Monumen Pers Nasional, rumah artefak jurnalis berbagai zaman

Monumen Pers Nasional merupakan monumen dan museum khusus pers nasional Indonesia yang didirikan tahun 1978 di Surakarta atau lebih dikenal dengan Solo, Jawa Tengah. Saat ini, museum tersebut dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Bangunan tempat berdirinya Monumen Pers Nasional dibangun sekitar tahun 1918 atas perintah Mangkunegara VII yang merupakan Pangeran Surakarta. Di masa lalu, bangunan ini bernama “Societeit Sasana Soeka” dan dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono. Bangunan tersebut digunakan sebagai balai perkumpulan dan ruang pertemuan.


Pegawai kontrak Monumen Pers Solo memotret surat kabar koleksi museum setempat di Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Proses alih media digital ini telah mencapai 10 persen dari koleksi-koleksi Monumen Pers Solo yang terdiri dari berbagai surat kabar di Indonesia dan asip-arsip nasional yang terbit pada tahun 1876 hingga sekarang. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.
Pegawai kontrak Monumen Pers Solo memotret surat kabar koleksi museum setempat di Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Proses alih media digital ini telah mencapai 10 persen dari koleksi-koleksi Monumen Pers Solo yang terdiri dari berbagai surat kabar di Indonesia dan asip-arsip nasional yang terbit pada tahun 1876 hingga sekarang. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.

Monumen Pers Nasional terletak di Jalan Gajah Mada 59, Surakarta, Jawa Tengah, di sudut Jl. Gajah Mada dan Jl. Yosodipuro. Letaknya di sebelah barat Istana Mangkunegaran. Kompleks museum terdiri dari bangunan asli Sasana Soeka, dua gedung berlantai dua, dan satu gedung berlantai empat. Di depan museum terdapat lapangan parkir dan dua papan pengumuman yang dilengkapi koran gratis. Bangunan Monumen Pers Nasional ini terdaftar sebagai Cagar Budaya Indonesia.

Pada tahun 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Soloche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi Indonesia. Tiga belas tahun kemudian, pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini dengan Soemanang sebagai ketuanya. Saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda, gedung ini dijadikan klinik perawatan tentara, kemudian menjadi kantor Palang Merah Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Pegawai kontrak Monumen Pers Solo memotret surat kabar koleksi museum setempat di Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Proses alih media digital ini telah mencapai 10 persen dari koleksi-koleksi Monumen Pers Solo yang terdiri dari berbagai surat kabar di Indonesia dan asip-arsip nasional yang terbit pada tahun 1876 hingga sekarang. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.
Pegawai kontrak Monumen Pers Solo memotret surat kabar koleksi museum setempat di Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Proses alih media digital ini telah mencapai 10 persen dari koleksi-koleksi Monumen Pers Solo yang terdiri dari berbagai surat kabar di Indonesia dan asip-arsip nasional yang terbit pada tahun 1876 hingga sekarang. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.

Tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan sepuluh tahun PWI, wartawan-wartawan ternama seperti Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin menyarankan pendirian yayasan yang akan menaungi Museum Pers Nasional. Yayasan ini diresmikan tanggal 22 Mei 1956 dan sebagian besar koleksi museumnya disumbangkan oleh Soedarjo Tjokrosisworo. Baru lima belas tahun kemudian yayasan ini berencana mendirikan museum fisik. Rencana ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Penerangan Budiarjo pada tanggal 9 Februari 1971.

Nama “Monumen Pers Nasional” ditetapkan tahun 1973 dan lahannya disumbangkan ke pemerintah pada tahun 1977. Museum ini resmi dibuka tanggal 9 Februari 1978 setelah dilengkapi beberapa bangunan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto mengingatkan pers akan bahaya kebebasan. Ia menyatakan, “Menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan”.

Siswa SD Jamaatul Ikhwan Solo melihat dan mengamati diorama peliputan jurnalistik yang dipajang di ruang pamer Monumen Pers, Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Dalam kunjungan tersebut, mereka belajar mengenal lebih jauh perihal jurnalistik sekaligus sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dipublikasikan oleh pers nasional. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.
Siswa SD Jamaatul Ikhwan Solo melihat dan mengamati diorama peliputan jurnalistik yang dipajang di ruang pamer Monumen Pers, Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Dalam kunjungan tersebut, mereka belajar mengenal lebih jauh perihal jurnalistik sekaligus sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dipublikasikan oleh pers nasional. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.

