“Dosa” terbesar Poltas: Bermodus denda tilang besar…

Kalau pada artikel sebelumnya Momotmania menulis tentang “Dosa terbesar” bikers: Nggak bawa surat-surat, dilanjut tidak berhelm, maka kali ini Momotmania menuliskan coretan soal “dosa” terbesar oknum polisi lalulintas di jalanan. Apa? Menyebutkan denda tilang besar sebagai modus mengutip uang secara liar alias pungli. Nah!!

Ada cerita unik dialami seorang lelaki ketika melewati jembatan Semanggi arah Pancoran, Jakarta, pekan lalu sebagaimana ditulis Ainto Harry Budiawan di Metrotvnews.com. Mobil yang dikendarainya dihentikan petugas Polisi lalu lintas (Polantas) karena melanggar peraturan three in one.


Usai menunjukkan kelengkapan surat-surat kendaraan, oknum Polantas itu bertanya. “Mau bagaimana ini? Ditilang atau dibantu?”.

Lantas, oknum Polantas itu pun menunjukkan pasal pelanggaran dan denda tilang melanggaran jalur Three In One. Nominal Rp 750.000 adalah angka maksimal yang harus dibayarkan sang pelanggar.

“Lalu Polantas nanya lagi, ada berapa kamu, biar cepat urusannya, sudah mau hujan ini. Akhirnya saya beri Rp100.000 dan surat-surat kendaraan pun dikembalikan,” katanya.

Kejadian yang dialami pria yang ogah disebut namanya ini masih sering ditemukan di lapangan. Denda tilang yang cukup tinggi, menjadi senjata bagi oknum Polantas untuk mendapatkan uang dari pelanggar. Tentu saja uang ini masuk ke kantong pribadi oknum Polantas.

Kapolri akui Pungli polisiMemang pihak Kepolisian sudah pernah menyatakan akan memberantas oknum Polantas yang nakal, sehingga tidak ada lagi kejadian seperti ini.

Namun kenyataannya berbeda di lapangan, atas kebutuhan pribadi dan keengganan pelanggar berurusan dengan birokrasi mengurus tilang, membuat kejadian ini akan terus berulang.

Ketika Pak Timur Pradopo masih jadi Kapolri, dia mengaku tak menutup mata terhadap masih adanya oknum polisi lalu lintas yang melakukan pungutan liar di jalan raya. Kapolri tak menampik anggotanya yang melakukan perbuatan tercela itu. “Di jalan raya masih ada pungli oleh oknum. Kami tidak menutupi itu,” ujarnya.

Untuk mencegahnya, Kapolri berharap selain pengawasan internal, masyarakat berperan aktif melakukan pengawasan terhadap ulah oknum aparat polisi lalu lintas di jalan raya. Dalam sambutan pada sebuah Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Polri, jenderal polisi bintang empat itu menegaskan agar polantas melakukan teguran simpatik kepada pengguna jalan yang melanggar lalu lintas, bukan sebaliknya melakukan pungli.

Polantas perlu melakukan pengawasan intensif terhadap pelanggar disiplin yang berpotensi menimbulkan kemacetan lantas dan kecelakaan. Lebih jauh, Timur mengatakan Polantas harus mampu menanggulangi dan mengurai kemacetan lantas yang makin parah.

Timur juga berharap aparat kepolisian mengubah mindset dan kultur ke arah tugas yang lebih profesional. “Ubah mindset dan cultureset anggota Polantas ke arah pelaksanaan tugas yang profesional, cerdas, bermoral, humanis dan modern melalui peningkatan kompetensi pembinaan moral dan agama,” pungkas Pak Timur yang pernah juga menjadi Kapolda Metro Jaya itu.

So what? Ya pastilah, agar terhindar dari masalah seperti ini, para soabat riders dan bikers harus selalu taat aturan. Ya kan? Pastilah….