap sawah agar hasil panennya melimpah. Sedangkan gelang akar bahar yang dikenakan remaja putra mempunyai maksud bahwa seorang perjaka harus melndungi dan mengayomi keluarga dan masyarakat.

Pakaian kebaya, komboran yang merupakan pakaian khas pesta ada Ngarot mempunyai arti bahwa masyarakat Kesa Lelea harus tetap menjaga dan melestarikan pakaian adat petani, selendang mengandung maksud agar remaja putri harus menjaga penampilan fisik agar terlihat cantik dan menarik.

Sejumlah gadis desa diarak keliling kampung saat mengikuti perayaan adat Ngarot di Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (19/11). Perayaan adat Ngarot yang diikuti puluhan muda-mudi (kasinoman) berhiaskan bunga di kepala itu merupakan pesta menjelang musim tanam padi sebagai wujud suka cita masyarakat atas berkah yang diberikan Sang Pencipta. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/Rei/NZ/14.
Sejumlah gadis desa diarak keliling kampung saat mengikuti perayaan adat Ngarot di Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (19/11). Perayaan adat Ngarot yang diikuti puluhan muda-mudi (kasinoman) berhiaskan bunga di kepala itu merupakan pesta menjelang musim tanam padi sebagai wujud suka cita masyarakat atas berkah yang diberikan Sang Pencipta. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/Rei/NZ/14.

upacara adat Ngarot biasanya dimulai pada pukul 08.30. Semua muda mudi peserta Ngarot berkumpul di halaman kepala desa. Dan setelah para muda mudi didandani dengan cantik dan gagah, kemudian mereka diarak keliling kampung dengan urutan  kepala desa berada paling depan, disusul oleh remaja putri dan kemudian remaja putra pada barisan paling belakang. Arak-arakan ini diiringi dengan music khas  daerah Indramayu. Setelah acara arak-arakan selesai, semua peserta Ngarot masuk ke aula Balai desa untuk memulai acara inti seperti penyerahan  ruas bambu kuning, daun andong dan kelararas daun pisang, semua itu nantinya ditancapkan di sawah dan merupakan symbol agar tanaman padi terhindar dari hama  harus tetap menjaga kebersihan diri dan kesucian, bunga kertas mengandung pesan bahwa remaja putri harus tetap menjaga kecantikannnya sebagai kembang desa. Gelang, kalung, cincin, peniti, bros mempunyai arti bahwa petani harus bekerja keras dan giat dalam menggarap sawah agar hasil panennya melimpah. Sedangkan gelang akar bahar yang dikenakan remaja putra mempunyai maksud bahwa seorang perjaka harus melndungi dan mengayomi keluarga dan masyarakat.

Pakaian kebaya, komboran yang merupakan pakaian khas pesta ada Ngarot mempunyai arti bahwa masyarakat Kesa Lelea harus tetap menjaga dan melestarikan pakaian adat petani, selendang mengandung maksud agar remaja putri harus menjaga penampilan fisik agar terlihat cantik dan menarik.