Museum ini memiliki lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah di Nusantara. Koleksinya juga meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon dan kentongan besar. Bagian depan ruang utamanya dihiasi pahatan kepala tokoh-tokoh penting dalam sejarah jurnalisme Indonesia, termasuk Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Ernest Douwes Dekker.

Di belakang ruang depan utama terdapat enam diorama yang menggambarkan komunikasi dan pers sepanjang sejarah Indonesia. Diorama pertama memperlihatkan berbagai bentuk komunikasi dan berita di Indonesia pra-kolonial. Diorama kedua memperlihatkan pers di era kolonial, termasuk surat kabar pertama di Hindia Belanda milik Vereenigde Oostindische Compagnie, Memories der Nouvelles (1615), surat kabar pertama yang dicetak di Hindia Belanda, Bataviasche Nouvelles (1744). Selain itu pada diorama kedua juga terdapat surat kabar bahasa Jawa pertama di Hindia Belanda, Bromartani (1855).

Diorama ketiga menggambarkan pers pada masa pendudukan Jepang, sedangkan yang keempat menggambarkan pers pada masa Revolusi Nasional, termasuk pembentukan PWI. Diorama kelima menunjukkan keadaan pers yang disensor besar-besaran saat Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Diorama terakhir menunjukkan kondisi pers setelah dimulainya era Reformasi tahun 1998 yang melonggarkan kebebasan pers.

Siswa SD Jamaatul Ikhwan Solo melihat dan mengamati patung-patung sejumlah tokoh pers nasional yang dipajang di ruang pamer Monumen Pers, Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Dalam kunjungan tersebut, mereka belajar mengenal lebih jauh perihal jurnalistik sekaligus sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dipublikasikan oleh pers nasional. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.
Siswa SD Jamaatul Ikhwan Solo melihat dan mengamati patung-patung sejumlah tokoh pers nasional yang dipajang di ruang pamer Monumen Pers, Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/11). Dalam kunjungan tersebut, mereka belajar mengenal lebih jauh perihal jurnalistik sekaligus sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dipublikasikan oleh pers nasional. ANTARA FOTO/Maulana Surya/Rei/mes/14.

Museum tersebut juga memiliki artefak milik para jurnalis dari berbagai zaman. Beberapa di antaranya adalah mesin ketik Underwood milik Bakrie Soeriatmadja, jurnalis Sipatahoenan dari Bandung dan baju yang dipakai Hendro Dubroto saat meliput pendudukan Indonesia di Timor Timur tahun 1975. Selain itu juga terdapat perlengkapan parasut Trisnojuwono ketika meliput gerhana matahari 11 Juni 1983, dan kamera Fuad Muhammad Syafruddin, jurnalis Bernas dari Yogyakarta yang dibunuh setelah mengangkat skandal korupsi tahun 1995. Artefak lainnya milik jurnalis seperti Mochtar Lubis masih disimpan di museum ini per Oktober 2013.

Museum ini juga memiliki pusat media. Di sana masyarakat bisa mengakses Internet gratis melalui sembilan komputer yang tersedia. Ada pula perpustakaan dengan koleksi 12.000 buku, ruang baca koran dan majalah lama yang sudah didigitalisasi di tempat, dan ruang mikrofilm yang sudah tidak digunakan lagi.

Monumen Pers Nasional secara rutin mengadakan seminar seputar pers, media, dan komunikasi. Museum ini menyelenggarakan pameran media bertema hari libur nasional, termasuk Hari Kemerdekaan, peringatan Sumpah Pemuda, dan Hari Pers Nasional. Pihak museum juga membawa sebagian koleksinya untuk pameran lain. Koleksi dan pustaka digitalnya dapat diakses masyarakat, sedangkan salinan cetak koran dan majalahnya hanya dapat diakses peneliti. (Ant)