Gulat Okol, gulat tradisi wujud syukur warga Gresik

Tradisi gulat okol masih dijaga oleh warga Desa Setro, Kecamatan Menganti, Gresik, Jawa Timur, hingga saat ini. Tradisi unik itu merupakan wujud rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh para petani.

Seusai panen dan pada musim kemarau, mereka menggelar sedekah bumi, remo kaulan, dan gulat tradisional yang oleh warga setempat disebut okol. Gulat okol menjadi agenda rutin tahunan dan menjadi bagian dari wisata budaya.


Tahun ini, ritual sedekah bumi dimulai dengan mengarak bidadari dan petinggi desa, mulai dari Setro Kulon hingga Setro Wetan, menempuh jarak sekitar 4 kilometer. Petinggi desa dinaikkan kereta, diikuti arak-arakan tumpeng agung dan hasil bumi yang dibawa ke balai desa.

Warga Setro membuat tumpeng yang terbuat dari hasil bumi, terdiri dari berbagai makanan, buah-buahan, sayuran, serta umbi-umbian. Selain itu, masih ada tumpeng-tumpeng lain berisi nasi, lauk ayam bakar atau telur dadar, dan buah-buahan. Sesampai di balai desa, tumpeng itu menjadi rebutan warga. Warga yang mendapat bagian isi dari tumpeng milik tetangga akan membawanya pulang dengan keyakinan rezekinya akan semakin mengalir.

Dua warga mengikuti pertandingan gulat tradisonal (Okol) di Desa Setro Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jatim, Minggu (2/11). Okol merupakan olahraga tradisonal yang sudah berumur ratusan tahun dan menjadi bagian dari ritual Sedekah Bumi Desa Setro. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ss/Spt/14
Dua warga mengikuti pertandingan gulat tradisonal (Okol) di Desa Setro Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jatim, Minggu (2/11). Okol merupakan olahraga tradisonal yang sudah berumur ratusan tahun dan menjadi bagian dari ritual Sedekah Bumi Desa Setro. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ss/Spt/14

Sedekah bumi itu dimaksudkan untuk menghormati leluhur yang membuka hutan di kawasan Setro menjadi sebuah desa, yakni Nyai Bulu dan Kiai Bulu. Atas jasa mereka, terbukalah kawasan pertanian di Setro yang hingga kini mencapai sekitar 300 hektar.

Sedekah bumi di Setro mempunyai tiga fungsi, yakni tegal desa yang ditujukan kepada leluhur yang memberi peninggalan desa berupa lahan pertanian, ruwah desa untuk mengingat dan mendoakan arwah leluhur, dan sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atau selamatan atas hasil bumi.

Setelah prosesi dan cerita sejarah mengenai sedekah bumi dan gulat tradisional yang disampaikan sesepuh desa, acara dilanjutkan dengan remo kaulan. Pada prosesi ini ada dua penari remo yang diiringi gamelan serta kidungan. Dalam acara ini ada warga yang menyawer.

Sejumlah orang yang memiliki nazar, kaul, atau ujar-ujar menyebarkan uang pecahan Rp 200-Rp 5.000. Uang itu disebarkan untuk diperebutkan anak- anak dan warga. Sementara anak balita diciumi sinden dan penari remo.

Prosesi ditutup dengan gulat tradisional, yakni gulat okol. Ritual gulat ini awalnya dilaksanakan di area persawahan becek oleh lumpur yang terkena hujan. Namun, kini gulat okol digelar di panggung dengan matras dari karung goni yang pada bagian bawahnya diletakkan jerami demi keamanan. Kalangan (gelanggang) gulat berukuran 6 meter x 8 meter dibuat seperti ring tinju dengan dua sudut, di sekeliling panggung diberi tali tambang besar. Selain meneruskan tradisi, kini gulat okol juga menjadi atraksi hiburan.

Dua pegulat dibedakan dengan ikat kepala serta sabuk warna merah dan hitam. Setiap pegulat melaksanakan dua ronde gulat. Yang menang dua ronde berturut-turut akan diadu lagi dengan pemenang lain hingga didapatkan juara. Gulat kali ini dibagi tiga kategori, yakni anak-anak, remaja dan pria dewasa, serta wanita.

Tradisi gulat okol di Desa Setro yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu tetap dipertahankan hingga kini sebagai khazanah budaya tradisi. Tradisi okol merupakan kebiasaan turun-temurun.

Dua warga mengikuti pertandingan gulat tradisonal (Okol) di Desa Setro Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jatim, Minggu (2/11). Okol merupakan olahraga tradisonal yang sudah berumur ratusan tahun dan menjadi bagian dari ritual Sedekah Bumi Desa Setro. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ss/Spt/14
Dua warga mengikuti pertandingan gulat tradisonal (Okol) di Desa Setro Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jatim, Minggu (2/11). Okol merupakan olahraga tradisonal yang sudah berumur ratusan tahun dan menjadi bagian dari ritual Sedekah Bumi Desa Setro. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ss/Spt/14

Penggembala kambing

Sesepuh desa setempat, Suhanadi (58), menceritakan, tradisi okol bermula dari kebiasaan anak-anak penggembala kambing. Sekitar 900 tahun lalu, kemarau panjang menimpa Desa Setro sehingga banyak tanaman mati. Begitu turun hujan, anak-anak penggembala kambing sangat riang.

Mereka pun dengan senang menyambut hujan dengan srokol-srokolan (dorong-dorongan hingga menjatuhkan lawan atau bergulat hingga salah satu terjatuh). Setelah itu, okol menjadi kebiasaan anak-anak penggembala sambil menunggu ternak gembalaannya. ”Kegiatan itu menjadi rangkaian sedekah bumi hingga kini,” kata Suhanadi.

Pergelaran gulat okol dilaksanakan di dekat persawahan, dipimpin penata gulat yang disebut belandang. Satu belandang menjadi wasit, sementara dua belandang lain mendampingi pegulat.

Selain itu juga ada belandang yang berperan sebagai tukang pijat untuk melemaskan otot-otot dan memberikan pengarahan cara bergulat yang benar. Belandang lain mengikatkan ikat kepala dan sabuk milik pegulat. Belandang mengenakan kaus loreng merah-putih, celana hitam, dan ikat kepala.

Saat bergulat, pegulat pria bertelanjang dada. Siapa yang berhasil menjatuhkan lawan lebih dulu dinyatakan menang. Jika sama-sama terjatuh, kedua pegulat dianggap tosan yang berarti seri, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Gulat diiringi dengan gamelan berirama ludruk sehingga menambah semarak suasana. Ratusan warga menonton di pinggir lapangan, menyoraki pegulat yang beradu kekuatan. (kompas)