Aci Keburan, tradisi adu ayam sebagai wujud syukur

Warga di Desa Adat Keluya, Payangan, Gianyar, Bali mempunyai tradisi unik yang disebut ‘Aci Keburan’ atau tajen (adu ayam) massal selama satu bulan penuh. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat.

Sejumlah warga menyaksikan dua ayam jago yang diadu dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/14.
Sejumlah warga menyaksikan dua ayam jago yang diadu dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/14.

Banyak warga yang antusias dan sejak pagi hari areal Pura Hyang Api sudah didatangi ribuan warga. Warga yang datang ke tempat ini tak hanya berasal dari Kabupaten Gianyar, tapi juga dari beberapa kabupaten lainnya di Bali dan dari Pulau Lombok.


Sebagian besar warga yang datang ke tempat ini merupakan ‘bebotoh’ (orang yang hobi adu ayam) dan membawa ayam jantan aduan. Beberapa warga ada yang membawa ayam jantan aduan lebih dari satu ekor.

Tradisi ‘Aci Keburan’ sendiri digelar di halaman luar pura. Ayam jantan aduan yang sudah dipasangi pisau taji tajam pada kakinya, diadu pada beberapa ‘kalangan’ atau arena adu ayam yang dibuat warga.

“Ayam yang mati pada prosesi ‘Aci Keburan’ atau adu ayam massal ini diyakini warga sebagai wujud persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Maha Pencipta. Persembahan ayam jantan lewat tradisi ini diyakini dapat memberi keselamatan pada hewan peliharaan warga yang ada di rumah,” jelas I Wayan Jawi, Bendesa Adat Kelusa seperti yang dilansir dari beritabali.com.

Dua warga saling mencocokkan ayam aduannya dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/nz/14.
Dua warga saling mencocokkan ayam aduannya dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/nz/14.

Tradisi ‘Aci Keburan’ yang berlangsung setiap enam bulan sekali ini akan berlangsung selama 35 hari atau satu bulan lebih.

“ Selain mengadu ayam jantan aduan, warga yang datang juga melakukan persembahyangan di pura ini guna memohon keselamatan baik sekala (alam nyata) maupun niskala (alam tidak nyata),” imbuh Jawi.

Sejumlah warga menyaksikan dua ayam jago yang diadu dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/14.
Sejumlah warga menyaksikan dua ayam jago yang diadu dalam upacara Aci Keburan di Desa Adat Kelusa, Payangan, Gianyar, Minggu (28/12). Tradisi kurban dengan mengadu ayam jago tersebut merupakan ritual kurban sebagai wujud syukur warga setempat kepada Dewa Brahma atau Dewa Agni atas hasil peternakan mereka yang telah memberi manfaat. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/14.